Pemerintah Harus Beralih Dari Microsoft ke Linux

Ditulis 12 Mar 2010 - 01:11 oleh Banyumas1

PURBALINGGA  – Selama ini, perangkat lunak (software) komputer di Indonesia, termasuk yang digunakan oleh aparat pemerintahan) sebagian besar menggunakan produk Microsoft Windows. Padahal, sejatinya Microsoft bukan perangkat lunak yang boleh digunakan gratisan (closed source). Lebih buruk lagi, di Indonesia, sebagian terbesar perangkat lunak dari Microsoft itu juga bukan produk yang orisinil alias hasil bajakan.

“Karenanya, seluruh SKPD (satuan kerja perangkat daerah) diwajibkan bermigrasi ke software produk Linux yang merupakan produk open source. Pemerintah punya waktu dua tahun untuk bermigrasi dari Microsoft ke linux. Pemerintah daerah menyediakan anggaran untuk migrasi,” tutur Ir. Riki Arif Gunawan, Kasubdit perangkat lunak Direktorat Sistem Informasi dan Telematika Depkominfo RI, pada acara sosialisasi Open Source Software (OSS) di Operation roomkompleks Setda Purbalingga,.

Riki Arif Gunawan menandaskan, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (Men PAN) telah menerbitkan surat edaran nomor SE/01/M.PAN/3/2009 tanggal 30 Maret 2009 tentang Pemanfaatan Perangkat Lunak Legal dan Open Source Software. Dalam SE itu disebutkan, agar seluruh pimpinan instansi pemerintah pusat dan daerah menghapus semua perangkat lunak yang tidak legal. Selanjutnya, menggunakan free Open Source Software (FOSS) yang berlisensi bebas dan legal sebagai pengganti perangkat lunak illegal yang selama ini digunakan.

Pemerintah juga diberi batas waktu hingga 31 Desember 2011 sudah menggunakan perangkat lunak legal. Agenda pentahapan migrasi dari Microsoft ke Linux, beserta biaya yang timbul akibat kegiatan itu, dibebankan kepada instansi masing-masing.  “Itu perlu dilakukan untuk menghindari gangguan pelayanan publik akibat pelanggaran undang-undang nomor 19 tahun 2002 tentan Hak Cipta,” ujar Riki Arif Gunawan.

Pada kesempatan yang sama, Nurul Hidayat memaparkan, pengertian OSS, yakni perangkat lunak yang kode sumber programnya tidak dirahasiakan alias terbuka. Perangkat lunak itu bisa berupa kode sumber yang dapat dipahami cara kerjanya oleh manusia, dan kode mesin (binary) yang hanya dapat dijalankan oleh mesin komputer (prosesor).

Pembuat OSS menyediakan kode sumber program di internet atau melalui CD dan DVD sehingga orang lain dapat mempelajari cara kerjanya, dapat memperbaiki atau mengembangkan lebih lanjut, dan tentunya dapat menggunakan dan menyebarluaskannya,” ujar Nurul
Berbeda dengan Closed Source. Pembuatnya merahasiakan kode sumber program komputernya. Pembuat program closed source hanya menyediakan kode mesin (binary) dan biasanya meminta bayaran atau lisensi kepada pihak lain yang ingin menggunakan program ciptaannya.  (BNC/tgr)

Tentang Penulis

Leave A Response