Rina Iriani, ‘bintang’ pagelaran wayang kulit kolaborasi

PURWOKERTO – Pagelaran wayang kulit kolaborasi tiga Bupati di GOR Satria Sabtu malam (27/02) hinggi Minggu pagi (28/02) berlangsung meriah. Antusiasme penonton tampak demikian besar hingga akhir pertunjukkan usai.

Hal ini karena aksi tiga Bupati, yaitu Bupati Wonogiri Begug Purnomosidi, Bupati Sragen Untung Wiyono dan Bupati Karanganyar Rina Iriani yang memikat. Mereka menunjukkan apresiasi terhadap budaya adiluhung secara cermat dalam pagelaran menyambut Hari Jadi ke-428 Kabupaten Banyumas itu.

Mengambil lakon ‘Sesaji Raja Soya’, upaya tiga bupati untuk mendapatkan simpati penonton dengan cakap mereka lakukan. Bupati Banyumas Mardjoko  tak ketinggalan ‘didapuk’ untuk naik ke panggung dan diminta oleh Rina Iriani untuk memanggil para Kepala Dinas dan Camat dengan bahasa Banyumasan. Tak pelak, Mardjoko yang memang suka berbicara bahasa ‘nagapak’ itu memanggil pejabat dengan ‘bocah’. Ketika yang dipanggil dikatakan tidak ada, dia menyahut “oh anu lagi meriang”, “lagi anyang-anyangen kayane”, atau “lagi wudunen”. Penonton pun ‘gerrrrrr’.

Bintang pagelaran malam itu memang layak diberikan kepada Rina Iriani. Bupati cantik asal Karanganyar ini tak canggung ikut menyayi ala sinden seperti campur sari bahkan ia juga menyanyikan lagu hasil ciptaannya sendiri berjudul “Januari”. Bahkan bupati ini telah menyiapkan para stafnya yang ikut pagelaran untuk tampil menyanyi menghibur penonton, sebelum pamitan.

Sebelumnya Bupati Mardjoko menyanyikan sebuah lagu Jawa “semut ireng….”, yang disindir oleh Rina Iriani dengan olok-olok “loh kok bandhek… kon nembang Mbanyumasan kok ya”.   Ini karena Mardjoko mengucapkan Surabaya dengan ‘Suroboyo’ atau Kartasura dengan ‘Kartosuro’.

Hj Rina Iriani memang dikenal sebagai bupati yang gigih dalam perjuangan mengggali berbagai akar budaya masyarakat. Ia sering bernyanyi bareng dengan penyanyi campursari, Didi Kempot. Ia mencari peralatan tempo dulu untuk digunakan kembali, termasuk untuk kegunaan seni. Ia pun mendapat  penghargaan Satya Lencana Pariwisata oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

“Di kampung masih banyak lesung yang dibiarkan dan tak terawat. Sejak saya jadi bupati, lesung-lesung itu dihidupkan. Artinya, menumbuk padi dengan lesung dihidupkan kembali”,  katanya beberapa waktu lalu.

Selain untuk menumbuk padi, dalam berbagai acara pun pihaknya tidak segan-segan menampilkan atraksi tumbuk padi dengan lesung lengkap dengan alunan suara bersahut-sahutan. Sehingga, menumbuk padi dengan lesung di sana, tidak hanya melakukan pekerjaan tetapi juga sekaligus sebagai hiburan masyarakat.

Berbagai adat budaya yang telah lama dikubur atau ditinggalkan masyarakat tidak segan-segan Rina menyelusuri dan mengajak untuk dihidupkan lagi. Tentu saja dengan gaya dan kemasan baru. Hasilnya, masyarakat tergugah dan generasi muda pun mulai mengenal budaya yang ada di sekitarnya. Kepedulian inilah yang membuat Menbudpar tergugah dan melalui Presiden SBY, wanita yang agak kenes ini diberikan penghargaan budaya. Kecintaannya pada budaya Jawa juga ditunjukkan dengan penggunaan bahasa Jawa kromo alus tiap hari Rabu di lingkungan Pemkab Karanganyar. (BNC/ist/puh)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.