Pertanian Organik Lebih Menguntungkan

Ditulis 13 Apr 2014 - 19:49 oleh Nanang BNC
 PADI ORGANIK : Sarwono tengah menengoj tanaman padi organik yang diterapkan pada lahannya (ruhito)

PADI ORGANIK : Sarwono tengah menengoj tanaman
padi organik yang diterapkan pada lahannya (ruhito)

BANJARNEGARA (BanyumasNews.Com) – Pertanian organik yang digeluti Sarwono, warga Desa Sigaluh, Kecamatan Sigaluh, Banjarnegara sejak enam tahun silam ternyata lebih menguntungkan dibandingkan dengan pertanian reguler atau non organik yang biasa dilakukan petani pada umumnya.

“Setelah sekian tahun menanam padi non organik, Saya mencoba beralih menanam padi organik, dan setelah saya hitung secara ekonomi tanaman padi organik lebih menguntungkan. Jika padi non organik dihargai Rp 7

ribu hingga Rp 8 ribu perkilogram, maka padi organik berharga Rp 12 ribu hingga 15 ribu kilogram. Sekali panen, lahan satu hektar padi organiknya mampu menghasilkan 5 ton,” ungkap Sarwono, Sabtu (12/4).

Selain harganya yang lebih bagus pola tanam menggunakan organik juga akan menyehatkan tanah dan daya tahannya yang lebih bagus dari beras biasa jika di masak, rasanya juga lebih enak dan pulen sehingga menyehatkan. Hanya saja, lanjut dia, menanan padi organik memangm sedikit lebih mahal dalam perawatannya, namun saya mensikapinya dengan membuat pupuk sendiri sehingga tidak terlalu membutuhkan biaya terlalu tinggi.

Dijelaskan Sarwono yang juga menjabat Kepala Desa Sigaluh, agar bisa mencapai hasil sempurna, padi organik yang ditanamnya diberikan nutrisi, pestisida alami, dan pupuk organik padat.

”Jika di hitung saya sudah melakukan penanaman sebanyak lima kali dan hasilnya sangat memuaskan bagi petani di sini. Saat ini sudah ada 10 orang petani yang mengikuti pola tanam organik seperti yang tanam sekarang. Kami mencoba menjadi contoh bukan memberi contoh, jadi saya

melakukannya terlebih dahulu sebelum mengajak kepada petani lain,Alhamduliilah saya berhasil melakukannya dan petani disini mulai beralih ke organik,” kata dia *(ruhito)

Tentang Penulis

Leave A Response