Jalan kaki 2 km di tempat lahir Soedirman, cara Danrem 071/Wijayakusuma hormati Jenderal Soedirman

film jenderal soedirmanFilm Jenderal Soedirman mulai diputar serentak di bisokop Indonesia 27 Agustus 2015. Sosok Jenderal Soedirman tidak bisa dilepaskan dari tanah Banyumas, tanah kelahiran sang Panglima Besar, tepatnya di desa Bantarbarang, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, eks Karesidenan Banyumas, Jawa Tengah. Di sana, untuk menghormati beliau, dibangun Museum Tempat Lahir (MTL) Jenderal Soedirman. Ada barang-barang peninggalan yang terkait dengan Sang Jenderal, juga diorama hidup dan perjuangan Soedirman, termasuk ketika Soedirman muda aktif sebagai pengajar (guru) dan aktif di kepanduan Hizbul Wathan (HW) Muhammadiyah.

Nah di komplek Museum Tempat Lahir Soedirman inilah, ada tradisi yang diadakan pada setiap pergantian Komandan Resort Militer (Danrem) 071/Wiayakusuma. Apa itu? Danrem baru yang akan menjabat Danrem 071/Wijayakusuma, harus melewati tradisi berjalan kaki sepanjang kurang lebih 2 kilometer, dimulai dari lapangan desa Bantargebang menuju Museum Tempat Lahir (MTL).

Tradisi ini diselenggarakan sebagai bentuk penghormatan dan membangkitkan jiwa perjuangan Jenderal Soedirman. Danrem 071/Wijayakusuma sekarang, Kolonel Inf Edison, salah satu yang harus menempuh tradisi itu, ketika menerima estafet dari Danrem sebelumnya Kolonel Kav Nugroho Tjendakiarto, pada Sabtu 1 Maret 2014 tahun lalu.

Tradisi mengenang Jenderal Soedirman itu diikuti Danrem lama dan Danrem baru 071 Wijayakusuma didampingi para Komandan Kodim (Dandim). “Tradisi ini digelar setiap ada pergantian danrem. Tujuannya untuk mengenal lebih dekat tentang kepribadian dan perjuangan Jenderal Soedirman. Juga untuk meningkatkan motivasi tugas dan pengabdian kepada masyarakat, bangsa dan negara bagi kita generasi muda,” kata Nugroho Tjendakiarto kala itu.

Sebagai seorang prajurit, lanjut Nugroho, Jenderal Besar Soedirman dalam tutur kata, perbuatan dan hidupnya selalu berorientasi pada kepentingan rakyat, bangsa dan negara. Soedirman mengajarkan kepada TNI dasar-dasar keprajuritan dan taktik perang gerilya yang menjadikannya sebagai pemrakarsa lahirnya TNI.

“Meskipun beliau sudah tiada, jiwa, semangat, nilai-nilai kejuangan serta kesetiaan kepada rakyat, bangsa dan negara harus kita warisi,” katanya.

Danrem 071/Wijayakusuma Kol Inf Edison
Danrem 071/Wijayakusuma Kol Inf Edison

Sementara itu, Edison mengatakan Jenderal Soedirman adalah tokoh idolanya sebagai seorang TNI. Apa yang diucap dan diperbuat oleh Jenderal Soedirman muncul dari dalam hati. “Beliau berasal dari orang biasa dari kampung, tapi bisa lahir sebagai seorang panglima besar,” katanya. Ia berharap, akan muncul Soedirman-Soedirman baru dari TNI yang mampu membesarkan bangsa dan negara.

Kisah perjuangan Soedirman kini diabadikan dalam sebuah film “Jenderal Soedirman” yang disutradarai oleh Viva Westi dan tengah diputar di seluruh Indonesia, mulai 27 Agustus 2015. Bioskop Rajawali Purwokerto termasuk bioskop yang ikut memutar film yang diproduseri oleh Sekar Ayu Asmara dan melibatkan TNI AD dalam penggarapannya itu. (BNC)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*