80 Hektar sawah di Bobotsari telantar

Sedikitnya 80 hektar lahan sawah di wilayah Desa Banjarsari Kecamatan Bobotsari terpaksa nganggur tidak ditanami. Kondisi itu berlangsung April lalu hingga sekarang, akibat belum selesainya pembangunan bendung Karangduwur, desa setempat. Sedianya bendung itu harus selesai pada pertengahan Juli ini dan langsung dibuka untuk irigasi.
“Sekitar 80 hektar lahan sawah di tiga kadus saat ini dalam keadaan menunggu aliran air dan dibiarkan nganggur. Bendung itu memang sebagai satu-satunya sumber air irigasi. Sebelumnya warga hanya membuat bendung sederhana di aliran sungai Klawing itu dan mudah rusak,” kata Kepala Desa Banjarsari, Subiyastuti, Kamis (16/7).
Puluhan hektar sawah itu didominasi milik masyarakat dan selebihnya merupakan tanah bengkok desa. Saat ini warga hanya bisa menunggu difungsikannya bendung itu, apalagi saat ini sudah memasuki awal musim kemarau.
Darmo HB (58) salah satu perangkat desa pemilik lahan sawah yang terpaksa nagnggur itu mengatakan, sebelumnya masih menanam padi sampai umur belum ada setengah bulan. Karena bendung dibangun, terpaksa seluruh tanaman harus direlakan mati. “Lebih dari dua hektar lahan sawah saya relakan istirahat. Padahal kesiapan tanam sudah dilakukan dan sudah keluar biaya,” tuturnya.
Sesuai dengan surat dari Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Purbalingga, realisasi bendung mulai 16 Maret yang lalu dengan anggaran Rp 749.000.000 dan waktu pelaksanaan 120 hari kalender. Hingga minggu kedua Juli ini sudah tahap finishing dan menurut rencana akan diresmikan pada 25 Juli mendatang.
Subiyastuti menambahkan jika bendung dengan kapasitas besar itu difungsikan, tidak hanya lahan sawah, namun perikanan juga akan teraliri. Hanya saja, pihaknya mengeluhkan tidak dibenahinya saluran irigasi yang ada. Meskipun tidak seluruhnya menjadi tanggungjawab kontraktor bendung, namun ada beberapa meter yang hanya dipoles dan tidak dibangun dari awal.
“Kami sangat berterimakasih adanya bendung Karangduwur itu, namun saluran irigasi yang menjadi satu paket dengan pembangunan bendung segera dibenahi agar layak. Pasalnya saluran yang ada saat ini sudah tua dan banyak yang bocor,” ungkap Subiyastuti.
Pihaknya juga berniat mengusulkan perbaikan saluran irigasi sepanjang 700 meter dalam beberapa waktu kedepan. Selain mengeluhkan saluran irigasi yang kurang optimal, pihaknya juga meminta pemborong untuk segera menangani jalan masuk dusun itu yang rusak akibat angkutan material bendung. “Beberapa waktu lalu sudah menimbulkan kecelakaan sepeda motor di ruas jalan Karangduwur yang rusak akibat amblesnya jalan bagian tengah di tikungan,” tandasnya.
Seperti diketahui, adanya bendung itu karena usulan pemerintah desa sejak tahun 2006 lalu. Setiap kali musrenbang selalu diikutkan dan baru terealisasi 2009 ini. (banyumasnews.com/cah)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.