Manco dan Kupat Landa Produk Asli Purbalingga

Ditulis 13 Apr 2014 - 17:42 oleh Yit BNC
Perajin makanan ringan jenis Manco di Desa Karangbanjar, Kecamatan Bojongsari. Para pelaku UMKM ini masih urang sadar akan brand produk Purbalingga. Mereka rela manco dijual ke pedagang dan kemudian dikemas dengan nama merk dan asal dari kota lain.

Perajin makanan ringan jenis Manco di Desa Karangbanjar, Kecamatan Bojongsari. Para pelaku UMKM ini masih urang sadar akan brand produk Purbalingga. Mereka rela manco dijual ke pedagang dan kemudian dikemas dengan nama merk dan asal dari kota lain.

PURBALINGGA (BanyumasNews.Com) – Purbalingga saat ini banyak terdapat berbagai makanan khas yang sudah dikenal luas oleh masyarakat. Salah satunya adalah  es duren yang selalu identik dengan Purbalingga. Sebenarnya banyak makanan khas Purbalingga lainnya dan asli buatan Purbalingga tetapi daerah lain yang lebih terkenal sebagai pembuat asalnya.

“Kami saat ini terus berburu dan meneliti berbagai makanan asli buatan Purbalingga untuk dipopulerkan sebagai makanan asli buatan Purbalingga” kata Sumarno, Ketua Komunitas Kuliner Kreatif Purbalingga, Minggu (13/4).

Makanan khas yang saat ini masih produktif dan dikerjakan turun temurun diantaranya manco dan kupat landa. Khusus untuk manco saat ini masih ada sekitar 5-7 orang pengrajin dan distribusinya sudah sampai luar Purbalingga.

Menurut Soemarno, kebanyakan produk asal Purbalingga dijual secara curah atau bal-balan dan tanpa brand. “Setelah dikirim ke luar Purbalingga baru dikemas ulang dan diberi brand oleh pengemasnya tanpa mencantumkan nama Purbalingga sebagai asal produk tersebut” ujar Marno.

Akibatnya, manco asal Purbalingga menjadi tidak populer dan konsumen tidak tahu bahwa manco tersebut dibuat di Purbalingga karena tidak ada nama Purbalingga dikemasannya.

Selain manco, ada kupat landa yang saat ini sangat populer di wilayah Kecamatan Kemangkon dan masih banyak pengrajinnya. Kupat landa sebenarnya hampir sama dengan kupat biasa, hanya cara merebusnya yang sedikit beda. Merebus kupat landa tidak hanya dengan air saja tetapi ditambah abu atau bekas bakaran daun atau serabut kelapa sehingga kupat landa ini berwarna sedikit kemerahan dan rasanya agak sepet sedikit. Adanya warna merah inilah mungkin identik dengan warna kulit orang Belanda yang saat itu menjajah sehingga dinamakan kupat landa.

Kupat landa saat ini banyak dijumpai di Pasar Penican dan pasar-pasar tradisional lainnya di Purbalingga dan menjadi makanan favorit di daerah Kemangkon ketika lebaran tiba” ujar Sumarno.

Untuk lebih mempopulerkan produk-produk asli Purbalingga, pihaknya kini sedang menyusun usulan kepada Pemkab Purbalingga untuk lebih mempopulerkan dan melegitimasi produk asli Purbalingga seperti manco dan kupat landa asal Kemangkon.

Secara terpisah Kasi Pembinaan dan Pengembangan Dinperindagkop Purbalingga, Adi Purwanto mengatakan, banyak pelaku UMKM Purbalinga yang belum sadar sepenuhnya tentang manfaat brand dan hanya menjual asal laku tanpa memperdulikan pentingya brand. Brand merupakan investasi juga dalam jangka panjang sehingga pihaknya sangat mendukung produk-produk lokal  lebih dipertajam brandingnya menjadi makanan khas asli Purbalingga ”ujar Adi.

Selain itu, Adi juga menambahkan bahwa adanya usulan dari para pegiat kuliner Purbalingga yang mengusulkan legitimasi produk asli Purbalingga memang harus diuji publik dulu untuk mendapat saran dan masukan. Pihaknya juga sangat mendukung agar kedua produk tersebut untuk segera mendapatkan pengakuan yang lebih mendalam agar tidak kedahuluan daerah lain. (BNC)

 

Tentang Penulis

Leave A Response