Kata mereka tentang Dalang Gino atawa Ki Sugino Siswocarito

dalang ginoDalang Ki Sugino Siswocarito atau yang dikenal sebagai Dalang Gino, lahir di Desa Sawangan Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas, 14 Mei 1937. Ia wafat pada usia 76 tahun, pada hari Ahad 20 Januari 2013 di RS Pantirapih Yogyakarta. Untuk mengenang tokoh seni tradisi Banyumas ini, selama tiga hari dari Jum’at hingga Minggu, 16-18 Oktober 2015, diadakan peringatan 1000 hari meninggalnya Dalang Gino: “Nyewu Dina Mbah Dalang Gino, Cengkok Notog Gagrak Nusantara”. Beritanya klik di sini.

Berikut komentar-komentar mengenai Ki Sugino Siswocarito dari beberapa tokoh seniman maupun dari masyarakat mengenai sang maestro wayang gagrak Banyumasan itu.

Ki Manteb Sudarsono:
“Saya kenal Mas Sugino Siswo Carito sudah lama dan Mas Gino sudah pernah saya undang pentas mayang hari kelahiran saya Selasa legen (Legi, Red) di rumah saya Karangpandan Karanganyar,”

Ia menambahkan, dalang Gino yang mendalang sejak umur 21 tahun merupakan dalang merakyat dengan bahasa logat Banyumasan. Menurutnya, Mas Gino -begitu Ki Manteb menyebut- tetap digemari masyarakat terutama masyarakat Bamyumasan .

“Saya punya kenangan sendiri dengan mas Gino main Ketoprak bareng-bareng di Gedung Suteja Purwokerto ,” lanjutnya seperti dikutip Tribun Jogja.

Ki Daryanto Purbocarito:
Ketika mendengar Dalang Gino meninggal, Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Cilacap Daryanto Purbocarito mengatakan seluruh dalang di Keresidenan Banyumas kehilangan maestro dalang “Gagrak Banyumasan”.

“Pak Gino itu gurunya semua dalang di Keresidenan Banyumas dan dia bukan saja seorang dalang legendaris, tetapi seorang maestro,” katanya kepada ANTARA saat melayat almarhum Ki Sugino Siswocarito di rumah duka, Desa Notog, Kecamatan Patikraja, Banyumas.

Lebih lanjut, Daryanto mengatakan, gagrak atau gaya yang dimainkan Ki Sugino Siswocarito seakan sudah menjadi ciri khas di Banyumas. “Gagrak pedalangan kan ada gaya Solo, Yogyakarta, dan Banyumasan. Menurut saya, kalau di Banyumas ini gagrak ‘Ginoan’, ini yang sulit ditiru oleh dalang-dalang lain,” katanya.

“Kami sangat kehilangan tokoh seni khususnya pedalangan yang membawa nama baik dalam rangka ketahanan budaya,” katanya seperti dikutip Antara.

Jarot C Setyoko:

Ketua Panitia Nyewu Mbah Dalang Gino yang juga Direktur Rumah Aspirasi Budiman ini mengatakan dua hal mengenai Dalang Gino: “Pertama, Mbah Gino diakui sabagai maestro pedalangan yang berhasil mengangkat pewayangan Gagrak Banyumasan. Kedua, sosok Mbah Gino telah menjelma sebagai ‘ruang’ bagi para seniman tradisi untuk bersolidaritas.”, katanya di akun facebook-nya.

Ajen Sisworo (putra Dalang Gino):
Menurut putra pertama Dalang Gino ini, semasa hidupnya sebagai dalang, beliau lebih senang memainkan lakon cerita Carangan. Yakni, lakon cerita yang lepas dari pakem. Sangat jarang almarhum memainkan lakon cerita pakem yang bersumber dari kisah Mahabarata atau Ramayana.

Melalui lakon carangan tersebut, Dalang Gino lebih leluasa memainkan dan membuat cerita tanpa harus terikat dengan lakon-lakon pakem. Tokoh-tokoh wayang yang ditampilkan dalam lakon yang sering dimainkan Dalang Gino, adalah tokoh anak-anak Pandawa seperti Gatotkaca, Antasena, Antareja, Abimanyu dan Wisanggeni.

”Tokoh-tokoh wayang, seperti Antasena dan Wisanggeni, identik sebagai tokoh wayang Banyumas. Dalam cerita wayang gaya Solo atau Yogya, tidak dikenal adanya tokoh kedua wayang tersebut,” kata Ajen Sisworo.

“Selain mendalang, Dalang Ki Sugino Siswocarito, juga telah menghasilkan ratusan karya gending Banyumasan. Gending gamelan gaya Banyumasan ini, juga memiliki nuansa berbeda dari gending gaya Surakarta atau Yogyakarta. Irama dari gending Banyumasan ini, lebih rancak dan ceria daripada gending gaya Surakarta atau Yogya”, kata Ajen dikutip Republika.

Ki Ali – kompasiana
“Dhalang-dhalang sing tau pentas neng desa inyong kaya-kayane kabeh pada niru gaya ndhalange Ki Sugino. Ning senajana nirua kaya ngapa, akehe wong pada kandhah jere ora kaya dhalang Gino baen. Apane sing ora padha? Akeh. Kabeh. Mempera nggulih nyuwara Bawor, jere ora teyeng ngGareng. Mangsude kayane teyeng niru siji ora teyeng niru liyane. Dadi carane ya dhalang Gino megin dadi dhalang kelangenane wong desa inyong”, kata Ki Ali di kompasiana.

Lainnya:

“Mendengarkan karya-karya klasik Ki Sugino Siswocarito, dalam kondisi apapun, siang atau malam, sendiri atau beramai-ramai, tidak hanya seperti mendengarkan sandiwara radio yang diisi oleh banyak pengisi suara. Dengan modal penghayatan jiwa yang memadai untuk meresapi setiap bagian yang tersaji, seperti memasuki sebuah dimensi yang menempatkan pendengarnya baik sebagai saksi, tokoh-tokoh, korban, atau pelaku.

Siapa yang tidak ikut tergelak-gelak mendengarkan dialog konyol antara Togog Tejamantri dengan Sarawita ketika keduanya menghadap raja negeri Sengkapura, Prabu Sasrawindu, dalam bagian awal lakon carangan Togog Mendem”, kata seorang bloger.

“Ki Sugino Siswocarito adalah THE MOST FAMOUS DALANG IN GAGRAG BANYUMAS, pembawa genre sendiri untuk wayang a la Banyumasan yang menjadi trendsetter hampir semua dalang lokal yaitu Ki Sugino Siswocarito alias Dalang Gino. Dan gaya mendalang beliau banyak disebut sebagai Wayang Ginoan”, kata kluban.net.

(BNC/adhis)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*