Warga Banjarnegara Masih Banyak Konsumsi Oyek

Ditulis 20 Mar 2014 - 20:12 oleh Nanang BNC
OYEK : Salah seorang warga Pucungbedug, Purwonegoro tengah menjemur singkong untuk dibuat leye atau nasi oyek. Bagi sebagian besar warga setempat, oyek merupakan makanan pokok pengganti beras. (foto ruhito)

OYEK : Salah seorang warga Pucungbedug,
Purwonegoro tengah menjemur singkong untuk dibuat leye atau nasi oyek.
Bagi sebagian besar warga setempat, oyek merupakan makanan pokok
pengganti beras. (foto ruhito)

BANJARNEGARA (BanyumasNews.Com) – Warga Banjarnegara yang tinggal di daerah ‘kering’ hingga saat ini masih mengkonsumsi leye atau oyek untuk menggantikan beras atau nasi. Bahkan, bagi keluarga menengah kebawah makanan yang terbuat dari singkong/ketela tersebut merupakan makanan pokok mereka.

Nawireja (70), warga Dusun Somarame, Desa Pucungbedug, Kecamatan Purwonegoro mengatakan, bagi sebagian besar warga, terutama yang kurang mampu, oyek merupakan makanan pokok mereka. Mengkonsumsi beras, jarang dilakukan warga mengingat daerah hasil pertaniannya adalah singkong.

Menurut dia, pada musim panen singkong sebagian besar rumah tangga membuat oyek untuk disimpan. Biasnya setiap KK menyimpan oyek sebagai persediaan sampai beberapa karung. Proses pembuatan oyek/leye sekitar satu minggu dan melalui beberapa tahapan. Setelah dikupas, singkong yang dipotong-potong ukuran kecil diredam air sekitar tiga hari. Kemudian dijemur sampai kering. Setelah itu, diremuk, dikukus dan dijemur lagi. ”Oyek tahan sampai beberapa bulan, bahkan kalau rapat tahan sampai satu tahun,” jelas dia.

Daerah yang dikenal sebagai daerah ‘kering’ di Banjarnegara diantaranya Desa Wanadri, Wiramastra, Kebondalem (Kecamatan Bawang), Pucungbedug, Kaliajir, Petir, Kalitengah (Purwonegoro) dan Jalatunda (Mandiraja). Lahan pertanian mereka hanya mengandalkan air hujan atau tadah hujan. Daerah tersebut juga menjadi langganan kekeringan dan kerap kali minta bantuan droping air bersih kepada pemerintah.

Rasmuji (50), warga lainnya mengatakan, selain membuat oyek untuk memenuhi kebutuhan sendiri, ada beberapa warga yang membuat oyek untuk dijual. Saat ini, harga 1 kg oyek Rp 3 ribu. ”Dibandingkan beras, oyek jauh lebih murah,” katanya sembari menyebutkan kalau harga beras di tempat tinggalnya sekitar Rp 4,5 ribu.

Parti (40), salah seorang pedagang di Desa Wanadri, Kecamatan Bawang mengatakan, harga oyek naik turun mengikuti harga beras. Harga oyek biasanya setengahnya harga beras. ”Jika harga naik, permintaan oyek meningkat,” ujar dua(ruhito).

Tentang Penulis

Leave A Response