Berjalan dengan Anjing Ciptaan-Mu Saja Tidak Pantas, Bagaimana Bisa Pantas Berjalan dengan-Mu?

Ditulis 07 Mei 2017 - 23:31 oleh Banyumas1

 

 

 

Cerita Sufi. Tidak sepatutnya kita merasa lebih dari yang lain. Ini sebuah cerita menyentuh, untuk menjadi renungan dan muhasabahah diri masing-masing…

Di tengah perjalanan malamnya, Al-Imam Abu Yazid al-Busthami bertemu dengan seekor anjing.

Dengan sigap, diangkatlah gamisnya, dengan maksud agar tidak terkena najisnya.

Spontan anjing tersebut berhenti dan memandang Abu Yazid.

Atas kuasa Allah, Abu Yazid mendengar anjing tersebut berbicara kepadanya:

“Wahai Yazid, tubuhku ini kering, tidak akan menimbulkan najis kepadamu.

Jika pun terkena najisku, engkau tinggal membasuhnya 7 kali, dengan air dan tanah. Maka najisku akan hilang, namun jika engkau angkat gamismu, karena berbaju manusia, merasa lebih mulia dan menganggap aku hina, maka najis di dalam hatimu, tidak akan terhapus, walau kau bersihkan dengan air dari 7 samudera”.

Abu Yazid terkejut mendengar perkataan anjing tersebut.

Dia menunduk malu, dan segera meminta maaf kepada si anjing.

Diajaknya anjing tersebut bersahabat dan mengikuti perjalanannya, namun anjing tersebut menolak.

Kemudian anjing itu berkata:

“Engkau tak mungkin bersahabat dan berjalan dengan aku, karena orang-orang yang memuliakanmu, akan mencemooh kamu dan melempari aku dengan batu.

Aku juga tidak tahu mengapa, mereka menganggap aku hina, padahal aku telah berserah diri, kepada Pencipta-ku atas wujud ini.

Lihatlah…

Tidak ada yang aku bawa, bahkan sepotong tulang sebagai bekalku saja tidak.

Sementara engkau masih membawa bekal sekantong gandum”.

Kemudian anjing tersebut berlalu..

Dari jauh Abu Yazid memandangi anjing tersebut, berjalan meninggalkannya.

Tidak terasa air mata Abu Yazid menetes, dan ia berkata dalam hati:

“Ya Rabb…

Untuk berjalan dengan seekor anjing Ciptaan-Mu saja, aku merasa tidak pantas.

Bagaimana aku bisa pantas, berjalan dengan-Mu?

Ampunilah aku…

Sucikanlah Najis di dalam Qalbu-ku ini…”.

Masyaa Allah… sungguh menyentuh cerita di atas.

– Jangan pernah MERASA LEBIH MULIA terhadap seluruh Ciptaan Allah.

– Jangan pula merasa Lebih Baik, Lebih Terhomat dari pada orang lain, karena Allah melihat QALBU-mu bukan Penampilan Fisik dan Lahirmu.

– Baiknya Hati tidak perlu diungkapkan, Allah Maha Mengetahui atas Ketulusan dan Keikhlasan kita.

– Tawadhu’lah di dalam Iman dan Akhlak, Beningkan Hati dengan Dzikirullah dan Qiyamul Lail.

Semoga Allah SWT menjadikan QALBU kita Bening dan Bersih dari segala Kotoran dan Penyakit Lahir dan Bathin. (BNC/*)

Tentang Penulis

Leave A Response