Kuliner Purbalingga: Yuk Coba Yoghurt Rasa Buah Naga Khas Desa Munjul

Ditulis 13 Feb 2017 - 22:54 oleh Banyumas1

yoghurt purbalinggaBanyumasNews.com, PURBALINGGA – Kuliner Purbalingga yoghurt? Mungkin Anda kurang percaya. Ya, menikmati yoghurt berbahan susu murni mungkin sudah menjadi hal yang biasa. Namun, pelaku Usaha Mikro Kecil Menengan (UMKM) dari Desa Munjul, Kecamatan Kutasari, Purbalingga membuat berbagai varian yoghurt.

Ada rasa buah naga, ada rasa melon, rasa buah stroberi, rasa original dan ada rasa susu jagung.

Seperti produksi yoghurt milik Muhamad Yani yang masih dikelola dalam skala rumah tangga. Rata-rata per hari ia memproduksi yoghurt dengan bahan baku utama susu murni sebanyak tiga liter.

“Meski pemasaran kami sudah sampai ke Purwokerto, namun kami masih memproduksi secara terbatas. Kami belum mengembangkan secara besar-besaran karena terbatas pada peralatan dan bahan baku susu murni,” kata Yani disela-sela pemantauan UMKM oleh Wakil Bupati Dyah Hayuning Pratiwi, Minggu (12/02/2017).

yoghurt purbalingga

Wabup Tiwi (tengah) mencoba yoghurt produksi Yani Munjul

Muhamad Yani mengungkapkan, semula ia menggeluti produksi yoghurt dengan bahan baku susu murni saja. Selain itu juga dari susu kambing Etawa. Yani kemudian mengembangkan membuat yoghurt susu jagung. Hal ini didasari melimpahnya hasil panen jagung di wilayah Kecamatan Kutasari.

“Setelah mendapat pelatihan dari Unsoed, kami mulai mencoba membuat yoghurt susu jagung. Meski menambah varian rasa jagung, namun bahan baku utama berupa susu tetap dipakai, namun susu yang digunakan berupa susu skim, bukan susu murni,” kata Yani.

Seiring dengan tuntutan konsumen, Yani mulai mengembangkan yoghurt berbagai varian seperti stroberi, melon, buah naga dan rasa buah lainnya. “Anak-anak biasanya paling suka dengan yoghurt rasa buah-buahan ini,” ujar Yani yang menggeluti usahanya bersama istri.

Wabup Tiwi berdialog dengan Muhamad Yani, produsen yoghurt

Untuk harga jual, Yani mematok harga Rp 8.000 per botol kepada grosir. Namun jika dijual langsung ke konsumen harganya Rp 10 ribu per botol. Isi satu botol 250 mililiter. Penjualan langsung dilakukan Yani di tempat keramaian seperti di kompleks stadion olah raga baik di Purbalingga maupun di Purwokerto.

Yani menambahkan, dengan bahan baku tiga liter susu murni dan ditambah buah sesuai varian yang diinginkan, bisa menjadi 15 – 20 botol. Produk yoghurt harus disimpan dalam frezzer, atau jika akan dikonsumsi langsung bisa hanya didinginkan sebentar.

Jika disimpan dalam frezzer mampu bertahan hingga tiga bulan, namun jika hanya disimpan dalam kulkas hanya bertahan dua minggu. Jika disimpan dalam suhu ruangan biasa hanya bertahan 25 jam saja.

Kendala yang dihadapi, lanjut Yani, dalam hal perijinan ke Balai POM yang belum selesai. Selain itu juga label kemasan per botolnya. Mestinya label dibuat dari plastik, namun untuk bahan baku plastik di Purwokerto saja belum bisa didapat. Label yang digunakan saat ini menggunakan kertas.

Wakil Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi (Tiwi) yang mengunjungi home industri yoghurt itu sangat mendukung untuk dikembangkan. Persoalan yang dihadapi pelaku UMKM sedapat mungkin bisa dibantu oleh Pemerintah Daerah melalui Dinas Koperasi dan UKM.

“Kami terus mendorong agar varian produksi yoghurt semakin bervariasi disesuaikan dengan selera konsumen. Selain itu, soal perijinan dan labeling pada botol akan diupayakan,” kata Wabup Tiwi.

Wabup Tiwi yang mencoba berbagai varian itu seperti rasa buah naga dan rasa melon ternyata sangat suka. “Yoghurt ini sangat membantu pencernaan. Sangat baik untuk dikonsumsi semua orang. Selain rasanya segar, juga menyehatkan tubuh,” kata Wabup Tiwi setengah promosi. (BNC/Yit)

Tentang Penulis

Leave A Response