Tarif dasar listrik naik, harga makanan olahan naik 5 %

Ditulis 15 Mar 2010 - 02:33 oleh Banyumas1
|
Berita Kategori
Tak Berkategori
63
Dalam Tag

plnJAKARTA – Bersiaplah dengan kenaikan tarif dasar listrik (TDL). Kecuali akan menambah pengeluaran rutin Anda, bersiap juga dengan bertambahnya biaya hidup karena kenaikan harga-harga barang kebutuhan. Salah satunya adalah harga jual produk makanan dan minuman olahan, yang  akan mengalami kenaikan hingga 5% jika rencana kenaikan tarif dasar listrik dan pemangkasan pasokan gas direalisasikan.

Hal ini disampaikan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPPMI) Adhi S Lukman. Menurutnya, gas dan listrik merupakan komponen sangat penting dalam industri makanan dan minuman olahan. “Kami tidak punya pilihan lain. Kalau gas dipangkas dan TDL naik, kami juga mesti menaikkan harga jual,” katanya.

Adhi menjelaskan, komponen energi di industri makanan dan minuman mencapai 10%. Jika gas jadi dipangkas dan TDL naik, maka harga produk olahan akan naik sebesar 5% mulai Juli nanti. Dari sisi pengusaha, lanjutnya, berharap krisis gas akan segera teratasi maksimal dalam dua bulan ke depan. “Jika tidak konsumen yang menjadi korban dengan tingginya harga jual produk. Akibatnya, target inflasi yang rendah akan sulit tercapai,” katanya.

Ia mengungkapkan, PGN telah meminta beberapa pengusaha makanan dan minuman untuk meneken kontrak baru dengan suplai gas yang akan dipangkas pada akhir bulan ini. Pengurangan gas tersebut bervariasi dari 20% hingga 40 % dan berlaku mulai 1 April 2010. Kontrak baru tersebut dievaluasi setiap 6 bulan.

Kontrak tersebut, lanjut Adhi, cukup memberatkan bagi kalangan pengusaha makanan dan minuman. Belum lagi adanya persyaratan tambahan yang diberikan oleh PGN yaitu adanya bank guarantee untuk pembelian gas. Persyaratan ini sebelumnya tidak ada. “Dengan persyaratan jaminan dari bank tersebut, berarti pengusaha harus merogoh kocek lebih dalam, meski merupakan pelanggan lama PGN,” ujarnya.

Meski terkendala dengan pasokan energi, namun Adhi mengatakan bahwa hingga saat ini belum ada investor yang membatalkan atau menunda rencana ekspansi di Indonesia. “Misalnya, Jepang. Beberapa investor negara itu tengah melirik beberapa mitra lokal untuk membangun joint venture dalam mengalihkan sebagian industri agro dari China ke Indonesia,” katanya.(BNC/ist/mi)

Tentang Penulis

Leave A Response