Unsoed Berdayakan Petani Munggangsari

Ditulis 09 Mar 2010 - 16:25 oleh Banyumas1

PURWOKERTO–Petani di Desa Munggangsari, Kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo kini mulai meningkat taraf hidupnya. Hal ini seiring upaya pemberdayaan masyarakat setempat oleh  Lembaga Penelitian Universitas Jenderal Soedirman (Lemlit Unsoed) Purwokerto yang dinilai  berhasil.Saat ini, Lemlit Unsoed sedang mengembangkan budidaya ayam broiler dan budi daya bawang merah di desa itu.
Humas  keluarga alumni Unsoed, Ir Alief Einstein kepada BNC, Senin (8/3) mengemukakan,  panen perdana ayam broiler di lahan pasir pantai hasil demplot program pemberdayaan masyarakat eks tambang pasir besi di Desa Munggangsari akan dilaksanakan Rabu (10/3) besok.Bupati Purworejo dan sejumlah pejabat dari Jakarta diharapkan hadir dalam panen perdana ini.
Sebelumnya, panen perdana bawang merah sudah dilakukan pada awal Februari lalu, di mana di Desa Munggangsari  untuk satu hektar menghasilkan  12,34 ton bawang merah.
Sejumlah dosen Unsoed yang  terlibat dalam pemberdayaan petani di Desa Munggangsari, yakni  Prof Edy Yuwono, PhD (Ketua Lembaga Penelitian Unsoed), Ir. Purnama Sukardi, PhD (Dekan Fakultas Sains dan Teknik Unsoed),  Ir. Budi Rustomo,M.Rur.Sc, .,PhD. (Kepala Pusat Penelitian Pedesaan Unsoed),  Dr.Ir.Saparso,MP (Dosen Fakultas Pertanian UNSOED), dan sejumlah dosen lainnya.
Dijelaskan, budidaya ayam broiler dan bawang merah di Desa Munggsari dinilai  berhasil, karena para petani merasakan peningkatan penghasilannya setelah memelihara ayam broiler dan bertani bawang merah.”Sebelumnya petani di situ hanya mengandalkan hidup dari menambang pasir besi, yang hasilnya tak seberapa. Setelah beralih memelihara aya broiler, dan sejumlah petani lainnya bertanam bawang merah, kini penghasilan mereka meningkat drastis,” ujar Alief Einstein yang terlibat  aktif dalam pemberdayaan petani di Desa Munggangsari.
Koordinator lapangan budidaya ayam broiler pada lahan pasir pantai eks tambang pasir besi di Desa Munggangsari,  Ir. Winarto Hadi, MS mengemukakan,
respon masyarakat Munggangsari untuk memelihara ayam broiler secara intensif di bawah  bimbingan Lemlit Unsoed, sangat baik, sehingga hasilnya memuaskan.
“Pemberdayaan masyarakat pada usaha peternakan dengan kandang di atas lahan pasir pantai di Desa Munggangsari  melalui budidaya ayam broiler dapat dikatakan berhasil dengan memuaskan,” ujarnya.
Hal itu didasarkan pada kenyataan, karena  lokasi kandang  jauh dengan tempat tinggal atau pemukiman penduduk lebih kurang 1.111 meter, udaranya segar atau sirkulasi udara sangat baik, sarana transportasi baik, dan  yang lebih penting yaitu jauh dari lalu lintas (transportasi ternak) sehingga ayam broiler tidak mudah terkontaminasi penyakit.
Kemudian, lahan pasir pasir pantai cepat mengeringkan feses sehingga sedikit menimbulkan bau yang tidak sedap.  Sedangkan temperatur udara yang relatif tinggi (38 – 40 derajat Celcius), di atasi dengan cara menyemprotkan air (kabut air) di dalam kandang.  “Cara tersebut dapat mengurangi panting pada ayam broiler.  Di samping itu stres pada ayam broiler akibat panas dapat dikurangi, dengan cara penyemprotan air dilakukan 2 kali sehari yaitu pukul 10.00 dan 13.00 WIB,” ujarnya..
Umur ayam broiler yang dipelihara pada kandang di atas lahan pasir pantai di Desa Munggangsari sampai dengan tanggal 5 Maret 2010 adalah 30 hari, seharusnya akan dilaksanakan panen perdana di lakukan pada hari rabu tanggal 10 Maret 2010.  Namun melihat pertumbuhan ayam broiler yang baik (rataan bobot badan pada umur 30 hari sudah mencapai 1,95 kg) dan juga melihat kepadatan ayam yang tinggi, maka pada tanggal 06 Maret 2010 sudah dilakukan penjarangan (menjual sebagian ayam broiler) agar stress pada ayam dapat dikurangi.
“Sebab, kepadatan kandang yang terlalu tinggi dapat menyebabkan stress dan mortalitas dapat semakin bertambah.  Mortalitas ayam broiler yang dipelihara demgan kandang di atas lahan pasir pantai di Desa Munggangsari relatif kecil/di bawah standar yaitu 2,50 %, sedangkan di peternak secara umum mencapai 5 –  5,6 %,” ujarnya. (BNC/tgr)

Tentang Penulis

Leave A Response