BI Purwokerto Bantu Pesantren Tanam Padi Hazton

Ditulis 21 Apr 2017 - 14:16 oleh Banyumas1

 

BanyumasNews.com, BANYUMAS – Bupati Banyumas Achmad Husein memimpin pindah tanam perdana padi Hazton, Kamis (20/4/2017) di lahan milik Ponpes Miftahul Huda, Desa Pesawahan, Kecamatan Rawalo, Banyumas. Penanaman padi Hazton itu yang diprakarsai oleh Bank Indonesia.

Kepala Kantor Perwakilan BI Purwokerto Ramdan Dani Prakoso mengatakan, saat ini BI menjalin kerja sama dengan Kementerian Agama membangun kemandirian ekonomi dan pangan di pesantren.

“BI berharap pesantren bisa menjadi inti plasma pengembangan ekonomi di tengah masyarakat, pesantren diharapkan ikut menanam padi dengan menggunakan metode hazton, karena metode ini mampu menaikkan produktivitas,” katanya.

Untuk uji coba tanam padi metode Hazton, kali ini pada lahan pertanian seluas 10 hektar, 5 ha milik Ponpes Ponpes  Miftahul Huda dan 5 ha milik petani di desa Pesawahan dan sekitarnya.

BI Purwokerto Memprakarsai Penanaman Padi Hazton

Kegiatan ini merupakan Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) Tematik Tahun 2017, pindah tanam perdana untuk Program Kemandirian Ekonomi.

BI Purwokerto kerjasama dengan Tim Pemantau Inflasi Daerah, sebelumnya juga melakukan kerja sama dengan Ponpes Miftahul Huda Rawalo, dalam program pengenalan e-Money (uang elektonik)

“Program pertanian budidaya tanaman padi metode Hazton, sudah kami uji cobakan di beberapa wilayah di eks karsidenan Banyumas. Pada intinya untuk menjaga ketersediaan beras dan kestabilann harga sekaligus meningkatkan pendapatan petani.” Kata Ramdan.

Bupati Banyumas Achmad Husein, mengucapkan terima kasih kepada BI yang ikut bersama-sama meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Dengan meningkatkan hasil padi nantinya akan memberi kesejahteraan pada para santri, sehingga para santri akan semakin termotivasi dalam belajar dan mengaji,” kata Bupati

Hanan Maskhuri pengasuh Ponpes Miftahul Huda mengatakan, awalnya tidak semua petani di desa Pesawahan kecamatan Rawalo   mau menerima  metone Hazton, tetapi sekarang setelah tahu malah berebut pengin mencoba.

“Mereka menganggap repot menggunakan  pupuk kandang, tetapi setelah tau hasilnya lebih menguntungkan, para petani sangat antusias. Para santri di ponpesnya  juga kami ajari cara bertani dengan metode Hazton. Mereka langsung praktek.” katanya. (BNC/nan)

 

Tentang Penulis

Leave A Response