Kompleks Sinila dan Timbang jadi Incaran Penggarap

Ditulis 05 Apr 2014 - 23:21 oleh Nanang BNC
GERBANG : Gapura yang menjadi pintu masuk ke Desa Kepucuk sebelum tragedi Sinila hingga kini masih berdiri kokoh. (foto Ruhito)

GERBANG : Gapura yang menjadi pintu masuk ke
Desa Kepucuk sebelum tragedi Sinila hingga kini masih berdiri kokoh. (foto Ruhito)

BANJARNEGARA (BanyumasNews.Com) – Pegunungan Dieng yang berada di wilayah Kabupaten Banjarnegara, Wonosobo dan Batang memiliki banyak potensi untuk kemakmuran karena kesuburan tanah maupun keindahan alamnya. Namun demikian, dengan kondisi alamnya yang indah, dataran tinggi Dieng yang memiliki beberapa kawah diantaranya Sileri, Sinila, Siglagah, Condrodimuko, Sikidang, dan Timbang juga menyimpan potensi bahaya yang sewaktu-waktu bisa mengancam.

Salah satunya adalah keluarnya gas CO2 yang sangat berbahaya bagi keselamatan warga, seperti Kawah Timbang yang ada di Desa Sumberejo yang sering kali menyemburkan gas beracun. Kejadian seperti ini sebenarnya bukan yang kali pertama terjadi. Sebelumnya, sejumlah kawah sudah pernah meletus dan mengeluarkan bas.

Pada 20 Februari 1977 kawah Sinila yang lokasi berdekatan dengan Kawah Timbang meletus dan mengeluarkan gas beracun. Sebanyak 149 orang tewas dalam kejadian tersebut. Bahkan, akibat kejadian tersebut, dua desa yakni Simbar dan Kepucukan dihapus dari peta Kabupaten Banjarnegara.

Informasi yang diperoleh BanyumasNews Sabtu (29/3) menyebutkan, beberapa tahun setelah tragedi Sinila terjadi , pemerintah menyatakan daerah itu sebagai daerah tertutup. Sedangkan para warga yang selamat ditransmigrasikan secara bedhol desa ke Baturaja, Sumatera selatan. Namun dalam beberapa tahun terakhir ini, ahli waris para transmigran yang berada di desa-desa tetangga, mengolah tanah di kawasan itu untuk budidaya kentang dan sayuran.

Ratusan petani setiap hari berada di lokasi yang menjadi perhatian dunia saat terjadi musibah gas beracun 30 tahun lalu itu. Mereka tak mempedulikan kawasan yang ditutup oleh pemkab karena membahayakan.

Kasie Holtikultura pada Dinas Pertanian, Peternakan dan Perikanan (Dintankanak) Banjarnegara, Ir Suparji mengatakan, lahan di kompleks kawah Sinila dan Timbang memang menjadi incaran penggarap. Pasalnya,bercocok tanam di sekitar dua kawah itu dapat mengurangi biaya obat-obatan hama. ”Tak ada serangga, binatang maupun organisme penggangu tanaman karena mati terkena CO2,” ungkapnya (ruhito).

Tentang Penulis

Leave A Response