Wayang Bocah Pentaskan “Petruk Dadi Ratu”

Ditulis 07 Mar 2010 - 20:45 oleh Banyumas1

wayang bch“Aku Petruk, aku pengin dadi Ratu” Sang Prabu, patih dan para pengawalnya terkesima dengan kelancangan Petruk. Selama ini belum ada seorang rakyat biasa berpendidikan rendah berani menantang Sang Prabu. Akhirnya, Sang Prabu memerintahkan bawahannya untuk bertarung melawan Petruk. Satu persatu pasukan Sang Prabu bertumbangan, termasuk Sang Prabu sendiri. Merekapun mengakui kesaktian Petruk, dan Petrukpun menjadi Ratu.

Sayangnya, dalam kisah ini Sang Petruk lupa asal-usulnya dan lebih memilih bertindak seenaknya sehingga hanya merepotkan seisi ‘Astina. Seluruh ksatria sudah berupaya mnghentikan kedzaliman Petruk, namun tak ada seorangpun yang berhasil. Tak disangka dan tak diduga, yang berhasil melumpuhkan Sang Petruk justru saudara sesama Punakawan berperawakan kecil, Gareng. Gareng melumpuhkan Petruk dengan kesaktian Kalimasada. Gareng menjadi simbol rakyat kecil yang cerdas, menunjukkan filosofi kedzalimam penguasa bisa ditumbangkan oleh kekuatan rakyat yang kritis dan cerdas.

Itulah sepenggal kisah Wayang Bocah dengan Lakon “Petruk Dadi Ratu”. Wayang Bocah dalam rangka memperingati HUT Sanggar Seni Pandhu Siwi dan Sanggar Sari Ratri ini menyedot perhatian hadirin di Aula Taman Wisata Purbasari Pancuranmas, Desa Purbayasa Kecamatan Padamara, Sabtu (6/3).

Menurut Kepala Seksi Pembinaan Kesenian dan Kebudayaan Sri Pamekas, pagelaran akbar bertujuan ‘nguri-uri’ kesenian tradisionaal Jawa semacam ini menjadi kegiatan rutin tiap tiga tahun sekali sejak tahun 2000. Kedua sanggar ini selalu diperingati HUT-nya bersamaan karena hari lahirnya juga berdekatan, Sari Ratri berdiri tanggal 9 Maret 1989 di Kutasari, dan Pandhu Siwi lahir di Padamara tanggal 15 Maret 1990. Uniknya, pendiri kedua sanggar inipun sama yakni Sri Pamekas sendiri, meskipun pada akhirnya keduanya menjadi binaan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Purbalingga.

Sri Pamekas yang kebetulan juga membidani dua sanggar seni yang berpusat di Padamara dan Kutasari ini mengatakan, minat anak-anak berkesenian tradisional masih sangat baik meski telah berganti-ganti generasi.

Di kesempatan yang sama, Sekda Purbalingga Drs Subeno, MM dalam sambutannya mengaku senang ketika anak-anak sejak kecil sudah mencintai seni tradisional. “Kalau bukan anak-anak kita ini, siapa lagi? Apalagi sekarang sudah masanya pergadangan bebas, kalau kita tidak mengggarap seni tradisional kita, ya bisa diklaim sama Negara lain,” jelasnya. (BNC/cie)

Tentang Penulis

Leave A Response