Kemarau datang, nira kering, perajin gula pun resah

Petani gula merah di Kecamatan Cilongok, Banyumas, resah. Sebab, dengan datangnya kemaru saat ini produksi nira menurun drastis. Bahkan, beberapa pohon kelapa layu karena kekurangan asupan air.
Kondisi ini membuat penghasilan petani penderes ikut turun. Padahal, sekarang ini kebutuhan hidup mereka cukup tinggi. “Petani sekarang sedang kolep karena produksi nira menurun,” kata Kades Sudimara Waryoko kepada Radarmas, kemarin.
Dikatakannya, penurunan pengahasilan ini cukup mengancam roda ekonimi warga. Apalagi di desa setempat 65 persennya adalah petani penderes. “Nasib petani sekarang sedang kurang baik, karena penghasilan yang diperoleh tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga,” ujarnya.
Hal tersebut diakui oleh para petani penderes. Mereka mengaku, selama kemarau, petani hanya mampu memproduksi 3 kilogram gula merah per hari. Padahal, sebelumnya petani bisa memproduksi 10 kilogram gula merah per hari. “Sekarang hasilnya sedikit banget,” kata Supri petani penderes desa setempat.
Wasiyah petani penderes lain di Desa Pageraji menimpali, kondisi seperti ini dialami setiap tahun sekali, terutama saat kemarau datang. “Saya hanya bisa pasrah, karena penghasilan kami hanya dari pohon kelapa,” ucapnya.
Penurunan produksi ini membuat petani tidak memperoleh keuntungan. Biaya operasional lebih tinggi dari hasil penjualan gula merah. “Kalau penjualan sedikit otomatis penghasilannya sedikit,” tuturnya singkat.
Meski demikian, akibat penurunan produksi membuat harga gula merah cenderung mengalami kenaikan.. Di pasaran, kini gula merah mencapai Rp 6.000 per kilogram, dari sebelumnya Rp 5.500 per kilogram.
“Berkurangnya produksi gula merah di tingkat petani membuat tengkulak mulai menyesuaikan dengan harga baru,” terang Usman salah satu penjual gula di Pasar Ajibarang.
Usman menambahkan, berkurangnya pasokan gula merah dari petani membuat persediaan di tingkat tengkulak menurun. Di kiosnya, saat kondisi normal bisa menampung gula merah dari petani senilai satu ton lebih.
Namun, kini hanya mampu menyediakan sekitar lima kwintal per hari. “Saya sudah merasakan ada pengurangan persediaan, karena terbatasnya pasokan dari petani gula merah,” ujar dia.(banyumasnews.com/pjl)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.