Tumpukan Merang di Jalan Raya Mandiraja Ganggu Pemakai Jalan

Ditulis 25 Mar 2014 - 00:28 oleh Nanang BNC
MERANG : Para perajin batu bata di sentra industri Desa Panggisari, Kecamatan Mandiraja Banjarnegara banyak yang menaruh merang dan abu dipinggir jalan raya Klampok - Banjarnegara. Kondisi tersebut dikeluhkan para pengguna jalan yang melintas  (foto ruhito).

MERANG : Para perajin batu bata di sentra industri Desa Panggisari,
Kecamatan Mandiraja Banjarnegara banyak yang menaruh merang dan abu dipinggir jalan raya Klampok – Banjarnegara. Kondisi tersebut
dikeluhkan para pengguna jalan yang melintas (foto ruhito).

BANJARNEGARA (BanyumasNews.Com) – Tumpukan merang dan abu sisa pembakaran batu bata yang menumpuk di Desa Panggisari, Kecamatan Mandiraja, Banjarnegara kerap dikeluhkan pengguna jalan raya Klampok – Banjarnegara, terutamanya para pengendara sepeda motor. Pasalnya, merang dan abu banyak yang ditaruh di tepi jalan sehingga beterbangan saat tertiup angin atau ada kendaraan besar lewat sehingga menyebabkan perih saat mengenai mata.

Sugeng, warga Desa Pucang, Kecamatan Bawang Arif, Banjarnegara mengaku pernah akan mengalami kecelakaan akibat matanya kemasukan abu merang eks pembakaran bata saat di melintas di sentra industri batu bata Desa

Panggisari. ”Saya kaget dan motor oleng karena merasa mata pedih kemasukan abu. Saat itu, secara spontan kedua mata terpejam akibat ada benda asing masuk. Beruntung kondisi lalu lintas sepi. Motor langsung saya hentikan hingga dapat melihat normal,” ungkap dia, Minggu(23/3).

Salah seorang perajin bata, Muslih mengaku dirinya terpaksa meletakan merang itu di pinggir jalan mengingat lahan yang ia miliki terbatas. Jika harus menyewa lahan, biayanya akan mahal. Sebab luasannya dihitung sama dengan produktifitas tanaman padi. “Jika harus menyewa lahan untuk penyimpanan merang, ya tidak balik modal,” ujar Muslih.

Menurut dia, merang padi yang ditumpuk digunakan untuk proses pembakaran, sedangkan abu dimanfaatkan sebagai campuran tanah yang akan dicetak bata. ”Sebenarnya saya dan perajin lain sudah mengupayakan menutup merang dan abu menggunakan jerami dan terpal. Namun terkadang angin sangat kencang sehingga tetap ada yang terbang,” ungkap dia.

Sekretaris Desa Panggisari, Subhan mengatakan, persoalan itu cukup dilematis. Mereka memanfaatkan bahu jalan untuk menaruh merang karena keterbatasan lahan. Biasanya, perajin lebih memilih lokasi dengan jalan untuk proses pencetakan dan pembakaran agar mudah menaikan ke truk. Pihaknya sering menghimbau kepada perajin agar menutupnya sehingga tidak beterbangan ketika tertiup angin.

”Perajin di pinggir jalan itu hanya mengandalkan sedikit lahan miliknya untuk membuat tobong batu bata. Sisa lahan difungsikan untuk mencetak batu bata. Bahan baku berupa tanah liat, membeli dari petani di wilayah itu. “Karena lahannya terbatas ini lah mereka memanfaatkan bahu jalan untuk menumpuk merang. Jika dilarang mereka tidak berproduksi. Artinya ratusan perajin dan buruh batu bata kehilangn pekerjaan mereka,” katanya (ruhito).

 

Tentang Penulis

Leave A Response