Kongres Basa Penginyongan: Ngomong ‘Kampil’ karo ‘Sentong’, Kasare ning Endi?

Ditulis 26 Okt 2016 - 07:37 oleh Banyumas1

Kongres Basa penginyonganBanyumasNews.com, PURWOKERTO -Kongres Bahasa Penginyongan dibuka Selasa (25/10/2016) oleh Asisten Kesra Provinsi Jawa Tengah. Pembukaan dilakukan di Pendopo Si Panji Kabupaten Banyumas, sedang pelaksanaan kongres dilaksanakan di Hotel Moro Seneng Baturraden dan Karang Panginyongan Desa Karangtengah Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas.

Kongres dihadiri peserta terdiri dari 150 peserta perwakilan dari 5 Kabupaten di wilayah Barlingmascakeb. Kongres Bahasa Penginyongan I Tahun 2016 Kabupaten Banyumas dilaksanakan selama 3 (tiga) hari mulai tanggal 25  – 27 Oktober tahun 2016.

Tema kongres basa panginyongan Menuju Basa Panginyongan yang Hidup, Maju dan Bermartabat di harapkan mampu menjadi sebuah langkah cerdas dan impresif untuk lebih maju dan menghidupkan kembali spirit of panginyongan yang sempat tersendat karena terjepit, tergerus arus globalisasi. “Dengan melibatkan Kabupaten lain yang masih serumpun dan Kalawangsa Brayat Ageng Panginyongan diharapkan nantinya basa panginyongan bisa tetap lestari sehingga mampu untuk hidup, maju dan martabat sebgai penguat bahasa Nasional bahasa Indonesia”, kata panitia.

Keberlangsungan basa panginyongan semakin terkikis, masyarakat semakin enggan menggunakan basa penginyongan dalam komunikasi sehari-hari. Anak-anak sekarang tidak tahu dan “ora ngerti artine angger ngomong banyumasan”dalam hal ini basa panginyongan. “Pemerintah Kabupaten Banyumas berupaya memasukan Muatan Lokal Bahasa Banyumasan kedalam mata pelajaran disekolah menengah, hal ini dimaksudkan agar basa Banyumasan ora kepaten obor”.

Ke depan, diharapkan jangan malu untuk menggunakan basa panginyongan, aja isin ngomong ngaggo basa ngapak, ora ngapak ora kepenak.

“Bahasa Banyumasan sebagai bahasa tua dianggap kasar oleh pemakai bahasan Jawa mataraman. Bilang bantal sebagai kampil, kamar tidur sebagai sentong, kasarnya dimana?”, kata budayawan Ahmad Tohari.

Peserta Kongres terdiri dari unsur Guru MGMP bahasa Jawa SMP dan SMA 4 orang, Kepala SD 2 orang, Perguruan tinggi 2 Orang, Pustakawan 2 Orang, Unsur Dinas Pendidikan 2 orang, unsur Dinas Kebudayaan 2 orang, Organisasi Seniman / Budayawan 3 orang, PEPADI 2 orang, Humas Protokol 1 Orang, Sanggar Seni 2 orang, Stasiun radio 1 orang, Organisasi Pranoto Coro 2 orang. (BNC/ist/*)

Tentang Penulis

Leave A Response