Ritual ‘Jamasan Jimat Kalisalak’ kembali digelar

Ditulis 28 Feb 2010 - 18:14 oleh Banyumas1

BANYUMAS – Upacara tahunan pencucian benda pusaka (jamasan) yang diyakini benda-benda peninggalan Raja Amangkurat I kemarin Sabtu (27/02) kembali digelar di desa Kalisalak, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas.

Menurut juru bicara Langgar Jimat Kalisalak (tempat menyimpan benda-benda itu), Ilham Triyono kegiatan tersebut merupakan ritual tahunan yang digelar setiap tanggal 12 Rabiul Awal. Dan untuk tahun ini menurutnya penentuan tanggal 12 Rabiul Awal jatuh pada hari Sabtu (27/2) berdasarkan perhitungan Aboge (Alif Rebo Wage) yang dianut masyarakat setempat.

Rangkaian ritual jamasan diawali dengan kegiatan “Maleman” atau tirakatan yang diisi penjabaran tentang sejarah jimat Kalisalak. Mengenai keberadaan jimat di Kalisalak sendiri, dia mengatakan, masyarakat sekitar mempercayai jika pusaka yang selama ini disimpan di sebuah bangunan yang dikenal dengan “Langgar Jimat Kalisalak” merupakan benda-benda Amangkurat I yang bertuah.

Menurut dia, kitab-kitab itu diyakini sebagai benda keramat dan memiliki daya magis. “Jumlah pusaka konon selalu berubah setiap kali dilakukan penghitungan sebelum penjamasan. Terkadang bentuknya juga berubah dan muncul benda-benda baru,” kata Ilham.

Sementara itu uru kunci “Langgar Jimat Kalisalak” San Muraji (79) mengatakan, ritual ini tidak sekadar mencuci benda keramat tetapi juga membaca tanda zaman.

Amangkurat I adalah Raja Mataram yang bertahta pada 1646-1677. Ia adalah anak dari Sultan Agung Hanyokrokusumo dan Raden Ayu Wetan (Kanjeng Ratu Kulon), putri keturunan Ki Juru Martani yang merupakan saudara dari Ki Ageng Pemanahan.

Sosok yang memiliki nama kecil Mas Sayidin, yang ketika menjadi putera mahkota diganti dengan gelar Pangeran Arya Mataram atau Pangeran Ario Prabu Adi Mataram tersebut berusaha untuk mempertahankan wilayah kekuasaan Kesultanan Mataram.

Amangkurat dikabarkan sempat singgah di Kalisalak, dan meninggalkan pusaka-pusaka itu agar tak membebani perjalanannya menuju Batavia. Amangkurat menuju ke Batavia untuk meminta bantuan VOC lantaran dikejar pasukan Trunojoyo yang memberontak sekitar 1676-1677.

Beberapa benda yang ditinggalkan dan hingga kini masih tersimpan di sebuah bangunan yang dikenal dengan “Langgar Jimat Kalisalak” antara lain berupa kitab-kitab bertuliskan huruf Jawa Kuno, Arab, dan Cina yang terbuat dari daun lontar dan “asus buntut” (bagian pelana kuda yang masuk ke ekor).

Selanjutnya, benda-benda peninggalan tersebut dijamas dan dihitung jumlahnya setiap bulan Maulud oleh kerabat Amangkurat I yang ada di Desa Kalisalak. Pusaka-pusaka yang dijamas antara lain berupa keris, trisula, tombak, uang kuno, pelor, dan batu granit. Sementara pusaka lain yang dibuka dan dibersihkan misalnya cemeti, bekong (semacam kendi kecil), besek (wadah dari anyaman bambu, Banyumas = piti). (BNC/ist)

benda-benda yang dijamas

benda-benda yang dijamas

salah satu prosesi

salah satu prosesi

aa jamasan

Tentang Penulis

1 Komentar so far. Feel free to join this conversation.

  1. ekoheru 04/03/2010 pukul 20:18 -

    terus diasjikan sebagai bentuk kelangsungan nilai-nilai budaya,syukur ada video tayangan yang disajikan disini.
    obat kangen warga kebasen yang di perantauan

Leave A Response