Emas Olimpiade Owi, kado Terindah si Anak Banyumas untuk Negeri

Ditulis 18 Agu 2016 - 12:03 oleh Banyumas1

owi butetKeberhasilan Owi, panggilan Tontowi Ahmad, yang berpasangan dengan Liliyana Natsir meraih medali emas nomor ganda campuran bulu tangkis di Olimpiade Brazil 2016 sangat membanggakan. Khusus untuk Owi kebanggaan warga Banyumas, khususnya Sumpiuh, kota kecamatan yang terletak 35 km di tenggara Purwokerto, prestasi itu turut mengangkat nama daerah kelahirannya.

Owi lahir sebagai anak desa, tepatnya di desa Selandaka, Sumpiuh, Banyumas, Jawa Tengah pada 18 Juli 1987. Di sana adalah tempat dimana Owi dilahirkan dan dibesarkan. Ayahnya bernama Muhammad Khusni dan ibunya bernama Masruroh, keduanya sudah menunaikan ibadah haji, menunjukkan keluarga muslim yang taat.

Bagaimana kisah Owi kecil hingga sampai menjadi atlet profesional seperti saat ini yang mendunia dan mengharumkan bangsa Indonesia?

Menurut Khusyu, sang ayah, sejak kecil Owi selalu ikut latihan bulutangkis bersamanya, karena Khusni memang hobi main bulutangkis. “Sejak kelas 5 SD saya selalu arahkan, lalu saya sabar dan tawakal,” lanjut Khusni.

Mengetahui bakat anaknya, Khusni mengirim Owi ke luar kota. Sejak SMP sang ayah mengirim Owi ke Tanggerang untuk melanjutkan karier bulutangkisnya. Dari Tangerang kemudian Owi masuk ke Gersik, lalu ke Djarum dan lanjut ke Pelatnas.

Khusni-pun tak menampik bahwa dirinya bangga bisa melihat prestasi anaknya tersebut. Tak lupa juga, dirinya berharap Owi terus mendapatkan prestasi-prestasi yang gemilang.

“Saya sangat bangga, senang, terharu karena membanggakan keluarga dan bangsa. Harapan saya ke depannya menjaga prestasinya agar bisa lebih mengharumkan lagi nama bangsa,” tuntas Khusni.

Ibunya Ngidam Rokok

Peran Masruroh, sang ibunda, juga tidak bisa dilupakan. Wanita berjilbab itu juga merupakan sosok penting dalam kehidupan Owi yang pernah pula menjadi jawara All England 2012 dan 2013 itu.

Saat mengandung Owi, Masruroh sempat melakukan kebiasaan yang cukup unik. “Waktu saya ngidam Owi saat usia sudah tua saya malah suka ngerokok. Saya harus hisap sehari satu batang. Waktu Owi berumur 2 tahun, saya kalau belum ngerokok saya belum bisa tidur, tapi sekarang saya sudah tidak merokok,” ujar Masruroh.

Apakah itu pertanda Owi kelak akan menjadi pemain PB Djarum, perusahaan rokok ternama di Kudus? Wallahu a’kan.

Owi kecil juga ternyata santri di Pesantren Al Falah Sumpiuh. Usai ikut latihan bulu tangkis bersama kakaknya, untuk menjaga dari pergaulan bebas, Owi belajar agama ke pesantren.

Sejak Owi kecil, orang tuanya sudah mengharapkan Owi bisa jadi juara. Mereka selalu berdoa dan minta munajat sama Allah SWT.

Sukses Owi meraih juara mempunyai dampak bagi tetangga-tetangga rumahnya. Masyarakat di sekitarnya hampir semua menyukai bulutangkis.

“Owi jadi virus bulutangkis di sini terutama setelah dibangun lapangan bulutangkis di depan rumah, jadi rame sampai malem”, kata Masruroh. (BNC/ist/okz)

Tentang Penulis

Leave A Response