Forum ulama Jatim: Haram bergelar kyai, kalau tak punya pondok pesantren

KEDIRI –  Urusan haram-mengharamkan sedang jadi trend. Kali ini soal pemakaian gelar kyai. Dari Kediri dilaporkan, selain membahas dukungan kepada KH Solahuddin Wahid alias Gus Sholah, pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes), Tebuireng, Jombang untuk menjadi kandidat ketua umum PBNU dalam muktamar Makassar, Forum Pengasuh Pondok Pesantren dan Habaib (FP3H) se Jawa-Madura yang digelar di kediaman KH Idris Marzuki, pengasuh Ponpes Lirbyo Kediri, juga membahas mengenai pemberian label kiai.

Sekitar 50 orang kiai yang hadir menyepakati hukumnya haram kepada seseorang yang menyebut atau disebut sebagai kiai, namun tidak memiliki pondok pesantren. Hal itu hasil dari Bathsul Masail yang digelar Makkah. “Kiai itu harus mempunyai pondok pesantren. Kalau tidak, maka haram hukumnya. Hasil Bathsul Masail yang digelar di Saudi Arabia ini tadi juga dimunculkan dalam forum itu,” kata Pengasuh Ponpes As-Somadiyah, KH Sofiyullah, kepada beritajatim.com, Minggu (14/2/2010).

Diakui KH Sofiyullah bahwa seluruh kiai yang hadir dalam forum di Lirboyo Kediri tidak ada yang membantah mengenai keputusan Bathsul Masail dari Makkah tersebut. “Selain tidak membantah, para kiai juga tidak ada yang memperpanjang masalah ini. Jadi, yang namanya kiai wajib hukumnya memiliki pondok pesantren,” tegas Kiai Sofiyullah

Sementara itu, keinginan Forum Pengasuh Pesantren dan Habaib se Jawa dan Madura agar gelar kiai hanya diperuntukkan bagi mereka yang menjadi pengasuh pesantren cukup menggelitik PBNU. Rais syuriyah PBNU KH Hafidz Utsman menanggapinya dengan tertawa ketika ditanya mengenai masalah ini.

“Kiai itu bukan gelar, tetapi ungkapan kehormatan santri kepada gurunya,” katanya kepada NU Online, Senin (15/2).

Kiai merupakan gelar kehormatan bagi sesuatu yang luar biasa yang diberikan oleh suku Jawa. Bukan hanya kepada manusia, gelar kiai juga disandangkan kepada kerbau milik Kasunanan Solo, dengan nama Kiai Slamet, yang dianggap keramat yang setiap bulan Maulud diarak keliling kota.

Setiap suku memiliki gelarnya sendiri-sendiri untuk tokoh agama yang dihormatinya, di Sunda disebut Ajengan, di NTB di sebut Tuan Guru, di Kalimatan di sebut Muallim, dan lainnya.

“Makanya jangan dipersulit, biar saja, orang juga tahu mana yang pantas mendapat gelar kiai dan tidak,” tuturnya. (BNC/NUol)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.