Pembongkaran bangunan NV Ko Lie Sokaraja: Banyumas kehilangan lagi bangunan kuno bersejarah

anak berfoto di puing kho lieBanyumas kembali kehilangan bangunan kuno bersejarah berusia 100 tahun lebih, yang sangat erat kaitannya dengan sejarah ekonomi perdagangan dan asal-usul kedatangan etnis Tionghoa di Banyumas (Purwokerto dan sekitarnya). Setelah Pabrik Gula Kalibagor dibongkar pada Maret lalu, kini sebuah bangunan rumah sekaligus kantor NV Ko Lie, perusahaan yang bergerak di bisang ekspor-impor awal tahun 1900-an, yang berada di kawasan pecinan Sokaraja, tepatnya di Jalan Gatot Subroto (50 meter dari traffic light klenteng ke arah Banyumas) tinggal puing setelah dibongkar.

BanyumasNews.com mengabadikan puing-puing dan sisa bangunan berupa dinding tembok bertinggi sekitar 3 – 4 meter pada Sabtu sore (3/10/15). Menurut warga yang tinggal di kampung belakang gedung kuno itu, pembongkaran sudah dilakukan sejak sekitar sebulan lalu. “Kayu-kayunya dibawa dengan container, katanya mau dibawa ke Bali”, kata seorang mahasiswi yang tidak mau disebut namanya, yang tinggal di perkampungan dekat gedung Ko Lie.

Gedung NV Ko Lie tinggal puing
Gedung NV Ko Lie tinggal puing

Bangunan bekas kantor NV Ko Lie tercatat sebagai bangunan cagar budaya pada 5 Oktober 2004 dengan nomor inventaris 11-02/Bas/34/TB/04. Dengan pembongkaran tersebut, Banyumas kehilangan ‘monumen’ penting sejarahnya. Menurut Arkeolog dari UGM Ania Nugraini, dikutip media menyebut pembongkaran tersebut sebagai kehilangan besar sejarah penting di Banyumas, karena bangunan rumah pecinan yang dibongkar itu adalah monumen penting dunia perdagangan ekspor-impor pada masa kolonial.

Ia juga sangat menyesalkan pembongkaran bangunan kuno sebagai monumen ingatan pada sejarah di Banyumas tempo dulu satu persatu jejaknya dilenyapkan. Seakan tak ada arti dan nilainya.

Aktifis Banjomes Heritage History Community (BHHC) Jatmiko Wicaksono, juga menyayangkan pembongkaran Bangunan bergaya campuran China-Jawa-Indisch itu. Jatmiko menulis panjang sejarah itu di web-nya dengan menampilkan foto-foto yang diambilnya pada tahun 2011, yang memperlihatkan kondisi gedung relative masih utuh. Foto-fotonya lah yang kini tinggal menjadi kenangan pada gedung yang masa lalu menjadi pengendali perusahaan yang memiliki cabang di berbagai kota di Jawa itu, dan berhubungan dengan pedagang-pedagang Eropa.

Kini bangunan itu tinggal puing batu bata dan semen merah serta kapur. Benda dan ornament berharga dari bangunan seperti keramik, kayu, kaca, dan genteng antik tidak ada yang tersisa alias dibawa keluar kota.

Bangunan itu pada tahun 2014, kata seorang netizen bernama Robert Kurniawan dalam komentarnya di situs BHHC, sudah dijual kepada seorang yang tinggal di Jawa Timur, yang bukan berasal dari keturunan atau bukan keluarga pemilik NV Ko Lie. Ia pun ketika itu sudah mengkhawatirkan bangunan kuno itu akan dibongkar karena akan diambil kayu-kayunya.

tampak depan gedung Kho Lie (Wahyu jatmiko_Banjoemas)selasar dan taman di dalam gedung kho lieDari berbagai sumber, Sokaraja di awal 1900-an merupakan kota perdagangan penting, karena terhubung jalur kereta api Wonosobo-Banjarnegara-Sokaraja-Sampang-Maos-Cilacap. Ketika itu Purwokerto belum tersambung rel kereta api, karena jalur rel kereta api Cirebon-Kroya baru dibangun kemudian. NV Ko Lie memiliki skala usaha yang menjangkau hingga Eropa. NV Ko Lie mengekspor gula, tepung terigu, bahkan kerupuk udang.

Bangunan kantor NV Ko Lie dibangun oleh Kho Han Tiong, Letnan Tionghoa Sokaraja
(1884-1932), jabatan strategis yang diberikan pemerintah kolonial Belanda bagi kaum Tionghoa.

Jika Anda belum pernah melihat langsung bangunan itu, Anda bisa melihat foto-foto bangunan NV Kho Lie dan sejarahnya di web BHHC http://www.banjoemas.com/2011/10/sisa-sisa-kejayaan-kho-lie.html web yang khusus mengulas sejarah seputar Banyumas.

mobil opel Olympia (1951) dan ukiran China di rumah kho lieDi sekitar  bekas gedung NV Ko Lie, masih terdapat bangunan-bangunan lama, seperti di sebelah utara gedung Ko Lie, di seberang kelenteng, dan di seberang gedung Ko Lie sendiri. Juga di depan klenteng. Bangunan-bangunan tua itu menjadi saksi kejayaan Sokaraja di masa lalu sebagai pusat bisnis dan perdagangan di Banyumas. (BNC/phd/foto-2 gedung Ko Lie utuh diambil dari Banjoemas.com)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.