Cerita Mukidi, Bukti Banyumas Raya Gudangnya Seniman Komedi

Ditulis 28 Agu 2016 - 13:48 oleh Banyumas1

Cerita-cerita lucu Mukidi yang viral di dunia digital menjadi pembuktian kalau Purwokerto khususnya dan Banyumas Raya umumnya, memang gudangnya seniman lawak, dagelan, komedi, atau apapun istilahnya untuk menunjuk dunia perhumoran. Sang penulis Cerita Mukidi, Soetantyo Moechlas merupakan pensiunan sebuah perusahaan farmasi di Jakarta, Boehringer Ingelheim, yang lahir pada 7 Februari 1954 di Purwokerto.

Soetantyo Moechlas - penulis cerita Mukidi

Soetantyo Moechlas – penulis cerita Mukidi

Sekalipun Soetantyo kini berdomisili di Jatibening, Bekasi, ia mengakui sendiri kalau cerita lucu itu terinspirasi dari guyon Banyumasan. Buktinya ia mengatakan sendiri, “Saya sengaja mengambil nama-nama Banyumasan…kebetulan saya berasal dari Purwokerto. Makanya ada nama Marto Kapiran, Karto Mlogo dan lain-lain. Mukidi ini sebenarnya nama yang pernah ngehits di tahun 1980-an karena pernah digunakan di salah satu film Warkop”.

Ada kaitan Mukidi dengan Warkop. Ya tentu saja, karena dua personil Warkop yaitu Kasino dan Indro itu kelahiran Banyumas Raya alias wong Banyumas yang berbahasa ngapak. Indro kelahiran Purbalingga, Kasino kelahiran Gombong, Kabupaten Kebumen. Wajar kalau di film mereka pernah muncul “Mukidi”.

samidiBagi wong Banyumasan, khusunya yang tinggal di Cilacap, nama Mukidi mengingatkan pada tokoh Samidi, nama yang top juga dalam dunia hiburan atau dagelan dalam bahasa ngapak. Kalau Mukidi terkenal melalui dunia maya (medsos), Samidi awalnya terkenal melalui radio Suara Yasfi (Radio Yess) melalui acara Curanmor (curahan perasaan dan humor), namun seiring maraknya media sosial, rekaman-rekaman Samidi juga mulai diunggah di internet. Orang luar Cilacap pun bisa menikmati humor-humor Samidi dalam bahasa ngapak.

Pelawak asal Banyumas

Anda yang besar di era televisi hanya baru TVRI, pasti mengenal nama-nama pelawak asal Banyumas yang ngetop. Nah ini ada beberapa Pelawak Banyumasan atau Ngapak yang negtop :

  1. S. Bagio

Bagio lahir di Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, 3 Maret 1933. S. Bagio terkenal lewat grup lawak Bagio CS bersama Darto Helm, Diran, dan Sol Saleh. Pada tahun 80an group ini menjadi group papan atas seiring meredupnya group lawak Kwartet Jaya menyusul meninggalnya Bing Slamet sebagai motor Kwartet Jaya. S Bagio meninggal pada 14 Agustus 1993 pada usia 60 tahun. Ia sempat kuliah di Fakultas Hukum UGM, namun berketetapan menjalani profesi sebagai pelawak.

S Bagio pelawak asal Banyumas

S Bagio pelawak asal Banyumas

Ia pernah melawak bersama Dradjat (1950-1955), Pelawak bersama Pak Guno (1956), Bergabung dengan Eddy Sud dan Iskak (1957), bergabung dengan Bing Slamet, Cepot, Mang Topo, dan Saimun. Kemudian bergabung dengan Iskak dan Atmonadi (1961), Bergabung dengan Iskak dan Ateng (1963),  Bergabung bersama Sol Saleh, Darto Helm, Diran (1970-1983), Pelawak bersama Diran dan Darto Helm (1983-1993).

  1. Sudarto (Darto Helm)

Sudarto alias Darto Helm lahir Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, 17 Maret 194. Ia meninggal di Jakarta, pada 14 Agustus 2004 pada umur 61 tahun. Tanggal meninggalnya sama dengan mendiang S Bagyo, ya?! Ia sempat tergabung dalam kelompok Bagyo CS bersama S. Bagio, Diran, dan Sol Saleh. Ia terserang stroke pada 4 September 1996 dan kemudian mengurangi aktivitas panggung sampai akhirnya meninggal pada 14 Agustus 2004 di RS Pelni Petamburan. Ia dimakamkan di Purwokerto.

Darto Helm

Darto Helm

Asal mula nama Helm di belakang namanya, bermula ketika dalam sebuah pentas komedinya, Bagyo cs pernah mengangkat tema Helm yang saat itu kontroversial. Pada masa itu, Kapolri mewajibkan semua pengendara memakai helm untuk pertama kalinya. Dalam suatu adegan, Bagyo menegur Darto yang tak sopan karena memakai helm ketika masuk ke rumah. Padahal Darto tak memakai helm. Bagyo pun kemudian sadar Darto tak memakainya, ketika memegang kepala Darto. Kepala Darto memang plonthos, alias halus (botak) mirip helm. Mulai semenjak itulah Darto dikenal sebagai Darto Helm.

  1. Kasino Hadiwibowo

Dikenal sebagai Kasino sebagai anggota Warkop DKI (K = Kasino). Ia lahir di Gombong, Kebumen, Jawa Tengah, 15 September 1950, meninggal di Jakarta, pada 18 Desember 1997 pada umur 47 tahun. Dialek ngapaknya di film yang dimainkannya sangat khas dan menunjukkan ia tidak lupa ada daerah asalnya.

Kasino Warkop - lahir di Gombong

Kasino Warkop – lahir di Gombong

Ketika menjadi mahasiswa, Kasino banyak menghabiskan waktu di lereng-lereng gunung bersama Kelompok Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI). Bersama Indro dan Dono, ia membawa angin segar dalam dunia lawak Indonesia dengan humor-humor segar, cerdas dan mewakili generasi terpelajar dalam dunia lawak Indonesia.

  1. H. Indrodjojo Kusumonegoro

Ini personil Warkop DKI yang masih hidup saat ini dan aktif dalam dunia hiburan komedi Indoenesia dengan sering tampil di TV sebagai juri talent show komedi (Stand Up Comedy) dan main film bersama pendatang-pendatang baru dunia hiburan Indonesia dimana ia sendiri ikut melahirkannya, dengan berperan sebagai juri.

Indro Warkop - lahir di Purbalingga

Indro Warkop – lahir di Purbalingga

Ia lahir di Purbalingga, Jawa Tengah, Indonesia, 8 Mei 1958. Rumah kelahirannya ada di sebelah timur alun-alun Purbalingga, masih ada hingga saat ini. Ayahnya (polisi) berasal dari Magelang, sedangkan ibunya asli Purbalingga.

Itulah Empat Pelawak atau comedian dari tlatah Banyumas yang bisa menembus pentas nasional. Di level daerah kita mengenal pelawak-pelawak yang memerankan Peyang Penjol dan sangat tenar di Banyumas pada era 80-an. Siapa penerus comedian asal Banyumas di pentas nasional?

Penerusnya saat ini yang kelihatan adalah Wira Setianegara, yang tercatat sebagai mahasiswa jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Unsoed dan bergabung di Stand Up Indo Purwokerto sejak 2013.  Ia salah satu finalis Stand Up Comedy Indonesia sesi ke-5 (SUCI 5) Kompas TV, namun terhenti ketika mau masuk babak 10 besar, kalah bersaing dengan Rahmet. (BNC/ist/berbagai sumber)

 

Tentang Penulis

Leave A Response