Seni Braen, Diambang Kepunahan

Ditulis 14 Apr 2014 - 11:01 oleh Yit BNC
|
Berita Kategori
Tak Berkategori
222
Dalam Tag

Awang uwung awang uwung

Ratu Tidar yangaratu

Yangayuga bumi langit

Rohaya gelu

Manda tuanku

Yuga

Sholiati dengan terbang-nya.

Sholiati dengan terbang-nya.

Syair di atas mungkin terasa asing bagi kita. Tapi tidak bagi masyarakat di bumi Cahyana, Kabupaten Purbalingga (Jateng). Syair yang biasa diiringi tabuhan terbang (semacam rebana tapi berukuran besar-red) ini bukan syair biasa.

Menika nyenyuwun, permohonan kepada Yang Maha Kuasa,” jelas Sholi’ati (70), seorang penabuh terbang atau biasa disebut Rubiyah dalam kesenian Braen.

Seni Braen hanya ada di Bumi Cahyana, yang saat ini meliputi Kecamatan Karangmoncol (Desa Rajawana, Pekiringan, Tajug dan Grantung) serta Kecamatan Rembang (Desa Makam). Kesenian Braen identik dengan peristiwa kematian. Meski sebenarnya juga bisa di-tanggap untuk pernikahan, sunatan dan hajatan lainnya. Sekilas mirip dengan kesenian hadroh atau genjring. Namun Braen lebih sederhana, sakral, klasik dan sangat patuh dengan pakem.

Satu kelompok Braen umumnya terdiri dari sembilan hingga 15 perempuan, yang biasanya sudah berusia lanjut. Salah satunya menabuh terbang, semacam rebana berdiameter sekitar 50 cm terbuat dari kulit kambing dan kayu ulin. Penabuh terbang disebut Rubiyah. Selain menabuh terbang, Rubiyah juga melantunkan syair-syair berisi permohonan kepada Sang Kuasa.

Sementara, delapan perempuan lainnya bersimpuh di sekitar sang Rubiyah. Mereka juga melantunkan syair yang sama dengan Rubiyah. Hanya saja, mereka tidak memainkan alat musik apapun.

Namung keturunanipun Makhdum Khusen kemawon ingkang angsal nabuh terbang,” jelas perempuan berusia lanjut yang konon Rubiyah ke-13 keturunan Makhdum Khusen, seorang tokoh penyebar agama Islam di Bumi Cahyana sekitar abad ke-15 yang juga diyakini sebagai pencipta kesenian Braen.

Menurut nenek yang lahir besar dan menua di Desa Rajawana ini, cerita yang pernah didengarnya secara turun-temurun dari para sesepuh, Braen memiliki arti berani. Konon, Makhdum Khusen akan diserang pasukan Kerajaan Padjadjaran karena dianggap tak tunduk terhadap pemerintahan atau titah sang raja. Mengetahui hal itu, Makdum Khusen memerintahkan para santriwati untuk memukul terbang jika para pasukan dari Padjadjaran sudah mendekat. Sementara dia melakukan sholat hajat, memohon pertolongan Allah.

Makhdum Khusen sanes pendekar. Mboten saged gelut. Santri-santrinipun inggih mboten saged. Dados nyenyuwun kaliyan Gusti Allah kemawon,” tutur Sholi’ati.

Ternyata Allah mejawab doa Makhdum Khusen. Tiba-tiba saja datanglah sekawanan tawon gung yang datang menyerang pasukan Kerajaan Padjadjaran itu. Karena kewalahan, para pasukan inipun lari tunggang-langgang meninggalkan Cahyana. Para santriwatipun kegirangan. Mereka menabuh terbang terus-menerus sebagai ungkapan rasa syukurnya.

Sejak itulah, menurut Sholi’ati, Braen menjadi kesenian yang kerap digelar. Makdum Khusen sendiri menciptakan syair yang dilantunkan dalam Braen berisi doa-doa. Doa-doa ini tidak berbahasa Arab, sebaliknya justru berbahasa Jawa Kuna.

Selain doa-doa, syair Braen juga menceritakan tentang awal mula kehidupan yang kosong. Lalu oleh Yang Maha Kuasa, diisilah alam semesta ini dengan berbagai ciptaan termasuk makhluk-makhluknya.

Meski begitu, sampai saat ini tak banyak yang tahu persis apa arti seluruh kosakata dalam syair itu, termasuk Sholi’ati, seorang Rubiyah keturunan Makdum Khusen. Kebanyakan masyarakat hanya mengira-ira karena kedekatan bahasa jawa kuna dengan jawa masa kini.

Pakem dalam Seremonial Braen

Dalam menggelar Braen, ada beberapa tata cara yang sudah menjadi pakem. Sebelum memulai, mereka harus menyiapkan sabut kelapa untuk dibakar hingga keluar asapnya. Asap ini digunakan untuk mengasapi terbang. Konon terbang sulit berbunyi kalau tidak diasapi.

Tuan rumah biasanya juga menyiapkan aneka makanan yang biasanya berupa camilan untuk satu kelompok Braen. Braen biasanya dimulai pukul 9 malam dan berakhir pukul 3 pagi. Tapi, setiap seperempat jam sekali, mereka beristirahat. Meneguk hangatnya teh manis, menikmati camilan atau sekadar meluruskan kaki yang sedari tadi harus dilipat karena bersimpuh.

Syair yang dilantunkan ada banyak sekali. Syair itu tercatat rapi dalam sebuah lembaran catatan bertuliskan arab, meski bukan bahasa Arab. Ya, rata-rata para sesepuh di Bumi Cahyana apalagi di masa lalu, hanya melek huruf arab, meski untuk menuliskan kalimat yang tidak berbahasa arab.

Agar Braen dapat berjalan lancar, tuan rumah yang mengundnag harus benar-benar berniat ikhlas melakukan permohonan kebaikan kepada Tuhan. Maka dari itu, kesenian Braen tidak boleh digelar sembarangan. Harus ada niat untuk berdoa, bukan hiburan semata.

Braen niku mboten kados dangdutan ingkang rame meriah. Menika sampun nini-nini. Mboten saget kagem jogedan, menawi braen namung lenggah,” tegasnya.

Nyaris Punah

Sholi’ati yang sudah semakin uzur mengaku kesulitan untuk kaderisasi. Karena syarat seorang Rubiyah harus keturunan Makdum Khusen. Sementara anak-anaknya semuanya lelaki. Dia memang memiliki seorang keponakan yang cukup cerdas dan cepat menguasai pakem-pakem Braen.

Tapi larenipun kados mboten purun,” tuturnya sedih.

Sebenarnya, Sholi’ati sendiri pasrah jika harus melanggar pakem dengan mengkader orang diluar keturunan Makdum Khusen. Namun kebanyakan generasi di bawahnya seperti malu dan enggan untuk mempelajari dan melanjutkan.

Diluar Desa Rajawana, sudah ada beberapa kelompok Braen yang tidak berasal dari keturunan Makdum Khusen. Mereka tersebar di Pekiringan, Tajug dan Grantung. Selain di-tanggap di rumah, Braen juga bisa digelar di masjid.

Mboten napa-napa lah. Daripada mboten wonten ingkang nerusaken,” pasrahnya. Tak lama, dari bibir keriputnya terdengar gumaman. Ya syair Braen.. (BNC)

Tentang Penulis

Leave A Response