Kisah terpidana mati Mary Jane: kemiskinan dan perdagangan manusia

Ditulis 26 Apr 2015 - 15:07 oleh Banyumas1

mary-jane-fiesta-velosoMary Jane Fiesta Veloso (30) adalah salah satu terpidana mati kasus narkoba yang akan dieksekusi di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Ia seorang ibu dari dua anak asal Filipina yang mendapat paling banyak perhatian dan simpati dari publik ketimbang terpidana mati lain. Hari Jum’at (24/4/15) Mary Jane tiba di Nusakambangan dari LP Wirogunan Yogyakarta, dan Sabtu ini (25/4/15) keluarganya dari Filipina telah tiba menyusul di Nusakambangan.

Dari pulau yang menghadap langsung Samudera Indonesia itu, yang menjadi ‘benteng’ bagi kota Cilacap yang ada di utara pulau itu, berembus kabar kuat bahwa eksekusi akan digelar Selasa pekan terakhir bulan April 2015 ini (28/4/15).

Mary Jane tidak hanya mendapat simpati di negerinya Filipina. Dari dalam negeri Indonesia sendiri banyak simpati bermunculan dan dunia maya twitter kebanjiran hastag atau tagar #MaryJane. Salah satu perhatian datang dari Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap Perempuan, melalui Wakil Ketua Komnas Perempuan Yuniyanti Chuzaifah menyatakan bahwa Mary Jane merupakan korban.

Kisah pilu kehidupa Mary Jane

Yuniyanti menceritakan kisah pilu kehidupan Mary Jane hingga berujung di penjara dan kian dekat ke kematian diterjang timah panas para algojo. Diceritakan, kisah Mary sungguh berliku, bergelimang di antara kemiskinan dan kekerasan, serta jeratan perdagangan manusia.

Menurut Yuniyanti, Mary Jane merupakan korban kekerasan dalam rumah tangga dan perdagangan manusia. Dia berasal dari keluarga miskin di Filipina, pengumpul dan penjual barang bekas atau pemulung istilah di sini. Tak heran Mary Jane putus sekolah dan hanya mengenyam pendidikan sampai tingkat SMP.

Menikah dini pada usia 16 tahun, Mary Jane menjadi korban kekerasan oleh suaminya sendiri. Ia lantas harus berperan sebagai kepala keluarga, menjadi buruh Migran di Dubai, Uni Emirat Arab. “Ia pernah hampir diperkosa di sana,” kata Yuniyanti dikutip dari CNNIndonesia.

Usai dirawat di rumah sakit karena insiden itu, Mary Jane memutuskan untuk kembali ke Filipina. Ia lagi-lagi menjadi pekerja migran dan direkrut oleh tetangganya, Cristina, untuk bekerja di Malaysia sebagai pembantu rumah tangga secara ilegal.

Mary Jane di pengadilan negeri Sleman (KRJogja)

Mary Jane ketika menghadapi pengadilan di Sleman (KRJogja)

Ia sampai harus menggadaikan motor dan ponselnya untuk bisa ke Malaysia. Namun setibanya di Kuala Lumpur, pekerjaan yang dijanjikan ternyata sudah tak lagi tersedia. Mary lalu diminta Cristina untuk ke Indonesia. Ia dijanjikan bakal segera dipekerjakan sekembalinya dari Indonesia.

Di sinilah perjalanan hidup Mary Jane yang mengantarkan ke Pulau Nusakambangan dimulai. Ia ke Indonesia ternyata menurut Yuniyanti ditipu dan malah dijadikan kurir narkotik. Ketika hendak ke Indonesia, tepatnya Yogyakarta, Mary Jane dibekali uang US$500 dan diberi tas untuk menyimpan pakaian dan peralatan pribadinya. Namun tanpa sepengetahuan Mary, kata Yuniyanti, dimasukkan pula heroin 2,6 kilogram ke dalam tas itu. Begitu mendarat di Bandara Adisucipto, Mary ditangkap oleh otoritas Indonesia.

Komnas Perempuan pun kini meminta Jokowi menunggu hasil permohonan Peninjauan Kembali yang diajukan tim penasihat hukum Mary untuk kedua kalinya. PK II ini memasukkan dimensi perdagangan manusia, poin yang tak ada di PK I Mary. Bukti-bukti baru bahwa Mary menjadi korban perdagangan manusia disertakan. Komnas Perempuan juga meminta pemerintah untuk menimbang dimensi perempuan dalam kasus narkotik.

Menurut mereka, perempuan rentan menjadi korban, dijebak untuk menjadi kurir narkotik. Dan itu yang menurut Komnas Perempuan terjadi pada Mary Jane, ibu dua orang anak, seorang buruh migran yang menikah muda dan menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga oleh suaminya. Mary Jane menulis surat ke Presiden Jokowi dengan menonjolkan sisi Jokowi sebagai seorang ayah yang mengandaikana posisi anak-anaknya apabila mengalami nasib seperti dirinya.

Ini bunyi surat Mary Jane kepada Presiden Jokowi:

Kepada Bapak President Joko Widodo

Saya sungguh-sungguh memohon kepada Yang Mulia untuk mengampuni saya dari hukuman mati. Saya percaya dan yakin bahwa Bapak punya hati nurani dan sangat bijaksana untuk mengambil keputusan yang manusiawi.

Saya sebagai ibu yang punya dua anak yang masih kecil dan sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu yang mereka cintai.

Bapak Yang Mulia, saya percaya bahwa Bapak sebagai ayah untuk anak Bapak, bisa merasakan apa yang anak Bapak rasakan kalau anak Bapak yang ada di posisi anak-anak saya, pasti sangat menyakitkan karena mengambil hak anak-anak saya untuk bersama dengan ibu mereka dengan tidak mengabulkan permohonan grasi saya.

Bapak Yang Mulia, saya percaya sebagai Bapak Negara Indonesia seharusnya Bapak melindungi anak-anaknya, terutama yang benar-benar tidak bersalah.

Saya sungguh-sungguh mohon selamatkan saya dari hukuman mati dan berikan saya kesempatan untuk bersama dan membesarkan anak-anak saya. Tuhan selalu memberkati Bapak President Joko Widodo dan seluruh keluarga Bapak.

Akankah Mary berhasil menyentuh Presiden Jokowi dengan suratnya itu? (BNC/ist)

Tentang Penulis

Leave A Response