Kasus Century: Antara Kepentingan Politik, Dusta dan Kebenaran Politik

Ditulis 13 Jan 2010 - 15:42 oleh Banyumas1
|
Berita Kategori
Tak Berkategori
90
Dalam Tag

BAGAIMANAPUN RADENpembohongan publik adalah tercela! Pun dengan soal pencemaran nama baik. Kedua peristiwa ini jelas definisi hukum perdata dan pidananya. Namun sayang, perkara hukum yang bertajuk demikian, selalu berakhir dengan misteri. Nyaris tak pernah ada kejelasan siapa salah siapa benar. Kadang publik pun tersihir untuk berempatik dan bersimpatik dengan mereka yang menurut putusan pengadilan bersalah. Pun sebaliknya, membenci mereka yang mendapat putusan benar.

Sangat boleh jadi, soal skandal Bank Century bakal demikian halnya. Apalagi yang memperkarakan kini didominasi oleh para politisi di DPR. Ada agenda yang penyelesaian yang berbeda antara hukum, bisnis, dan politik. Hukum biasanya menyajikan logika lurus, bisnis penuh seni menangkap dan memenangkan peluang, sementara politik sering berjalan melingkar. Hingga kini akhirnya semua kalangan cenderung merasa kebingungan dengan apa sesungguhnya masalah bank Century?

Pada mulanya memang soal kemungkinan kekeliruan kebijakan. Lalu soal kemungkinan kemungkinan kekeliruan putusan bisnis. Lalu ada kemungkinan penyalahgunaan dana. Pokoknya rakyat dirugikan. Dan kabarnya direktur Bank Century pun sudah dijebloskan ke penjara. Yang menarik diperhatikan adalah soal bangunan adu argumen antara legislatif dengan eksekutif. Bahkan kuat dugaan bahwa dengan kasus Bank Century, kabinet dan leadership pemerintahan SBY bakal goyah.

Adu argumen mengenai siapa benar siapa salah pun, siapa berdusta dan siapa memfitnah pun segera terjadi. Konon di dunia perpolitikan, dusta memang bagian yang tak terhindarkan. Bahkan dalam kamus politik sering kedengaran adagium: dusta yang dipublikasikan berkali-kali dan berpeluang menjadi kebenaran dapat menjadi sebuah kebenaran politik. Sebaliknya kebenaran yang hanya timbul sesekali, bisa menjadi sebuah dusta politik. Mungkin di sinilah soal greenwash atau kamunflase hijau menjadi perkara yang sangat serius dalam dunia CSR. Jangan sampai menjadi sebuah kebenaran politik karena kesediaan perusahaan berinvestasi besar dalam membangun citra, khususnya di media.

Harapannya sih kasus Century bisa menjadi semakin terang. Sama sekali bukan pertarungan dan tontonan tentang kegenitan politik, dusta politik dan politik dusta. Semoga….

Raden Pusuk Pinus, peminat maslah sosial dan politik, tinggal di Jakarta

Tentang Penulis

& Komentar so far. Feel free to join this conversation.

  1. suwandi 17/01/2010 pukul 00:56 -

    Skandal Bank Century memang membingungkan, bikin mumet, pusing tujuh keliling. Tapi menurut saya yang penting dibela dulu adalah mereka para nasabah kecil yang punya sedikit tabungan. Mereka menabung itu hasil dari kucuran keringat dan darah yang setiap hari diperas dari kerja keras mereka. Uang 5 – 10juta sangat berharga, 10 – 20juta hasil kerja yang luar biasa, 30 – 40juta mereka dapatkan karena tak pernah memejamkan mata, siang malam mereka bekerja keras sehingga bisa menabung. Kini uang itu ludes, hilang entah kemana rimbanya, makanya bantak dari mereka yang stress sampai ada yang bunuh diri.

    Mestinya Pemerinta dan semua pihak lebih-lebih Pansus Bank Century di DPR memikirkan yang itu dulu, kasihan mereka yang kurus-kurus jadi gak keurus, yang kecil-kecil jadi gak kepikir, yang melarat jadi makin sekarat. Dulu kan mereka mengaku Partainya wong cilik berjanji untuk membela wong cilik, memikirkan nasibnya wong cilik, meningkatkan kesejahteraan masyarakat kecil. Kini saatnya mereka membuktikan bagaimana membela para nasabah kecil yang jadi korban Bank Century.

    Kalau itu sudah baru menangani yang gede-gede, yang gemuk-gemuk, yang serakah-serakah, yang pada berdusta, yang nggerogoti uang rakyat, ya pokoknya maling-malingnya century. Kita kan juga belum tahu yang mana yang MALING, yang mana yang NGALIM. Saya malah pesimis jangan-jangan mereka ya Pansus itu gak bisa ngatasi Skandal Century. Masalahnya memang kaya yang disebutkan oleh Mas Raden Pusuk Pinus,^Ada agenda yang penyelesaian yang berbeda antara hukum, bisnis, dan politik. Hukum biasanya menyajikan logika lurus, bisnis penuh seni menangkap dan memenangkan peluang, sementara politik sering berjalan melingkar. Hingga kini akhirnya semua kalangan cenderung merasa kebingungan dengan apa sesungguhnya masalah bank Century?

    Akhirnya yang gede-gede / kasus yang besar gak bisa selesai dan yang kecil-kecil gak kepikir, semuanya buntu. Kasihan memang nasib wong cilik dari dulu sampai sekarang ajeg saja,

    Alhamdulillah saya gak punya tabungan di Bank Century, bagaimana mau nabung wong punyanya Hutang di Bank Plecit, bank harian itu lho yang angsurannya tiap hari antara 10 -15 ribu. itu saja abote ra karuan, kadang-kadang dong ora pahal, dong ora ngode bingung banget. Nah kita berdoa saja moga-moga negeri tercinta ini makin dijauhkan dari nestapa dan petaka, diberi jalan kemudahan untuk menuju negara yang GEMAH RIPAH LOH JINAWI, SUBUR KANG SARWA TINANDHUR, MURAH KANG SARWA TINUKU, BAL DATUN TAYYIBATUH WA EABBUL GHAFUR^ AMIN.

  2. Pepeng 14/01/2010 pukul 22:29 -

    Aq mumet nek ngurusi politik2an…. sing penting aq biasa ngode waras slamet lan balik olih berkat sing lumayan kena ngo sangu urip nang indo he….

Leave A Response