Satu ibu meninggal setiap 3 jam

Ditulis 07 Mar 2010 - 06:38 oleh Banyumas1

YOGYAKARTA – Dari seminar “Health Promotion and Prevention Based on Clinical Evidence” di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta baru-baru ini, terungkap bahwa di Indonesia dalam setiap tiga jam ada satu orang ibu meninggal.

Adalah Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Dr. dr. Sugiri Syarief, MPA yang menyampaikan data itu.

Dikatakan, saat ini angka kematian ibu sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup. Angka kematian ibu ini menurun  dibandingkan tahun 2002-2003 yang berjumlah 307 orang. Pada tahun 2015, pemerintah menargetkan angka kematian ibu turun menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup.

“Angka kematian ibu kini sebanyak 10.260 setiap tahun atau 855 orang setiap bulan. Atau setiap tiga jam terdapat satu kematian,” kata Sugiri Syarief lagi.

Penyebab langsung kematian ibu yang terbanyak, menurut Sugiri, karena pendarahan sebanyak 30 persen, eklampsi 25 persen, infeksi 12 persen. Komplikasi masa nifas 9 persen, abortus dan partus lama masing-masing 5 persen, dan penyebab lain 12 persen.

Angka kematian ibu yang telah dicapai selama ini masih jauh dari sasaran yang telah ditetapkan MDGs sebesar 125 per 100.000 kelahiran hidup sehingga perlu kerja keras oleh semua instansi pemerintah, swasta, bersama masyarakat.

“Banyak pihak pesimistis jika Indonesia, mampu mencapai sasaran MDGs. Tapi, saya yakin target MDGs Indonesia untuk penurun angka kematian ibu bisa tercapai. Dengan syarat, mengikusertakan masyarakat untuk mendorong angka kematian ibu menjadi turun,” tegasnya.

Mengenai angka kematian bayi, pada lima tahun terakhir menunjukkan kecenderungan mengalami penurunan yang lambat. Kini, angka kematian bayi sebesar 34 per 1.000 kelahiran hidup. “Keberhasilan imunisasi dan penanganan penyakit infeksi sangat besar kontribusinya dlam penurunan angka kematian bayi,” kata Sugiri.

Ia pun menjelaskan, pencegahan kematian ibu dan anak dapat dihindari melalui pengaturan jarak kelahiran optimal, sehingga dapat mengurangi risiko kematian.

Selain pengaturan jarak kelahiran, KB juga dilaksanakan untuk memenuhi keinginan seseorang agar tak lagi menambah anak sehingga perlu dilakukan sosialisasi tentang keluarga berencana. (BNC/ist/wd)

Tentang Penulis

& Komentar so far. Feel free to join this conversation.

  1. Lasi ' in Fauzi 23/07/2010 pukul 07:46 -

    Mari kita berkerja penuh tanggung jawab dan semangat yang didasari keikhlasan semoga AKI bisa turun

  2. dian 10/03/2010 pukul 20:02 -

    wah bagus sekali… 🙂
    Trim’s atas sharingnya
    kunjungi saya ya… di http://bidanku.web.id

Leave A Response