Busyro Muqoddas: Keluarga kawah candradimuka mewujudkan Khoiru Ummah

Ditulis 14 Agu 2016 - 10:12 oleh Banyumas1

Busyro Muqoddas di masjid baitussalam PurwokertoBanyumasNews.com, PURWOKERTO – Keluarga menjadi pusat pendidikan yang paling utama atau kawah candradimuka dalam upaya mewujudkan khoiru ummah (umat terbaik), dimana orang tua berperan sebagai maha gurunya. Demikian kesimpulan yang bisa dipetik dari ceramah Dr. M Busyro Muqoddas, SH, M.Hum dalam tabligh akbar menyambut HUT RI ke-71 yang diadakan di Masjid Agung Baitussalam, Purwokerto, Minggu pagi (14/08/2016), yang bertema “Merdeka dari Korupsi (Mewujudkan Khoiru Ummah)”. Ceramah dan diksusi dengan mantan ketua KPK itu dipandu  oleh Ir. Muhammad Nuskhi, MSi, dosen Fakultas Peternakan Unsoed yang juga merupakn cucu pahlawan nasional Ki Bagus Hadi Kusumo.

Selengkapnya ceramah Busyro Muqoddas klik : Ciri-ciri Khoiru Ummah

Busyro dalam ceramah yang diselingi pemutara film tentang paradoks Indonesia yang sangat kaya raya namun kondisi masyarakatnya masih dijajah oleh kemiskinan dan ketidakadilan, mengatakan kondisi Indonesia belum sebagaimana diharapkan oleh cita-cita kemerdekaan karena dimpimpin oleh para pemimpin yang tidak mencerminkan sebagai khoiru ummah. Ia memberi contoh perjanjian kontrak karya Freeport yang sejak tahun 1967 hingga sekarang bagi hasilnya tidak menguntungkan Indonesia.

“Adanya fakir miskin yang harusnya mendapatkan perlindungan dari negara, namun karena masih maraknya pencurian kekayaan negara oleh pemimpin yang tidak mencerminkan khoiru ummah, maka negara kita ini ibarat jahanam”, kata tokoh yang lahir di Yogyakarta pada 17 Juli 1952 itu seraya menyebut jahanam dalam tanda petik.

Pada bagian lain ceramah, Busyro yang sekarang menjadi dosen FH UII dan Pengurus PP Muhammadiyah bidang pengkaderan itu mengatakan, pengalamannya sebagai ketua KPK menjadikan dirinya tahu betapa kekayaan alam negara ini banyak dicuri. “Batubara dikirim ke luar negeri secara illegal, melalui pelabuhan tikus yang sengaja tidak dijaga. Dan jumlah pelabuhan tikus itu ada seribuan”, katanya dengan nada prihatin.

Dikatakan, di masyarakat ada kasus-kasus pencurian, perjudian, dan kasus pidana lain, yang menunjukkan umat belum menjadi khoru ummah atau umat terbaik yang sesuai al Qur’an dan Sunnah. “Namun kejahatan oleh pemimpin di bidang sosial, ekonomi, politik itu yang sangat berbahaya”, katanya.

Ia lalu mengajak hadirin untuk membentuk keluarga sebagai pusat pendidikan yang utama, dimana para orang tua menjadi maha guru. Peran orang tua termasuk dalam memberikan rezeki yang tidak berasal dari usaha yang haram. Mengutip pengalaman Prof Dr Dadang Hawari, psikolog dari UI, ia mengatakan harta yang diperoleh dari korupsi untuk menafkahi keluarga, menhadikan anak-anak para koruptor itu ‘bermasalah’.

Ia juga mengutip hadis “Sungguh tidak akan masuk surga daging dan darah yang tumbuh dari rezeki haram, nerakalah yang berhak ditempati” (HR Turmudzi dan Ibnu Majjah dari Ka’an bin Ujrah. Karena itu keluarga yang menjadi pusat dan kawah candradimuka dalam mendidik ‘pemimpin bangsa/negara/profesi yang saleh’, harus terhindar dari rezeki yang cara memperoleh yang haram.

Tabligh akbar menyambut HUT RI ke-71 digelar bertepatan dengan kajian ahad pagi yang tiap minggu digelar oleh Takmir Masjid Agung Baitussalam Purwokerto. (BNC/phd)

Tentang Penulis

Leave A Response