Perayaan Nyepi Umat Hindu Banyumas dan Cilacap: Dari Melasti hingga Pawai Ogoh-ogoh

Ditulis 28 Mar 2017 - 09:46 oleh Banyumas1

 

BanyumasNews.com, CILACAP – Umat Hindu di tlatah Banyumas, yaitu yang berasal dari Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Cilacap, melaksanakan ritual Melasti bersama di pantai Selok, Adipala, Cilacap, pada Minggu (26/03/2017). Melasti menandai aktivitas perayaan hari raya Nyepi Tahun Baru 1939 yang jatuh pada hari Selasa 28 Maret 2017.

Melasti adalah ritual pembersihan jagat agung atau alam semesta serta jagat alit atau diri pribadi. Dalam proses Melasti, rombongan umat Hindu membawa ‘uga rampe’ atau banten atau sesajen sebagai simbol kehidupan manusia. Selain itu, mereka juga membawa bermacam perangkat ibadah dari Pura. Sesajen dan perangkat ibadah itu diarak oleh umat menuju ke pantai.

Mereka kemudian sembahyang di pantai. Lalu, pemangku memercikan air suci kepada semua umat yang mengikuti peribadatan. Mereka juga mendapat beberapa bulir beras suci yang dilekatkan ke dahi masing-masing.

Sesajen yang dibawa umat Hindu kemudian dilarung ke samudera yang sekaligus menandai berakhirnya proses Melasti. Ritual itu, menurut kepercayaan Hindu, menjadi simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkah dan rahmat yang diberikan. Selain itu, bisa menghanyutkan segala kotoran atau sifat buruk ke dalam air kehidupan.

Sekilas Umat Hindu di Banyumas dan Cilacap

Dikutip rappler.com, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Banyumas, Minoto mengatakan pelaksanaan Melasti di pantai Selok adalah kali ketiga terlaksana. Melasti tahun ini sekaligus menjadi moment umat Hindu Banyumas bisa melakukan Melasti bersama dengan umat Hindu Cilacap.

Walaupun memeluk agama yang sama, namun karakteristik umat Hindu Banyumas dan Cilacap agak berbeda. Hal ini lantaran keduanya punya sejarah berbeda.

Menurut tokoh Hindu Cilacap, Wayan Suwandi, sebagian besar umat Hindu Cilacap merupakan orang asli atau keturunan asli Bali yang menganut agama Hindu. Mereka ini telah menetap lama di Cilacap karena ikatan perkawinan atau pekerjaan, baik di swasta maupun BUMN.

“Banyak orang Bali bekerja di perusahaan swasta dan BUMN di Cilacap,” kata Suwandi.

Sekalipun sudah lama menetap di Cilacap, namun menurut Suwandi baru di tahun 1980an mereka membangun sebuah pura di Gunung Selok secara swadaya. Pura itu diberi nama Mandara Giri.

Suwandi mengatakan pembangunan pura itu tak lepas dari penganut Hindu di Cilacap yang semakin bertambah. Penyebabnya banyak penganut kepercayaan kejawen yang beralih memeluk agama Hindu.

Suwandi mengatakan, kepindahan status mereka dipengaruhi kebijakan pemerintahan di era Orde Baru yang hanya mengakomodir lima agama resmi negara. Akibatnya, banyak individu yang beralih ke agama resmi agar bisa mendapatkan pengakuan negara dan memperoleh hak sebagai warga negara.

Salah satunya, adalah penganut kepercayaan Wayah Kaki yang banyak menghuni area Cilacap dan Banyumas. Mereka memilih memeluk agama Hindu karena memiliki kemiripan ajaran, terutama ketika memandang alam semesta.

Dalam Bahasa Banyumasan, “Wayah Kaki” bermakna cucu kakek. Kakek atau kaki dimaksud adalah “semar” yang diyakini petilasannya berada di Gunung Srandil Cilacap.

Prosesi ogoh-ogoh di desa Somagede Banyumas

Umat Hindu Banyumas terdapat di desa Klinting, Kecamatan Somagede. Setiap tahun warga Hindu di Klinting menggelar prosesi pawai ogoh-ogoh menjelang perayaan Nyepi. Seperti yang digelar Senin (27/03/2017) siang kemarin. (BNC/puh/*)

 

 

Tentang Penulis

Leave A Response