Babi Hutan Serang Lahan Jagung di Pejawaran

 

BABI : Babi hutan yang berhasil ditangkap warga menjadi tontonan warga. Babi hutan diburu karena merusak lahan pertanian warga (foto : BNC/ruhito)
BABI : Babi hutan yang berhasil ditangkap
warga menjadi tontonan warga. Babi hutan diburu karena merusak lahan
pertanian warga (foto : BNC/ruhito)

BANJARNEGARA (BanyumasNews.Com) – Setelah sebelumnya petani di wilayah Kecamatan Kalibening dan Pandaanaru yang diteror oleh babi hutan, kini giliran petani di wilayah Pejawaran. Puluhan hektar tanaman jagung dan ketela di Desa Sarwodadi, Pejawaran ludes diserang kawaan babi hutan.

“Biasanya wilayah kami hanya diserang kera, tapi setelah dilakukan
perburuahn kini justru serangan babi yang menggila. Justru, tingkat
kerusakan serangan babi ini lebih besar dibandingkan kera,” kata
Erlin, warga Sarwodadi, Rabu (30/4).

Sutardi, warga lainnya mengatakan, upaya pengendalian hama babi yang
dilakukan petani hanya sebatas memasang perangkap atau jerat babi.
Itupun, masih tidak maksimal karena terkadang babi yang terjerat masih
dapat meloloskan diri.

“Kami kerepotan karena setiap saat harus ‘patroli’ di ladang. Jika
tidak, tanaman tentu akan habis dan bakalan tidak panen. Bahkan,
selain singkong, tanaman kayu muda juga dirusak karena mencari cacing
atau ‘ngasin’,” katanya.

Seperti diketahui sebelumnya, desa di Kalibening yang menjadi
langganan serangan babi diantaranya Karanganyar, Sirukun dan Bedana.
Serangan babi biasanya pada lahan yang berdekatan dengan hutan pinus
milik Perhutani.

”Babi sangat sulit diatasi. Kami hanya bisa mengusir agar tidak
datang lagi. Babi hanya pindah tempat dan babi tentu akan pindah ke
lain daerah yang tidak dilakukan penghalauan,” kata Marno, Kepala Desa
Karanganyar, Kecamatan Kalibening.

Marno yang juga hoby berburu mengaku sudah seringkali minta bantuan
pemkab Banjarnegara untuk turun tangan mengendalikan babi hutan.
Namun, upaya pemkab untuk mengatasi serangan babi tidak rutin. Karena,
jika perburuhan hanya dilakukan warga ataupun menyewa pemburu bayaran
tentu warga tidak mampu. ”Setidaknya pemkab bisa membantu anjing
pemburu yang terlatih. Harganya mahal, dan warga tidak mampu
membelinya,” katanya (ruhito).

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*