IPNU desak hapus Rokhis OSIS

ilustrasi - rohisalfath.blog
ilustrasi - rohisalfath.blog

Keberadaan unit kegiatan Rokhani Islam (Rokhis) di organisasi intra sekolah (OSIS) rupanya membuat gerah organisasi kemasyarakatan (ormas) yang berbasis pelajar. Alasannya Rokhis selama ini menjadi ajang tumbuhnya gerakan radikalisme keagamaan di kalangan pelajar.

Salah satu ormas pelajar yang gerah itu adalah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Karena itu IPNU, sebagaimana dikatakan Ketua Umumnya, Ahmad Syauqi, akan mendesak Depdiknas agar Rokhis tersebut tidak dijadikan satu-satunya organisasi keagamaan di sekolah negeri (SMU).

“Kami akan mengusulkan pada muktamar NU di Makassar pada 23-28 Maret mendatang agar NU mendesak Mendiknas untuk merubah atau menghapus Rokhis yang selama ini dijadikan satu-satunya organisasi keagamaan di sekolah negeri itu,” katanya dalam Rakernas dan Harlah IPNU ke-58 bertajuk “Optimalisasi Peran IPNU Terhadap Arah Kebijakan Pendidikan Nasional” di Kampus UI Depok, Jakarta, Sabtu (6/03), seperti ditulis situs NU online.

Menurut Syauqi, tidak saja IPNU yang gerah dengan rokhis OSIS. Namun juga Ikatan pelajar Putri NU (IPPNU), Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dan Pelajar Islam Indoensia (PII). Dikatakan mereka khawatir gerakan itu mewujud sebagai ideologi keagamaan yang menumbuhkan radikalisme keagamaan di kalangan pelajar.

“IPNU sebagai kader NU akan mengawal gerakan keislaman yang moderat dan bukannya radikal maupun liberal baik secara pemikiran, aksi maupun ideologi yang meresahkan masyarakat,” tandas Syauqi.

Menilik ke belakang, pelarangan ormas pelajar selain Rokhis sudah terjadi sejak dikeluarkannya keputusan Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Depdikbud tanggal 9 Juni tahun 1980 No.091/C/Kep/080 tentang Pola Pengembangan Siswa ditambah dengan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No.0209/4/1984 tentang perbaikan kurikulum di sekolah umum tingkat atas.

Menilik ke belakang, apa yang sebenarnya saat itu terjadi? BanyumasNews.com menghubungi Imron Rosadi, SPd, MM, mantan aktifis pelajar tahun 80-an, yang kini bergelut menjadi seorang pengusaha peralatan / laboratorium pendidikan. Menurutnya dengan regulasi itu pemerintah Orba pada saat itu sebenarnya menginginkan sekolah-sekolah dapat melakukan ‘kontrol’ terhadap aktifitas keagamaan siswa.

Karena, lanjutnya, kalau pelajar bergabung dengan ormas di luar sekolah seperti PII, IPM, IPNU, IPPNU, banyak aktifitas dilakukan di luar sekolah. Pelarangan ormas pelajar di lingkungan SMU terkait, tentunya dengan politik saat itu, di mana pemerintahan Orba ingin memberlakukan ‘penyeragaman’ dalam banyak hal.

“Apalagi saat itu ada trend pelajar dan mahasiswa berjilbab dan euphoria menyambut abad 14 hijriyah yang disebut sebagai Abad Kebangkitan Islam. Jadi para pejabat yang terkena syindrom Islamo-phobia melarang secara resmi adanya ormas pelajar seperti PII eksist di sekolah. Mirip dengan NKK dan BKK di kampus lah. Mereka menganggap organisasi keagamaan extra sekolah atau extra kampus menjadi biang kemunculan gerakan Islam saat itu”, kata Imron Rosadi, SPd, MM, yang di pertengahan 80-an aktif di Rokhis sekaligus aktifis PII, yang kini tinggal di Bumiayu.

Namun belakangan kebijakan itu justru dianggap menimbulkan trend radikalisme agama di sekolah (SMU), yang menekankan pada satu wadah organisasi bernama Rokhis yang berada dibawah OSIS tersebut.

Bahkan lanjut Syauqi, berdasarkan penelitian, radikalisme itu menjadi basis bagi gerakan Islam radikal di Indonesia. Rokhis utamanya yang menjadi wadah bagi awal munculnya gerakan revivalisme Islam di sekolah-sekolah.

Oleh sebab itu jika pada awalnya Rokhis sebagai kegiatan kultural dan seremonial guna membantu penyelenggaraan hari-hari besar Islam di sekolah, tapi sejak tahun 1990-an pada perkembangannya secara bertahap bertransformasi menjadi organisasi keagamaan siswa yang cenderung ideologis baik dalam pemikiran maupun gerakan.

“Kuatnya ideologisasi itu bisa dilihat dari pandangan dan sikap aktivisnya yang cenderung eksklusif, menempatkan pluralisme sebagai paham yang wajib dijauhi. Kecenderungan itu terus menguat sejalan dengan masuknya gerakan tarbiyah ke dalam sekolah-sekolah. Terakhir, selain LDK, ada HTI, Salafi bahkan NII ikut mewarnai pertarungan untuk memprebutkan Rokhis,” katanya.

Menanggapi hal itu, seorang aktifis Rokhis di sebuah SMU di Purwokerto Kabupaten Banyumas mengatakan, kekhawatiran tersebut berlebihan dan mungkin memang ada yang cenderung radikal, namun kalau di Banyumas itu sangat sedikit.

“Mengajak teman-teman untuk gabung dalam kegiatan saja kadang susah mas, apalagi untuk jadi pengurus. Gak ada waktu lah untuk mikirin… apa itu, yang dikatakan Islam radikal”, kata remaja putri berjilbab yang tidak mau disebut namanya itu. (BNC/puh/nu.ol)

1 Comment

  1. Awas !!! kaum Liberalis, mulai menyusup ke SMU/ SMP
    Gak logis SMU/ SMP cuma satu pelajaran agama Islam, eh malah mau ROHIS dihilangin. Emang mau diganti apa ?
    Jihad Never Die’s

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.