Hantu Pemangsa Kucing | Cerpen oleh Puji Ambarwati

Ditulis 23 Mei 2017 - 23:42 oleh Banyumas1

SEMULA Edi menganggap perginya dua kucing piaraan dari rumahnya sebagai hal biasa. Mungkin saja pindah rumah, karena kucing memang memiliki tradisi berpindah-pindah tempat. Dia punya kucing lagi yang ketiga dan tiba-tiba hilang lagi. Edi mulai berpikir, mungkin dibawa orang yang menyukai kucing lucu miliknya. Saat kucing ke empat tak ditemukan di rumahnya, Edi mulai merasa aneh. Kenapa begitu memiliki kucing baru, hanya beberapa hari lenyap lagi. Akhirnya ketika kucing ke lima hilang lagi. Edi sudah memastikan, binatang kesayangannya itu lenyap dimakan hantu pemangsa kucing.

Dugaan itu bukan tanpa alasan. Hilangnya satu persatu kucing tersebut sama sekali tidak bisa diterima akal. Sebagai kucing rumahan, binatang itu jarang keluar rumah. Kucingnya yang ke tiga hingga ke lima bahkan hanya mengenal Edi, istri dan keluarga adiknya yang rumahnya berada di samping rumah.

Edi pernah mendengar ceritera dari kakeknya tentang hantu kucing yang memang suka memangsa kucing. Apakah benar atau sekedar dongeng, kata kakek, hantu itu merupakan reinkarnasi dari para tikus-tikus yang mati mengenaskan akibat siksaan para kucing sebelum menyantapnya. Jadi mereka datang dari dunia lain untuk melakukan aksi balas dendam.

Kucing ke tiga hingga ke lima, tak mau ke luar rumah, bahkan untuk bermain ke rumah samping. Karena kerap diusir sama keluarga-keluarga Edi yang dikenal sangat alergi dengan kucing. Tetapi kucing itu tetap saja raib. “Hem…sudah pasti mahluk itu,” geram Edi.

Edi merasa tertantang. Beraninya hantu itu beraksi di rumahnya. Apakah mahluk ghaib itu tidak tahu, lelaki yang sering dipanggil dengan sebutan Ki itu dikenal sebagai dukun ampuh di kampungnya.

Warga sekitar juga berpikir, jika memang kucing itu dicuri, pelakunya tergolong nekad. Bagaimana tidak, konon jika kucing itu tidak dikembalikan, maka sekali Edi bersumpah, maka laknat akan menimpa pelakunya.

Namun warga sekitar sendiri selama ini merasa belum pernah melihat secara nyata keampuhan Edi. Malah sebaliknya, beberapa kali ayam milik dukun itu hilang dari kandangnya dan tak pernah kembali apalagi ditemukan pelakunya. Tak heran jika mereka yang percaya dan datang ke rumah Edi untuk merdukun hanyalah orang orang di luar desa tersebut.

Edi tetap berpikir jika hantu-hantu itulah yang memangsa kucing piaraannya. Sejak pikiran aneh itu muncul, wajah Edi kerap terlihat gelap, kakinya selalu terpasang kuda-kuda, mulutnya tak pernah berhenti bergerak, bahkan warga pernah melihat telinganya seperti mengeluarkan asap.

Belakangan, bau dupa dan kembang jelas menyengat dari arah rumah tua yang berada di pinggir desa itu. Sejak itu orang jarang melihat Edi keluar rumah. Saat tengah malam dari arah rumah itu kerap terdengar suara seperti orang bergumul, kadang terdengar juga suara desisan seperti ular yang sesekali diselingi orang batuk-batuk.

Mungkin Edi setiap malam bergumul dengan mahluk gaib yang disetnya sebagai hantu pemangsa kucing. Lelaki yang selalu menggunakan iket di kepalanya itu benar-benar dendam. Ia tak sekedar ingin mengusir hantu-hantu itu dari rumahnya, tetapi mungkin ingin sekaligus membinasakannya. Edi juga ingin menunjukan bukti keampuhannya kepada warga sekitar yang selama ini memandangnya sebelah mata.

Sudah tak terhitung pertarungan antara Edi dengan hantu-hantu itu berlangsung setiap malam. Warga tak pernah tahu kapan akan berakhir dan siapa yang bakal menjadi pemenangnya. Bahkan Titin adik kandung Edi yang rumahnya bersebelahan dan kerap berada di rumah itu, sudah tak pernah lagi mau singgah. Wanita yang dikenal sebagai dokter itu, sepertinya sangat bertolak belakang dengan jalan pikiran kakaknya.

“Mas, kenapa harus percaya hal-hal seperti itu. Itu perbuatan syirik dan dimurkai Allah. Berpikir yang rasional saja mas,” ujar Titin .

Kalimat itu jika dihitung sudah ratusan kali di lontarkan, namun Edi tak pernah menggubrisnya. Titin seperti menyerah. Akhirnya dibiarkan saja sang kakak melakukan perbuatan itu.

Hingga akhirnya suatu pagi, Edi terlihat tergopoh-gopoh menggendong istrinya keluar rumah. Mami dibawa ke rumah sakit, begitu yang terdengar kabar dari mulut ke mulut. Wanita yang mendampingi Edi selama lima belas tahun tanpa anak itu sakitnya cukup parah. Edi yang tak terlalu banyak bicara itu, hanya berucap, sejak semalam Mami sesak nafas dan terjatuh ke lantai.

***

Titin berdiri disisi ranjang adik iparnya yang tergolek lemas. Edi duduk bersila di pojok kamar. Titin enggan bicara dengan kakaknya yang terlihat seperrti sedang berdoa. Namun saat wanita itu mau keluar kamar, terdengar suara menggeram dari mulut Edi.

“Keparat itu tak hanya ingin mengambil kucing-kucingku, tetapi juga istriku. Ini sudah kelewatan. Aku tak akan pernah berhenti melawannya. Jika tidak dilawan, kita semua akan menjadi korbannya. Termasuk kamu Tin,” Edi memandang adiknya serius.

“Kalau memang bisa disembuhkan dengan caramu mas, kenapa Yu Mami dibawa ke rumah sakit. Sembuhkan saja dengan caramu,” Titin seperti kesal dengan pola pikir kakaknya.

Dokter itu tak habis pikir, kenapa sakitnya Yu Sum harus dikaitkan dengan hantu-hantu.

“Keparat itu sebenarnya sudah mulai kalah, tetapi dia licik dan mencoba menyerang istriku yang tidak memiliki kemampuan apa-apa. Dasar iblis. Pengecut dan tak mau berhadapan langsung dengan saya,” Edi menjelaskan kepada adiknya.

Titin hanya menghela nafas mendengar cerita Edi dan membiarkan kakak satu-satunya itu dengan argumentasi kleniknya.

Edi juga menjelaskan, saat pertarungan berlangsung melawan lebih dari empat hantu, nafas istrinya tiba-tiba tersengal-sengal dengan mata yang terbelalak. Istrinya meminta segera dibawa ke rumah sakit. Kini Mami harus terbaring dengan mulut yang setiap kali jika penyakitnya kumat harus segera menghirup oksigen.

Titin lebih memilih diam dan tidak menanggapi penjelasan kakaknya. Wanita ini berpikir, kenapa hanya soal kucing, kakaknya harus terjebak jauh dengan pikiran yang dianggapnya tak rasional itu. Memang selama ini Titin satu-satunya orang yang menentang siapapun yang memelihara kucing. Apalagi sang kakak yang rumahnya hanya berjarak lima meter.

Tak jarang kedua kakak beradik ini bertengkar hanya karena seekor kucing. Sampai suatu hari wanita yang juga tak memiliki anak itu ingin pindah sejauh mungkin dari rumah kakaknya. Tetapi kedua orang tua mereka bersikeras melarang keduanya berjauhan. Agar Titin mau bertahan, kedua orang tuanya juga sudah berulangkali meminta Edi tak memelihara kucing, namun permintaan itu tak digubrisnya.

Meski sudah berulangkali kucingnya hilang, suatu hari Edi yang sejak kecil sudah menyukai binatang itu kembali medapatkan kucing yang baru.

Sekarang persoalan baru muncul lagi. Edi tak hanya bersikeras memelihara kucing, tetapi juga bersikap aneh. Tak hanya mempercayai kelima kucingnya dimangsa hantu. Tetapi istrinya konon juga bakal menjadi sasaran hantu tersebut. Bukan hanya adiknya yang heran dengan cara berpikir Edi, tetapi warga sekitar juga mulai geli melihat perilaku lelaki tersebut.

Perubahan perilaku Edi memang dirasakan sejak istrinya selalu gagal melahirkan anak. Tiga kali melahirkan, namun jabang bayi selalu meninggal. Upaya mendapatkan anak gagal, Edi frustasi dan perlahan-lahan mulai menyukai dunia klenik hingga akhirnya memproklamirkan dirinya sebagai dukun.

***

Titin semula berharap, dengan dirawatnya Mami di rumah sakit, Edi mulai berubah pikiran. Ternyata tidak. Penjelasan dokter tentang penyebab penyakit istrinya tak pernah dipercayainya. Edi justru makin menggila. Di kamar pasien yang dihuni istrinya, Edi beraksi, membakar kemenyan dan menyebar kembang di pojok-pojok kamar. Jika malam hari, istrinya kerap dikejutkan dengan suara gaduh suaminya yang tengah bertarung dengan para hantu pemangsa kucing itu.

“Mas, hentikanlah. Asap kemenyan itu justru membuat dadaku makin sesak,” tiba-tiba terdengar suara Mami.

Suara keras itu sama sekali tak terdengar di telinga Edi. Laki-laki yang diselimuti dendam ini tengah asyik bertarung dengan para hantu pemangsa kucing. Mulutnya terus bergerak-gerak sementara tangannya sesekali bergerak seperti sedang menangkis.

Mami kembali kumat. Nafasnya tersengal-sengal. Mukanya memerah menahan sakit. Sementara tangannya mencoba meraba tombol pemanggil dokter yang berada di sisi ranjangnya. Hanya dalam waktu kurang dari lima menit, seorang dokter dan tiga perawat datang. Di belakang mereka juga muncul Titin dengan pakaian dinasnya putih-putih.

Tim medis itu terkejut saat membuka kamar dengan suasana berantakan serta bau kemenyan yang menyengat. Mereka buru-buru menggunakan masker. Petugas lain membuka kamar lebar-lebar dan mengusir asap itu keluar. Mereka melihat seorang pria dengan iket di kepala tubuhnya terlentang seperti tengah berusaha melepaskan diri dari cengkeraman.

Edi sibuk dengan pertarungannya yang belum juga usai. Tiba-tiba cengkeraman itu seperti terlepas. Mendadak mata Edi tertuju pada Titin, adiknya. Matanya memerah, mulutnya menggeram seperti harimau. Kedua tangan Edi berusaha mencengkram leher Titin. Sejumlah perawat berusaha menghalanginya.

“Kamu pemimpin hantu-hantu itu. Keparat. Pengecut. Ayo lawan aku. Kamu yang telah memangsa kucing-kucingku dan kini akan membunuh istriku. Mampuslah kau,” Edi terus menggeram dan hampir berhasil menerkam adiknya.

Wajah adiknya yang seolah berubah menjadi hantu dengan mulut penuh darah dan dipenuhi sisa-sisa bulu kucing.

Beberapa petugas security rumah sakit akhirnya berhasil menjagal Edi hingga terduduk dan bersandar di dinding.

Usai mengatasi rasa sesak Yu Mami, dokter menjelaskan kepada Edi, bahwa Yu Mami memiliki riwayat penyakit asma. Penyakit ini antara lain diduga berasal dari lu kucing. “Ini juga terkena virus toxoplasma yang berasal dari kucing dan berakibat kemandulan, Jadi bukan penyebab lain yang non medis,” ujar dokter.

Dokter itu juga menjelaskan, bahwa Titin juga terkena virus kucing dan bisa mengalami kemandulan atau kematian bayi saat lahir. Tak heran jika wanita itu sangat membenci hewan bernama kucing.

Titin terdiam. Wajah wanita ini sesekali memandangi kakaknya dan Yu Mami. Tak sadar, wanita ini menangis terisak-isak. Entah apa yang ada dalam benaknya. Semua yang berada di kamar menjadi terdiam. Titin mendekati Edi. Suaranya tiba tiba mengejutkan semua yang ada di kamar: “Maaf mas, sebenarnya sayalah yang selama ini telah membunuh semua kucing-kucingmu itu,”******

Puji Ambarwati, guru di SMK Negeri 1 Purwojati. Tinggal di Ajibarang, Banyumas.

Tentang Penulis

Leave A Response