Warga Purbalingga Tergelitik Kelola Lahan Hutan Lindung

Ditulis 07 Feb 2010 - 21:10 oleh Banyumas1
Lahan hutan dimanfaatkan warga (foto:tgr/BNC)

Lahan hutan dimanfaatkan warga (foto:tgr/BNC)

PURBALINGGA – Bupati Purbalingga Drs H Triyono Budi Sasongko, M.Si mengakui banyak warga disekitar hutan lindung Gunung Slamet yang tergelitik untuk memanfaatkannya sebagai lahan tanaman pertanian khususnya sayuran dan kentang. Namun, meski demikian, Bupati mengingatkan jika pemanfaatan lahan di hutan lindung harus tetap mendapatkan ijin dari kesatuan pemangku hutan dan juga tidak mengabaikan kelestarian lingkungan.

”Warga sering kali tergelitik ketika melihat lahan kosong di areal hutan lindung. Hal itu karena memang belum ditanami dengan tanaman pengganti oleh Perhutani. Kondisi ini tentunya bisa memancing warga untuk memanfaatkannya. Jadi warga tidak menjarah, tetapi hanya memanfaatkan lahan kosong,” kata Bupati Triyono ketika bersilahturahmi dengan warga Desa Serang, kecamatan Karangreja, Purbalingga. Desa Serang merupakan salah satu desa yang berada di kaki Gunung Slamet dan sebagian wilayahnya juga berupa hutan lindung.

Menurut Bupati, kondisi lahan hutan yang kosong sepertinya membuat gamang warga jika tidak memanfaatkannya. Awalnya hanya mencoba empat bulan saja, eh ternyata hasil panenan sayuran lumayan menguntungkan. Lalu warga menambah lagi waktu untuk mencoba memanfaatkan lahan. Dan pada akhirnya warga terbiasa memanfaatkan lahan itu. ”Bukan berarti saya mengijinkan warga untuk memanfaatkan lahan hutan lindung yang kosong itu, tetapi karena barangkali terpancing memanfaatkan lahan untuk budidaya sayuran,” kata Bupati Triyono.

Bupati juga mengingatkan warga untuk tidak hanya berpikir sesaat dengan memanfaatkan lahan hutan lindung. Jika lahan yang menjadi konservasi tanah dan air rusak, maka sama halnya melakukan bunuh diri lingkungan secara perlahan-lahan. Anak cucu akan diwarisi kerusakan lingkungan yang pada akhirnya berdampak pada penurunan kualitas sumberdaya manusia.

”Apa jadinya jika mata air Sikopyah yang banyak menjadi sumber kehidupan ribuan warga Purbalingga itu rusak?. Semua akan terkena dampaknya, tidak hanya warga di sekitar mata air itu tetapi juga warga dibagian bawah. Mereka harus menanggung kesulitan air bersih,” kata Bupati Triyono sembari mengingatkan akan terjadinya ancaman krisis air pada tahun 2020 mendatang. (BNC/tgr)

Tentang Penulis

Leave A Response