Ciri-ciri Khoiru Ummah menurut Busyro Muqoddas

Ditulis 14 Agu 2016 - 11:07 oleh Banyumas1

busyro muqoddas1Mantan Ketua KPK Dr. M. Busyro Muqoddas diundang untuk ceramah dalam Tabligh Akbar menyambut HUT RI ke-71 di Masjid Agung Baitussalam, Purwokerto, Jawa Tengah, Minggu 14 Agustus 2016. Berikut ceramah beliau yang kami kutip dari makalah yang dibagikan saat acara berlangsung. Semoga bermanfaat untuk Anda yang tidak sempat hadir di acara tersebut.

Apa itu Khoiru Ummah?

Ialah hamba-hamba Allah SWT yang terpilih sebagai wakil-Nya dengan tugas mulia:

  1. Menyampaikan isi kebenaran ajaran Islam kepada umat manusia dengan jalan ma’ruf, damai, ramah dan sejuk;
  2. Mengajak (dakwah) masyarakat untuk beriman kepada Allah SWT sebagai pusat dan puncak sesembahan (ibadah) dengan memurnikan aqidah Tauhid (meng-Esakan Allah SWT) dan menjauhkan diri dari segala bentuk menyekutukan Allah SWT dengan apapun dan siapapun (syirik);
  3. Mengajak masyarakat bersama-sama menjalankan semua petintah, menjauhi semua larangan-Nya sesuai dengan tuntunan kitab suci al Qur’an dan Sunah Nabi (yang sahih);
  4. Merintis, membentuk, mewujudkan bersama masyarakat Islami yang menjunjung tinggi ajaran kebenaran dan keadilan, saling tolong menolong dalam kebajikan, kemanusiaan, ekonomi kekeluargaan/saling menguntungkan/tidak mematikan;
  5. Memelopori penyiaran (syiar) ajaran Islam untuk menciptakan kesadaran berkewarganegaraan yang sadar politik. Yaitu mempersiapkan calon-calon pemimpin negara, pedagang, kaum profesi, penegak hukum, dan tokoh-tokoh politik yang Jujur, Cerdas, Pemberani dalam Kebenaran, Amanah dan Siap menjadi Teladan Kepemimpinan (contoh Panglima Soedirman, perintis TNI);

Adapun Ciri-ciri Khoiru Ummah adalah:

  1. Sebagaimana QS Ali Imron ayat 110: “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, untuk menyuruh berbuat yang baik (makruf) dan mencegah yang mungkar dan menyeru beriman kepada Allah SWT”. Ayat ini mengandung pengertian: a. Sikap pro aktif sebagai pemimpin penyeru kebenaran dan keadilan; b. Sikap pro aktif sebagai pencegah kemungkaran (politik, ekonomi, hukum moral, sosial budaya); c. Sikap pro aktif dinamis membentuk bangsa Indonesia yang beriman terhadap Allah SWT dan mensyukuri nikmat-nikmat-Nya;
  2. QS At-Tahrim ayat 6: “Hai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu ..”. Ayat ini dijabarkan: a. Keluarga Islam yang islami, yang semuanya beraqidah Tauhid; b. Keluarga yang memfungsikan tauhid sebagai ‘landas tumpu’ dalam menjalankan ‘habulum minallah dan hablum minannas’ mendidik anak keturunan, mencari dan membelanjakan rezeki, menjalin hubungan yang baik dan benar dengan keluarga, tetangga dan masyarakat serta negara; c. keluarga Islam yang ditandai dengan tertib sholat lima waktu dengan berjamaah, tadarus al Qur’an beserta maknanya dan diamalkan dalam keseharian; d. keluarga Islam yang menjadi pusat dan candradimuka dalam mendidik ‘pemimpin bangsa/negara/profesi yang sale’; e. keluarga yang rezekinya tidak bersumber dari cara memperoleh yang haram (“Sungguh tidak akan masuk surga daging dan darah yang tumbuh dari rezeki haram, nerakalah yang berhak ditempati” – HR Turmudzi dan Ibnu Majjah dari Ka’an bin Ujrah);
  3. QS Ar Ra’d ayat 11 dan Al Hasyr ayat 18: “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga kaum itu merubah keadaan yang ada pada diri mereka”; “Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari mendatang (akherat)”;

Dari point 3 di atas, penjabarannya adalah:

  • Keluarga dan masyarakat Islam yang anti kemapanan (yang tidak berkeadilan/ maksiat akhlak/maksiat politik) dan merubahnya menjadi situasi baru yang berubah;
  • Keluarga dan masyarakat Islam yang bekerja sama dalam kebaikan dengan semua pihak untuk melakukan evaluasi/mawas diri terhadap keadaan masyarakat dan bangsa sekarang yang belum adil/penuh kesenjangan sosial, ekonomi, kerusakan akhlak/moral: kebohongan negara/pemerintah/politisi/ penegak hukum, korupsi (main suap, mencatut harga pengadaan barang-barang kepentingan negara, manipulasi bansos/hibah/APBD, menjual ijin-ijin bisnis kepada modal kuat dan menggusur modal lemah, main setoran terhadap atasan, menggadaikan calon pejabat dengan cara ‘mahar politik = suap’ dalam Pilkada, Pemilu dan Pilpres dll);
  • Keluarga dan masyarakat Islam yang ada di pemerintahan, DPR/DPRD/Penegak hukum (Polri, Jaksa, hakim, pengacara), PNS, TNI, pedagang, bakul, guru, dosen, yang mensyukuri dengan penuh khusyu’ segala kenikmatan iman, Islam, kesehatan, rezeki yang tampak dan terpendam di dalam bumi, air, matahari, hewan, tumbuhan dengan cara dan tindakan kongkrit;

Ciri khoiru ummah juga termasuk menjaga ibadah wajib dengan tertib benar ikhlas sesuai tuntunan Allah dan Rasul; membangun kerja sama sesama berdasarkan prinsip kejujuran, keadilan, keikhlasan, dan kemanusiaan; memihak kepada bangsa dan rakyat sendiri dalam membuat setiap peraturan (UU hingga Perda), bukan memihak kepada bangsa/negara lain agar dapat upah/suap/sogok/ dengan cara mengorbankan martabat diri dan bangsa.

Dalam mewujudkan khoiru ummah, melibatkan ormas Islam dan organisasi lain (PT dan LSM) sesuai bidangnya dalam menyusun RAPBD yang pro pertumbuhan rakyat domestik. Misalnya membatasi jumlah dan jam jualan pusat belanja mewah yang melumpuhkan toko dan pasar tradisional.

Kemudian memperbarui fungsi masjid/musholla sebagai pusat ibadah dan pengentasan/advokasi problem remaja, umat, dan masyarakat umum untuk mencapai solusinya dan meningkatkan kesejahteraan kehidupan yang berkeadilan/pusat kursus ke-Islaman/kepemimpinan remaja/mahasiswa. (disalin dari makalah dengan sedikit editing)

Tentang Penulis

Leave A Response