Sisi lain tokoh pejuang kemerdekaan yang tidak pernah diungkap

Ditulis 20 Agu 2016 - 06:51 oleh Banyumas1

Indonesia memasuki usia kemerdekaan ke-71, buah dari perjuangan para pahlawan. Baik pahlawan yang tercatat maupun pahlawan yang tidak terekam sejarah. Mereka yang sering diungkap dalam sejarah pun, tidak ditampilkan utuh. Ada sisi-sisi yang masih tersembunyi (kalau tidak disembunyikan) dari sejarah sang tokoh pahlawan. Di bawah ini sisi-sisi kehidupan beberapa tokoh yang luput dari penulisan sejarah.

1. Pangeran Diponegoro

Ada seorang santri yang juga penganut thariqah, namanya Abdul Hamid. Ia lahir di Dusun Tegalrejo, Kecamatan Tegalrejo, Yogyakarta. Mondok pertama kali di Tegalsari, Jetis, Ponorogo kepada KH. Hasan Besari, tokoh peletak dasar pendirian Pesantren Gontor yang kini menjadi pondok modern.

pangeran diponegoro

Pangeran Diponegoro (wikipedia)

Abdul Hamid ngaji kitab kuning kepada Kyai Taftazani Kertosuro, ngaji Tafsir Jalalain kepada KH Baidlowi Bagelen (yang dikebumikan di Glodegan, Bantul, Jogjakarta). Terakhir Abdul Hamid ngaji ilmu hikmah kepada KH. Nur Muhammad Ngadiwongso, Salaman, Magelang.

Di daerah eks-Karesidenan Kedu (Temanggung, Magelang, Wonosobo, Purworejo, Kebumen), nama KH. Nur Muhammad yang masyhur ada dua, yang satu KH. Nur Muhammad Ngadiwongso, Salaman, Magelang dan satunya lagi KH. Nur Muhammad Alang-alang Ombo, Pituruh, Purworejo yang banyak menurunkan kyai di Purworejo.

Abdul Hamid sangat berani dalam berperang melawan penjajah Belanda selama 5 tahun, 1825-1830 M. Ia wafat dan dikebumikan di Makassar, dekat Pantai Losari. Siapa Abdul Hamid? Ia adalah putra Sultan Hamengkubuwono ke-III. Kini Abdul Hamid diabadikan dalam patung memakai jubah dipasang di Alun-alun kota Magelang, menjadi nama Kodam Jawa Tengah dan pergurun tinggi di Semarang, Jawa Tengah. Tokoh pemberani ini terkenal dengan nama Pangeran Diponegoro.

Belanda resah menghadapi perang Diponegoro. Dalam kurun 5 tahun itu, uang kas Hindia Belanda habis, bahkan punya banyak hutang luar negeri. Perang ini dipimpin ulama penganut thoriqoh: nama aslinya Abdul Hamid, nama populernya Diponegoro.  Adapun nama lengkapnya adalah Kyai Haji (KH) Bendoro Raden Mas Abdul Hamid Ontowiryo Mustahar Herucokro Senopati Ing Alogo Sayyidin Pranotogomo Amirul Mu’minin Khalifatullah Tanah Jawi Pangeran Diponegoro Pahlawan Goa Selarong.

Jika Anda pergi ke Magelang dan melihat kamar Diponegoro di eks-Karesidenan Kedu, istilah sekarang di Bakorwil, ada 3 peninggalan Diponegoro: al-Quran, Tasbeh dan Taqrib (kitab Fath al-Qarib).

Kenapa Al-Quran? Diponegoro adalah seorang Muslim. Kenapa tasbih? Diponegoro seorang ahli dzikir, dan bahkan penganut thariqah.

Habib Luthfi bin Ali bin Yahya Pekalongan mengatakan bahwa Diponegoro seorang mursyid Thariqah Qadiriyyah. Selanjutnya yang ketiga, Taqrib matan Abu Syuja’, yaitu kitab kuning yang dipakai di pesantren bermadzhab Syafi’i.

2. Douwes Dekker

douwes dekker

Douwes Dekker (wikipedia)

Salah satu tokoh pendidikan nasional kita bernama Douwes Dekker. Siapa itu Douwes Dekker alias Danudirja Setiabudi?

(Leluhur) Douwes Dekker itu seorang Belanda yang dikirim ke Indonesia untuk merusak bangsa Indonesia. Namun ketika Douwes Dekker berhubungan dengan para kyai dan santri, mindset-nya berubah, yang semula ingin merusak justru bergabung dengan pergerakan bangsa. Bahkan kadang-kadang Douwes Dekker, semangat kebangsaannya melebihi bangsa Indonesia sendiri.

Dalam bukunya Douwes Dekker pernah berkata : “Kalau tidak ada kyai dan pondok pesantren, maka patriotisme bangsa Indonesia sudah hancur berantakan.”

Ini yang berbicara Douwes Dekker, orang yang belum pernah nyantri di pondok pesantren. Seumpama yang berbicara kyai dari pesantren, mungkin akan dikomentari “Hanya biar pondok pesantren laku.”

3. Ki Hajar Dewantara (Suwardi Suryaningrat)

Ki Hajar Dewantara (wikipedia)

Ki Hajar Dewantara (wikipedia)

Ki Hajar Dewantara yang terkenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional adalah santri. Tidak hanya Diponegoro anak bangsa yang dididik para ulama menjadi tokoh bangsa. Di antaranya, di Yogjakarta ada seorang kyai bernama Romo Kyai Sulaiman Zainudin di Kalasan Prambanan, yang punya santri banyak, salah satunya bernama Suwardi Suryaningrat.

Suwardi Suryaningrat ini kemudian oleh pemerintah diangkat menjadi Bapak Pendidikan Nasional yang terkenal dengan nama Ki Hajar Dewantara.

Jadi, Ki Hajar Dewantara itu santri, ngaji, murid seorang kyai.  Sayangnya, sejarah Ki Hajar mengaji al-Quran tidak pernah diterangkan di sekolah-sekolah, yang diterangkan hanya  “Ing Ngarso Sun Tulodo”, “Ing Madyo Mangun Karso”, “Tut Wuri Handayani”.

Hanya mengungkap semboyan dunia pendidikan kita, itu belum utuh. Karenanya para guru harus menerangkan bahwa Ki Hajar Dewantara selain punya ajaran Tut Wuri Handayani, juga punya ajaran al-Quran al-Karim.

4. Sayyid Husein al-Mutahhar

H Muttahar (wikipedia)

H Muttahar (wikipedia)

Siapa Mutahhar? Tidak banyak diungkap bahwa ia adalah cucu nabi yang patriotis. Ketika Indonesia merdeka, ada sayyid warga Kauman Semarang yang mengajak bangsa kita untuk bersyukur. Sang Sayyid tersebut menyusun lagu Syukur, yang dalam pelajaran Sekolah Dasar disebutkan Habib Husein al-Mutahar yang menciptakan lagu Syukur.

Beliau adalah Pakdenya Habib Umar Muthahar SH Semarang. Jadi, yang menciptakan lagu Syukur yang kita semua hafal adalah seorang sayyid, cucu baginda Nabi Saw.  Kita simak kembali syair lagu Syukur:

Dari yakinku teguh

Hati ikhlasku penuh

Akan karuniaMu

Tanah air pusaka

Indonesia merdeka

Syukur aku sembahkan

Ke hadiratMu Tuhan

Lagu itu disusun seorang habaib (keturunan Nabi), Sayyid Husein Muthahar, warga Kauman Semarang. Akhirnya oleh pemerintah waktu itu diangkat menjadi Dirjen Pemuda dan Olahraga. Terakhir oleh pemerintah dipercaya menjadi Duta Besar di Vatikan, negara yang berpenduduk Katholik.

Lagu lain yang dikarang Habib Husein Muthahar yang hampir semua orang Indonesia hafal adalah lagu yang cengkoknya mirip adzan, ada “S”nya, “A”nya, “H”nya. Tertulislah:

17 Agustus tahun 45

Itulah hari kemerdekaan kita

Hari merdeka Nusa dan Bangsa

Hari lahirnya Bangsa Indonesia

Merdeka

Sekali merdeka tetap merdeka

Selama hayat masih di kandung badan

Kita tetap setia, tetap setia

Mempertahankan Indonesia

Kita tetap setia, tetap setia

Membela Negara kita

Maka peran para kyai dan para sayyid tidak sedikit dalam pembinaan patriotisme bangsa.

  1. Bung Hatta

Ketika Bung Karno mau membaca teks proklamasi di Pegangsaan Timur Jakarta, ia minta didampingi putra kyai. Tampillah putra seorang kyai, dari kampung Batuampar, Mayakumbung, Sumatera Barat. Siapa beliau?

Bung Hatta (wikipedia)

Bung Hatta (wikipedia)

Ialah Mohammad Hatta putra seorang kyai. Bung Hatta adalah putra Ustadz Kiai Haji Jamil, Guru Thariqah Naqsyabandiyyah Kholidiyyah. Sayang, sejarah Bung Hatta adalah putra kyai dan putra penganut thariqah tidak pernah dijelaskan di sekolah, yang diterangkan hanya Bapak Koperasi. Mohammad Hatta yang kemudian mendampingi Soekarno dikenal sebagai Dwi Tunggal, menjadi wakil presiden. Mulai sekarang, mari kita terangkan sejarah dengan utuh.

Demikian sisi lain pahlawan bangsa yang selama ini belum terungkap. Semoga bermanfaat (BNC/*)

Tentang Penulis

Leave A Response