Jelang 40 hari wafatnya Gus Dur: Makam senilai Rp. 2 M dan patung di Magelang

Ditulis 05 Feb 2010 - 22:19 oleh Banyumas1
|
Berita Kategori
Tak Berkategori
223
Dalam Tag
Gus Dur

Gus Dur

Jelang peringatan 40 hari wafatnya Gus Dur, terbetik berita dari Jombang tentang rencana pembangunan makam Mantan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur di kompleks Pondok Pesantren (PP) Tebuireng, Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jatim, diperkirakan menelan dana hingga mencapai Rp2 miliar. Dana  itu sudah disiapkan Pemprov Jatim dan Pemkab Jombang, masing-masing menanggung 50 persen.

Hal itu dikatakan Wakil Gubernur Jawa Timur, Syaifullah Yusuf yang juga masih keponakan Gus Dur, di Surabaya Jum’at (05/02). Pihaknya sudah memerintahkan Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya untuk segera merealisasikan pembangunan makam Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang meninggal dunia pada 30 Desember 2009 itu.

Pembangunan makam itu akan segera dilakukan, karena pihak pesantren Tebuireng kewalahan mengatasi ribuan peziarah yang datang setiap hari, sehingga menimbulkan kesemrawutan, dan kemacetan di Jombang. Tempat para peziarah, toilet, dan lokasi parkir kendaraan pun tidak mampu menampung. Kedatangan para peziarah di makam Gus Dur itu, juga sering kali mengakibatkan kemacetan di Jalan Raya Jombang-Pare karena lokasi PP Tebuireng berada di pinggir jalan raya itu.

Di Jawa Timur,  peringatan 40 hari wafatnya Gus Dur digelar Pemprov Jatim di Masjid Agung Al Akbar, Surabaya, Sabtu (6/2) malam. Selain itu, pihak keluarga juga menggelar peringatan yang sama di PP Tebuireng, Minggu (7/2) malam.

Patung Gus Dur di Magelang

Sementara itu,  seniman Kabupaten Magelang, Jateng, membuat patung Gus Dur dalam rangka memperingati 40 hari meninggalnya Presiden keempat RI tersebut. Kegiatan para seniman itu berlangsung di Stodio Mendut, Magelang, Jumat, dengan membuat empat patung Gus Dur berbahan batu, yaitu “Sinar Hati Gus Dur” karya Cipto Purnomo, “Gunung Gus Dur” karya Ismanto, “Presiden di Sarang Penyamun” karya Samsudin, dan “Gladiator Gus Dur” karya Jono.

Selain patung, seniman Mami Kato membuat lukisan dengan judul “Gus Dur dan Gembiraloka”. Keempat patung tersebut dibuat dengan berbagai model yang menggambarkan Gus Dur sebagai tokoh pluralisme, misalnya patung karya Ismanto, badan Gus Dur dikerumuni sejumlah satwa dan karya Cipto Purnomo, Gus Dur dengan tubuh Buddha.

Pemilik Stodio Mendut, Sutanto mengatakan, pembuatan patung Gus Dur dengan berbagai model tersebut untuk menjelaskan seorang Gus Dur sebagai tokoh yang multietnis, multikultur, dan sebagainya. Aksi-aksi Gus Dur sebagai pesona yang kaya warna, hadir pada gelanggang kehidupan yang luas (agama, budaya, sosial, dan politik) tentu mendapat apresiasi dari berbagai kalangan, termasuk para perupa. (BNC/ant/berbagai sumber)

Tentang Penulis

Leave A Response