Mengenal pusat batu permata Chanthaburi di Thailand

Ditulis 14 Okt 2015 - 18:01 oleh Banyumas1
Tambang batu permata yang terrbuka dekat kota di Thailand

Penambangan batu permata di luar kota dekat Chanthaburi

Di sebuah paviliun kayu kecil yang menghadap sungai, tiap pagi Olan Phengkit (64) sarapan pangsit rebus. Bertubuh pendek, dengan perut membuncit, Olan telah terlibat dalam pertambangan dan jual beli batu permata sejak muda. Sungai di depan paviliun, yang berada kira-kira 20 meter di bawah dan berukuran setengah lapangan sepak bola, tampak gelap dengan airnya yang keruh. Ini menunjukkan sejauh mana kegiatan pertambangannya telah berlangsung.

“Saya berhenti satu tahun yang lalu karena saya kehabisan tanah,” kata Olan, “jadi sekarang saya hanya membeli dan menjual.”

Tambang kakak perempuan Olan, dengan ukuran beberapa kali luas lapangan sepak bola dengan kedalaman hingga 60 meter, ada beberapa ratus meter dari pavilion Olan. Ini salah satu tambang aktif terakhir di daerah sekitar Khao Phloi Waen (harfiah “Bukit Permata”), kurang dari 10 km dari kota provinsi kecil Chanthaburi dan lima jam perjalanan ke timur dari ibukota Thailand, Bangkok.
“Tahun lalu, tanah di sini penuh batu [permata], tapi sekarang tidak banyak yang tersisa,” kata Olan.

“Lihat gambar foto safir yang di dinding,” ia melanjutkan. “Itu berasal dari tambang kakakku. Aku membelinya dari dia, dipanaskan dan memotongnya, dan menjualnya selama lima juta baht [HK $ 1.200.000]. Ia begitu indah. Sebelum saya menjualnya, aku panggil seorang fotografer untuk mengambil gambarnya sehingga saya bisa selalu ingat batu yang cantik itu.”

Cerita Olan yang hampir sama dengan cerita banyak keluarga di dan sekitar Khao Phloi Waen.

Mengunjungi Chanthaburi selama seminggu kita akan menemukan sebuah kota kuno khas provinsi Thai, yang meliuk di antara bukit-bukit bak sebuah bantalan.

Lebih dekat lagi, Anda akan melihat adanya jejak-jejak kehidupan yang lebih luar biasa. Dalam sebuah toko, rak kalung batu permata berwarna cerah berdiri di samping kasir; salon penata rambut memiliki meja yang penuh dengan kotak plastik kecil yang berisi batu mengkilap dari semua warna; lampu jalan di sebuah jembatan berbentuk batu rubi sempurna mengeluarkan cahaya merah di malam hari.

Pedagang batu asal Pakistan berbelanja di Chanthaburi

Pedagang batu asal Pakistan berbelanja di Chanthaburi

Saat weekend, Chanthaburi menjadi lebih hidup. Pasar batu permata mengambil alih keramaian di beberapa blok ruko dan ratusan meja penuh dengan batu permata kecil berwarna-warni tumpah ke jalan. Di hadapannya duduk para pedagang dari seluruh dunia, dari Pakistan dan Jerman sampai dari Sri Lanka dan Jepang. Semua bersaing untuk membeli batu permata dengan harga terbaik.

Di antara mereka ada seorang pria dari Peshawar, Pakistan utara. Ia membawa selembar kertas yang ditaruh di atas meja, bertuliskan dalam huruf Thailand jenis batu permata yang ingin ia beli dan gambar sederhana cara pemotongan (cutting) yang ia cari.

Sejauh mana pengaruh perdagangan permata di kota Chanthabhuri dapat dilihat pada sebuah proyek kolaborasi antara CBS (Chanthaburi Boonkumkrong Group) perusahaan ‘pabrik’ batu permata dengan penjara lokal. CBS adalah grosir dan produsen safir biru dan safir hitam yang berasal dari seluruh dunia dan dibawa ke Chanthaburi untuk dipanaskan dan di-cuting, dengan melibatkan para penghuni penjara sebagai tenaga pemotongan.

Pemilik CBS adalah Phaiboon Pimla (51), yang memiliki ide melibatkan para narapidana ketika ia sendiri berada di penjara, menjalani hukuman tujuh tahun karena kasus narkoba. Ia berasal dari keluarga yang hidup dari batu permata di Chanthaburi, yang masuk penjara gara-gara kalah judi dan melunasi hutang judi dengan menjual ganja dan amfetamin.

Olan Pgenkit asyik dengan batu-batu permata

Olan Pgenkit asyik dengan batu-batu permata

Phaiboon tahu bagaimana kebosanan kehidupan di penjara dan sadar akan kesulitan hidup yang dihadapi tahanan setelah mereka bebas.

“Ada banyak tahanan yang sangat cerdas dan terampil, terutama di bidang seni. Mereka hanya tidak memiliki kesempatan dalam hidup dan itulah mengapa mereka ditangkap,” katanya, di rumahnya yang rapi yang berfungsi juga sebagai kantornya.

Sampai di tahun ketiga, ia mempekerjakan sekitar 80 laki-laki dan 30 tahanan perempuan, yang ia latih sendiri. Hari-hari para tahanan itu kini dihabiskan untuk ‘polishing’ safir bagi perusahaannya. Upah mereka dibayarkan secara bulanan ke penjara dan pada tanggal tertent para tahanan menerima dalam jumlah penuh.

“Mustahil tidak ada batu dicuri [oleh narapidana], tapi itu terjadi dalam jumlah yang sangat kecil yang hilang, karena kita telah menerapkan sistem yang baik di sana,” katanya.

Batu permata terutama rubi dan safir, telah ditambang di Chanthaburi selama berabad-abad. Tetapi industri ini tidak beranjak sampai tahun 1850-an, ketika Inggris datang dan menguasai Burma, yang memungkinkan pedagang Burma untuk menyeberang ke Thailand dalam perjalanan ke Indochina. Burma yang memiliki jauh lebih luas lahan tambang batu permata dari negara tetangganya, orang-orangnya lebih berpengalaman. Jadi ketika mereka menemukan pusat perdagangan di Chanthaburi, banyak yang kemudian menetap di sini dan mulai membawa batu permata dari negaranya untuk diproduksi di sini.

Meski begitu, butuh waktu sampai awal 1960-an bagi industri batu permata di Chanthaburi untuk mencapai level yang levih tinggi. Pada tahun 1962, politisi Burma dan komandan militer Ne Win mengambil alih kekuasaan dari Inggris dan menutup Burma dari dunia luar selama 40 tahun. Embargo perdagangan ditujukan pada junta militer membuat bisnis menjadi sulit dan penuh risiko.

Terputus dari pasokan batu permata Birma, yang di antaranya adalah batu rubi darah merpati – batu kualitas terbaik – para pedagang mencari alternatif, dan justeru dari sini mulailah zaman keemasan Chanthaburi. Selama lebih dari 30 tahun sesudah itu, 95 persen pasokan dari batu rubi di dunia dan sebagian besar safir, berasal dari Chanthaburi.

Sumber: South China Morning Magazine

Tentang Penulis

Leave A Response