Makam Panembahan Mbah Agung Tambaknegara Rusak Berat

Ditulis 04 Apr 2017 - 15:24 oleh Banyumas1

BanyumasNews.com, RAWALO – Akibat angin besar yang menimpa di sebagian wialayah Kecamatan Rawalo bagian timur, Senin petang (3/4/2017) kemarin, mengakibatkan bagunan Panembahan Mbah Agung yang berada di grumbul Kalitanjung, desa Tambaknegara, Kecamatan Rawalo, Banyumas, rusak berat tertimpa pohon santan.

Pohon besar yang kurang lebih berdiameter 2 meter menimpa bangunan tempat menginap para peziarah dan pintu gerbang menuju makam dengan kondisi rusak berat.

Namun bangunan utama tempat ritual tidak tertimpa pohon.

Kadus 1 Desa Tambaknegara Nano Saputro mengatakan, pihaknya dengan jajaran kecamatan telah berkordinasi dengan Tagana dan pihak Dinporabudpar Kabupaten Banyumas.

“Kami telah berkordinasi dengan Tagana Kabulaten Banyumas karena untuk mengatasi butuh peralatan dan tenaga profesional sehingga perlu tenaga dari Tagana, sedangkan pihak Dinpora karena panembahan teesebut masuk cagar budaya”, jelasnya.

Ditambahkan bahwa panembahan Mbah Agung merupakan makam yang sering diziarahi oleh para peziarah dari luar kota seperti Jawa Barat, Jawa Timur dan kota lainnya.

“Biasanya para peziarah datang pada Rabu Pahing dan menginap sampai Jum’at Kliwon atau menginap selama 3 hari”, jelasnya.

Sedangkan tentang sejarah makam secara pasti dirinya tidak tahu pasti apakah petilasan atau makam.

“Secara pasti kami tidak tahu persis tentang sejarah makam, cuma masyarakat menamakan panembahan Mbah Agung dan sering diziarahi para peziarah dari berbagai kota”, tambahnya.

makam pakembaran Mbah Agung

Juru kunci makam Arjudi membenarkan makam memang sering dikunjungi oleh para peziarah dari berbagai kota di Jawa khususnya menjelang malam Jum’at Kliwon dan dikeramatkan.

Dirinya juga tidak tahu persis tentang sejarahnya namun didalamnya terdapat berbagai pusaka.

“Tentang sejarahnya kami tidak tahu persisnya, hanya masyarakat mengkeramatkannya. Memang di dalam bangunan makam ada pusaka kurang lebih 18, antara lain tombak, kitab penuntun dengan tulisan huruf Jawa, kitab stambul, kelapa yg sudah sangat lama tetapi tidak busuk dan tidak tumbuh tunas walaupun sudah bertahun tahun, dan ada keanehannya yaitu pada saat tsunami Aceh dan meletusnya Gunung Galunggung tombaknya mengeluarkan darah”, imbuhnya.

Sekcam Rawalo Wahyono mengatakan bangunan makam memang masih utuh hanya pintu gerbang dan tempat menginap untuk peziarah yang rusak berat.

“Kami akan berkoordinasi dengan jajaran Dinpora kemungkinan untuk perbaikan dan menghimpun swadaya masyarakat”, terangnya. (BNC/nan)

Tentang Penulis

Leave A Response