Sunan Kalijodo, Plesetan Politik yang Tidak Lucu? | Sekilas Sejarah Gelar Sunan

Ditulis 09 Apr 2017 - 10:48 oleh Banyumas1

 

Sunan Kalijodo sedang viral di medsos, menyusul pemberian gelar Sunan Kalijodo kepada Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok oleh Ketua Umum GP Ansor Yakut Cholil Qoumas. Pemberian gelar Sunan Kalijodo itu karena Ahok dianggap telah berjasa menyulap kawasan prostitusi dan kumuh di Jakarta menjadi kawasan yang bersih dan tertata.

Selama ini mungkin phrasa Sunan Kalijodo hanya kita temukan di forum WAG (WA Group) sebagai plesetan. Ketika ada yang menyebut Kalijodo dalam sebuah postingan, akan ada yang meneruskan dengan plesetan Sunan Kalijodo. Yang asosiatif dengan Sunan Kalijogo (Sunan Kalijaga). Plesetan adalah genre humor yang mulai booming di tahun 80-an, terutama di Jogja.

Ngomong-ngomong tentang gelar Sunan, wikipedia menyebut bahwa Sunan dalam budaya suku-suku di Pulau Jawa, adalah sebutan bagi orang yang diagungkan dan dihormati, biasanya karena kedudukan dan jasanya di masyarakat. Kata ini merupakan penyingkatan dari susuhunan, yang berarti tempat penerima “susunan” jari yang sepuluh, atau dengan kata lain “sesembahan”.

Pada periode sejarah Jawa pra-Islam gelar ini jarang dipakai atau tidak banyak didokumentasi, kalau boleh dikatakan tidak ada. Pada awal-awal masuknya Islam di Jawa, gelar ini biasa diberikan untuk mubaligh atau penyebar agama Islam, khususnya di tanah Jawa pada abad ke-15 hingga abad ke-16.

Selain sunan, ada pula mubaligh lainnya yang disebut syekh, kyai, ustadz, penghulu, atau tuan guru.

Gelar “sunan” atau “susuhunan” juga diberikan kepada penguasa Kraton Surakarta Hadiningrat di Kerajaan Kasunanan Surakarta.

Pemakaian lainnya untuk istilah “sunan” dan “susuhunan” adalah sebagai gelar bagi raja-raja dariKesultanan Mataram semenjak Amangkurat I hingga suksesi pada Kasunanan Surakarta sampai sekarang.

Ini adalah warisan Sultan Agung dari kerajaan Mataram Islam, yang mengklaim sebagai Sultan dan Sayidin Panatagama, yaitu raja dan pemimpin agama bagi masyarakat Jawa.

Wali Songo

Sembilan orang penyebar agama Islam di pulau Jawa mendapat sebutan sunan. Istilah Walisongo berasal dari kata wali (Arab, yang berarti wakil) dan sanga (Jawa, yang berarti sembilan). Wali Songo dianggap sebagai mubaligh agung, baik dari segi ilmu agama Islam maupun bobot segala jasa dan karomahnya terhadap kehidupan masyarakat dan kenegaraannya. Mereka bergelar sunan.

Jadi boleh dikatakan, secara historis sunan adalah gelar yang lahir dari sejarah masuknya Agama Islam di Indonesia, khususnya Pulau Jawa.

Sembilan wali itu, yakni Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel atau Raden Rahmat, Sunan Bonang atau Raden Makhdum Ibrahim, Sunan Drajat atau Raden Qasim, Sunan Kudus atau Jaffar Shadiq, Sunan Giri atau Raden Paku atau Ainul Yaqin, Sunan Kalijaga atau Raden Said, Sunan Muria atau Raden Umar Said, dan Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah

Seorang tokoh yang dianggap menganut ajaran sesat, yang sebenarnya akan menjadi wali ke-10, yakni Siti Jenar, tidak bergelar Sunan melainkan Syekh. Jadi, untuk tokoh yang beragama Islam pun, karena dia dinilai menyimpang, tidak diberi gelar Sunan.

Beberapa mubaligh lainnya selain Walisongo, khususnya yang terlibat dalam masa awal penyebaran agama Islam di Jawa, juga disebut sunan. Seperti Sunan Bangkalan, Sunan Bungkul, Sunan Dalem, Sunan Geseng, Sunan Ngadilangu, Sunan Ngerang, Sunan Ngudung, Sunan Prawata, Sunan Sendang Duwur, Sunan Wilis, dan Sunan Lawu.

Di masyarakat Sunda, memakai “sunan” untuk menyebut orang yang memiliki kedudukan terhormat (Susuhunan). Salah satu contohnya adalah penyebutan tokoh Sunan Ambu, sosok perempuan mulia yang merupakan “ibu” dari kebudayaan dan peradaban Sunda.

Para peziarah makam seorang wali (foto Google)

Melihat aspek kesejarahan di atas, pemberian gelar Sunan Kalijodo menjadi ahistoris alias tidak berakar pada kultur dan sejarah kekuasan kerajaan dan kesultanan di tanah Jawa, yang kental keterkaitan-nya dengan penyebaran Islam.

Makam para wali dan penguasa yang bergelar Sunan, menjadi tujuan wisata religi, berupa ziarah makam wali songo yang biasanya dilakukan oleh mereka yang secara kultural berafiliasi dengan nahdliyin. Artinya mereka yang bergelar sunan itu adalah tokoh-tokoh penyebar agama Islam yang dihormati sehinggga ketika sudah meninggal, makamnya pun disakralkan. Pengunjung membaca wirid dan doa-doa, untuk apa yang dikatakan sebagai ‘ngalap berkah’.

Pertanyaan kini, jika pemberian gelar kepada Ahok itu sesuatu yang serius, gelar Sunan dengan demikian apakah juga mengalami desakralisasi? Bagaimana dengan kesakralan para wali dan penguasa kerajaan Islam Jawa jaman dulu?

Atau jika tetap sakral gelar Sunan itu, mungkin suatu saat (beberapa puluh tahun yang akan datang) ziarah ke makam para Sunan itu harus ditambah dengan ziarah ke makam Sunan Kalijodo? Lalu orang-orang berzikir dan wirid di depan makamnya. Lucu?

Bisa lucu, bisa tidak sama sekali.

Sunan Kalijodo, plesetan politik yang tidak lucu di panggung riil. Karenanya mungkin tidak perlu ditanggapi serius. Ia lucu di WAG atau bahan plesetan di tahun 80-an. (BNC/puh)

 

Tentang Penulis

Leave A Response