Reaksi Belanda dan Brazil atas eksekusi mati warganya

Ditulis 18 Jan 2015 - 08:38 oleh Banyumas1

hukuman matiBANYUMASNEWS.COM – Kejaksaan Agung telah mengeksekusi 6 terpidana mati kasus narkoba secara serentak pada Minggu 18 Januari 2015 dini hari. Ke-6 terpidana mati itu satu warga negara Indonesia (WNI) Rani Andriani, sedangkan 5 lainnya adalah warga negara asing (WNA).

Ke-5 WNA yang dieksekusi mati adalah (1) seorang warga negara Belanda Ang Kiem Soei, terpidana mati atas kasus kepemilikan 2 pabrik ekstasi, (2) warga negara Brazil Marco Archer Cardoso Moreira mudian terpidana mati kasus penyelundupan sabu-sabu senilai Rp 2,2 miliar, (3) warga negara Vietnam Tran Thi Bich Hanh atau Asien terpidana mati kasus kepemilikan 1,1 kilogram heroin, (4) warga negara Malawi Namaona Denis yang juga terlibat kasus 1 kg heroin, serta (5) warga negara Nigeria Daniel Enemuo alias Diarrassouba Mamadou yang divonis mati atas kasus penyelundupan 1,15 kg heroin.

Menanggapi eksekusi mati warga negaranya, Pemerintah Belanda menempuh sejumlah langkah untuk mencegah eksekusi mati tersebut. Salah satunya dengan menghubungi negara lain yang warganya juga dihukum mati. “Kami berkoordinasi dengan semua pihak, baik internasional dan level otoritas tertinggi. Kami tengah berupaya mencegahnya,” ujar Menteri Luar Negeri Belanda Bert Koenders, seperti dikutip dari Daily Journal, Sabtu (17/01/15).

Sementara itu, Presiden Brasil Dilma Rousseff juga berusaha memohon pembebasan warganya yang dieksekusi mati, Marco Moreira. Rousseff dalam pernyataan resminya khawatir terhadap reaksi dari warga ‘Negeri Samba’ atas eksekusi itu. “Keputusan ini bisa menciptakan kemarahan, masyarakat Brasil dan akan menimbulkan dampak negatif ke depannya,” ujar Rousseff dari pernyataan resminya, di situs planalto.gov.br, pada Sabtu (17/01/15).

Eksekusi mati Marco Archer Cardoso Moreira saat ini tengah menjadi berita hangat di Brazil. Marco merupakan warga Brazil pertama yang dieksekusi mati. Hal ini dikatakan pengacaranya, Utomo Karim, Sabtu (17/01/15), seperti dilansir detikc.com. “Di sana kan nggak ada hukuman mati, jadi di sana jadi headline. Media-media di sana memberitakan,” jelasnya. (BNC/phd)

Tentang Penulis

Leave A Response