Pembelajaran dari kematian Mike Mohede

Ditulis 04 Agu 2016 - 13:36 oleh Banyumas1

mike mohedePenyanyi muda alumni program talent show Indonesian Idol Mike Mohede meninggal dalam usia muda. Meninggalnya penyanyi penuh talenta itu tentu mengejutkan semua orang. Bakat menyanyi yang dihargai dunia, sayang sekali kalau sampai harus berakhir mati muda. Kita prihatin, bukan saja karena dia aset bangsa, terlebih mestinya tidak perlu terjadi kematian prematur semacam itu. Mengapa seharusnya tidak perlu terjadi?

Di mata medis ada kejadian yang diistilahkan sebagai kematian prematur, mati muda, premature death, kematian sebelum waktu yang sesungguhnya. Misal karena sikap hidup fatalistic.

Membiarkan penyakit, ancaman penyakit, sehingga terjadi peristiwa seperti sedang menggali liang lahat sendiri, bisa sebab ketidaktahuan, atau sikap pembiaran. Tidak selalu harus dibilang kejadian ini sudah kehendak Yang Maha Khalik untuk setiap premature death semacam ini.

Orang yang tahu bahwa penyakit diabetik, atau hipertensi, atau kelebihan lemak dalam darah bisa berkomplikasi pada jantung, otak, dan ginjal, kemudian berakibat kematian, namun bersikap membiarkan penyakitnya tidak diobati tergolong sikap fatalistic. Jadi kehendak siapakah kematian akibat sikap pembiaran tidak mengatasi penyakitnya? Bisa juga karena tidak tahu, sesat pikir, dianggap penyakit bisa selesai hanya dengan berdoa.

Di mata medis, siapa pun, betapa beriman sekalipun seseorang, kalau penyakit berkomplikasi jantung, otak, atau ginjal dibiarkan tanpa upaya mengobatinya, cepat atau lambat, tentu akan mengancam nyawa. Sikap pembiaran penyakit berlarut-larut sehingga mengancam nyawa, tentu bukan sikap yang direstui Maha Khalik.

Kalau sekarang serangan jantung, stroke, dan kerusakan ginjal menambah besar angka statistik menimpa kelompok umur yang lebih muda, juga bukan kehendak Yang Khalik. Dulu orang baru bermasalah dengan jantung, otak dan ginjalnya setelah umur kepala enam. Sekarang semakin banyak yang sudah menimpa kelompok usia produktif 40-an, bahkan lebih muda. Artinya proses memburuknya penyakit sudah dimulai pada usia yang jauh lebih muda.

Anak di negara maju, dengan pola makan menu mewah, fast food, junk food, dan gaya hidup yang keliru, dinding pembuluh darahnya sudah mulai dilapisi tumpukan lemak sejak usia remaja. Kalau menu dan gaya hidupnya yang menyokong pembentukan tumpukan lemak pembuluh darah dibiarkan, maka setiap tahun tumpukan plaque itu bertambah tebal 2 persen, atau pada umur 40-an sudah menyumbat lebih separuh penampang pembuluh darah jantungnya. Beruntung kalau bisa kedapatan dan dipasang cincin stent, sehingga ancaman kematian bisa dicegah. Bukan jarang yang kebobolan. Kondisi membiarkan ini yang memasukannya menjadi berisiko terserang jantung koroner, selain berisiko terserang stroke, dan atau ginjalnya sudah bermasalah.

Proses puluhan tahun menjadi semakin memburuknya sumbatan lemak pembuluh darah, sebetulnya bisa dihentikan jauh hari sebelum semakin menyumbat pembuluh darahnya, saat serangan jantung dan atau stroke terjadi. Ada cukup waktu untuk tidak membiarkan sumbatan pembuluh itu semakin tebal, lalu terjadi serangan jantung koroner, dan atau stroke, atau merusak ginjal, lalu merenggut nyawa.

Jadi itu berarti, kalau ada orang yang hari ini terserang jantung koroner, dan atau stroke, dan atau ginjalnya bermasalah, itu lantaran membiarkan penyakit yang mendasari sehingga lemaknya semakin menumpuk pada dinidng pembuluh darah jantungnya, lalu menyumbat pembuluh darah jantung dan atau otak, tidak dihentikan. Di mata medis akibat semacam ini bukan kehendak Yang Di Atas, kalau kemudian mereka terserang jantung, dan akhrnya merenggut nyawa.

Semua orang dengan risiko terserang jantung, stroke, gangguan ginjal, bisa sama sehatnya dengan orang yang tidak memikul bakat atau risiko itu, kalau saja mengendalikan semua faktor risiko, yakni mengendalikan penyakitnya, dan memilih gaya hidup yang menyehatkan. Sayangnya mereka tidak melakukan upaya pencegahan itu karena ketidaktahuan, kalau bukan sikap pembiaran pada penyakitnya.

Pemerintah Singapura ikut campur dalam menyehatkan rakyatnya dengan tidak membiarkan masyarakatnya mengonsumsi garam berlebihan, dan menyuluh para eksekutif muda sebagai aset bangsa, agar selain tetap sehat, juga berkesempatan hidup merentang umur lebih panjang, dan tidak mati prematur. Negara ini hendaknya juga melakukan itu.

10 tahun lalu, penulis artikel ini pernah berbicara di depan Ikatan Motor Indonesia tentang bagaimana hidup sehat di usia produktif kalangan manajer. Tapi berapa ratus saja yang mendengar. Harusnya ada program penyuluhan pemerintah, sejak usia sekolah, bagaimana gaya hidup dipilih, dan terbentuk perilaku hidup sehat sejak sekolah dasar, agar ancaman kematian ketika usia masih belia, tidak perlu terjadi. Dengan cara itu aset bangsa dijaga. (sumber viral medsos)

 

Tentang Penulis

Leave A Response