Bupati TBS: Arep Diomong Apa, Terserah!

PURBALINGGA – Keberhasilan pelaksanaan Jaminan Perlindungan Kesehatan Masyarakat (JPKM) menjadi bukti kemandirian masyarakat Purbalingga. Menurut Bupati Triyono Budi Sasongko, JPKM mendidik masyakat tidak selalu menggantungkan segala sesuatu kepada anggaran yang dikelola pemerintah.

“Saya paling tidak setuju dengan program pendidikan gratis, biaya kesehatan gratis, semua serba gratis! Ini membuat masyarakat manja dan cengeng. Bahayanya kalau ganti kepemimpinan, lalu program serba gratis ini dihilangkan, maka akan sangat memukul masyarakat karena tidak ada kemandirian!” ujar Bupati berapi-api di hadapan camat dan kades se-Kabupaten Purbalingga, dalam acara Penyerahan Hadiah Pelunasan PBB di Pendopo Dipokusumo, Selasa (9/3).

Menurut Bupati, dalam pengelolaan JPKM, masyarakat menyerahkan premi di awal (pra bayar) yang berasal dari kantong mereka sendiri, meskipun untuk strata II masih disubsidi APBD Kab sebesar 50%. Jika anggota masyarakat sakit, sebenarnya dia menggunakan uangnya sendiri, sekaligus disubsidi oleh anggota masyarakat yang lain dengan prinsip ’si sehat membantu si sakit, dan si kaya membantu si miskin’.

”Makanya, saya menghimbau kepada semua camat dan kades, untuk memotivasi kader kesehatan dan masyarakat untuk ikut JPKM. Karena ini sangat bermanfaat bagi masyarakat sendiri. Ingat, hari terakhir perpanjangan pendaftaran tinggal 8 hari lagi, 16 maret 2010. Soal JPKM saya memang rewel! Arep diomong apa, terserah!” tegas Bupati disambut riuh tepuk tangan hadirin.

JPKM Antisipasi Kanker Rahim

Bupati juga meminta masyarakat untuk memanfaatkan JPKM dalam memelihara kesehatannya. ”Terutama ibu-ibu. Tolong ’onderdil’-nya dijaga. Dengan JPKM, pemeriksaan pap smear untuk mendeteksi dini kanker rahim tidak dipungut biaya. Jangan sampai, gara-gra bau, periksa, tau-tau sudah stadium empat,” jelas Bupati.

Seperti yang diketahui, kanker rahim sampai saat ini menjadi pembunuh nomor satu bagi perempuan di Indonesia, diikuti kanker payudara. Banyak perempuan dari kalangan keluarga tidak mampu harus meregang nyawa karena keterbatasan biaya untuk mengatasi kanker rahim yang dideritanya.

Kanker rahim bisa dicegah jika masih stadium ringan langsung diatasi. Deteksi gejala kanker rahim hanya terlihat dalam pemeriksaan pap smear. Tingginya kasus kanker rahim, menurut Bupati sangat mungkin disebabkan mahalnya biaya untuk pemeriksaan pap smear di rumah sakit atau klinik kesehatan.

”Kalau ibu-ibu ini peserta JPKM, bisa gratis. Katanya suka yang gratis, makanya dimanfaatkan sebaik-baiknya. Karena yang namanya kanker sulit diobati, apalagi kalau sudah parah,” jelasnya. (BNC/cie)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.