Jarwo, ‘Lurah’ Kuat dari Kampung Laut: 14 Tahun Menjabat Kades

Ditulis 14 Apr 2017 - 19:31 oleh Banyumas1

Jarwo, atau kita panggil Kang Jarwo, yang memimpin desa Ujung Alang saat ini, orang yang asik diajak ngobrol. Penulis terhitung sudah tiga kali bertemu Jarwo, yang pertama pada tanggal 25 Maret 2017, yang kedua pada tanggal 30 Maret 2017, dan terakhir saat berkunjung ke Ujung Alang 7-8 April 2017 lalu.

Orangnya lugu, bicaranya selalu blakasuta (Banyumas: apa adanya). Dari obrolan yang sangat gayeng dengan Kang Jarwo, terungkap bahwa lelaki paruh baya asli desa Ujung Alang ini sudah 14 tahun menjadi kepala desa. Ya, 14 tahun sejak tahun 1999.

Tentu kita berkerut-kerut kening, dan bertanya, apa mungkin seseornag menjabat kepala desa selama 14 tahun. Bukankah jabatan kepala desa pada kurun waktu itu hanya 4 tahun untuk setiap periodenya? Jika Kang Jarwo terpilih dua kali, hanya 8 tahun. Lho kok bisa sampai 14 tahun?

Memang setelah itu ada peraturan yang membolehkan tiga periode. Kalau Kang Jarwo terpilih dua kali, Ia hanya 8 tahun menjadi kepala desa, kalau tiga kali ya 12 tahun. Lho?

Setelah dicecar ternyata Kang Jarwo menjabat kepala desa di dua desa yang berbeda! Yakni di desa Grugu, Kecamatan Kawunganten, Kabupaten Cilacap (1999-2007), dan di desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut, sejak tahun 2013 sampai sekarang. Oh… pantes.

Salah satu sudut Ujung Alang (google)

Akan tetapi, sekalipun menjabat di dua desa, fakta ada seseorang menjadi kepala desa selama 14 tahun pada era sekarang, adalah sesuatu yang luar biasa. Kang Jarwo pasti punya kharisma dan karakter yang luar biasa di mata warga desa Grugu dan Ujung Alang.

Penulis jadi tertarik untuk terus menilisik dirinya. Apa sih profesi Kang Jarwo sebelum menjadi Kepala Desa Grugu? Ternyata lelaki yang wajahnya mirip Hamdan ATT pelantun lagu Dari Pada Sakit Hati Lebih Baik Sakit Gigi ini, adalah seorang petambak bandeng sekaligus pedagang benur (benih bandeng).

Nenek moyangnya, secara turun-temurun merupakan juru kunci Gua Masigit Sela. Gua Masigit Sela merupakan tempat bersejarah. Lewat buku Babad Tanah Jawa yang disusun oleh Rafles, gua tempat ziarah itu merupakan aset keraton Mataram ketika masih berdiri di Kota Gede.

Dan kisahnya menjadi kepala desa di Ujung Alang cukup unik, karena Ia ber-KTP desa Grugu.  “Pada tahun 2013, ketika desa Ujung Alang sedang dalam tahap penjaringan Cakades, tiba-tiba saya menjumpai gambar diri saya terpasang di hampir tiap sudut desa. Ini sama sekali bukan rekayasa oleh saya”, kata Kang Jarwo.

Menurutnya, ia juga tidak berpikir jadi kepala desa di desa lain kecamatan. Namun, karena desakan yang kuat dari para tokoh desa Ujung Alang dan atas semangat mengabdi pada masyarakat, Kang Jarwo mau dijagokan. “Tapi dengan syarat, asal tidak keluar uang seperserpun”, kata Jarwo.

Tibalah saat penentuan Balon Cakades. Ternyata hanya namanya yang ada saat itu, sedangkan aturan harus minimal dua calon atau melawan kotak kosong. Atas musyawarah para tokoh desa, daripada Kang Jarwo melawan kotak  kosong, maka Paryani isterinya mendaftar calon kepala desa.  Hari pemungutan suara pun tiba. Kang Jarwo memperoleh suara 2050. Sedangkan isterinya memperoleh 35 suara. “Suara rusak hanya sedikit saja”, imbuhnya.

Anak-anak Ujung Alang ceria di sekolahil

Menjadi Kepala Desa di remote area dengan kondisi geografis berawa-rawa, hutan bakau dan lahan tambak bandeng, tidak menyerah begitu saja. Kondisi ekonomi desa Ujung Alang lebih terbatas  dari pada Grugu. “Saya selama 9 tahun mendapat honor sebagai kepala desa sebanyak 75 ribu rupiah. Itupun diterima tiap 3 bulan sekali. Baru 5 tahun terakhir ini saya mendapat honor 2,5 juta dari ADD”, jelasnya.

Menjadi kepala desa dengan gaji sejumlah itu sama sekali tidak mencukupi. Selain harus sedia uang untuk kebutuhan sehari-hari, Ia harus menyediakan uang tunai setiap saat, untuk menyumbang warga yang hajatan dan yang terkena musibah.

Uang sejumlah itu sama sekali tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari. Belum lagi untuk menunjang kebutuhan operasional sebagai kepala desa. Biaya operasinya untuk menjalankan roda pemerintahan desa sekaligus untuk mengunjungi warganya yang tersebar di 4 dusun sangat mahal. Padahal mobilisasinya sangat tinggi. Ke mana-mana harus naik perahu.

Untuk mencukupi kebutuhan selama menjadi kepala desa di dua desa, Kang Jarwo tidak pernah melepas profesi sebagai pedagang benur dan petambak bandeng. Sementara itu isterinya membuka toko kebutuhan sehari-hari. Pendapatan resmi yang hanya sedikit itu pun selalu dibagi-bagikan pada warganya, terutama saat menjelang lebaran.

Pasti, karena Kang Jarwo ikhlas mengabdi pada desanya, rejeki selalu ada, selalu datang dari mana-mana. (BNC/diolah dari laporan Hari Widiyanto)

 

 

Tentang Penulis

Leave A Response