Berpegang Teguh Pada Profesi Meski Kian Terpinggirkan

Ditulis 20 Mar 2014 - 19:40 oleh Nanang BNC
TUKANG TAPEL:Karso, tukang tapel kuda tengah memasang sepatu kuda di kompleks pangkalan dokar pasar Perja, Purworejo Klampok, Banjarnegara. (foto Ruhito)Berpegang Teguh Pada Profesi Meski Kian Terpinggirkan. (foto ruhito)

TUKANG TAPEL:Karso, tukang tapel kuda tengah memasang sepatu
kuda di kompleks pangkalan dokar pasar Perja, Purworejo Klampok,
Banjarnegara. (foto Ruhito)Berpegang Teguh Pada Profesi Meski Kian
Terpinggirkan. (foto ruhito)

MENEKUNI  suatu profesi yang unik dan langka ternyata bukan jaminan mendapatkan hasil yang lebih. Karena keterbatasan ketrampilan dan pendidikan yang dimilikinya, adakalanya seseorang tetap menjalani profesinya untuk bisa bertahan hidup.

Hal itulah yang terjadi pada Karso (45), warga Desa Kecitran, Kecamatan Purworejo Klampok, Kabupaten Banjarnegara yang berprofesi sebagai tukang servis sepatu kuda, atau yang biasa disebut sebagai tukang tapel kuda. Meskipun tidak semua orang bisa melakukan pekerjaan tersebut, bahkan seorang kusir dokar (delman) sekalipun, namun penghasilan yang didapat tidak seberapa.

Jika dirata-rata, penghasilan Karso setiap harinya hanya Rp 20 ribu. Tarip yang Karso pasang untuk perbaikan satu kaki kuda Rp 6 ribu. Namun sayangnya tidak setiap hari ia mendapatkan order memperbaiki sepatu kuda. Adanya kalanya jika nasib lagi mujur ada puluhan kaki kuda yang disevis. Tapi sering pula jasa yang ia miliki tidak dibutuhkan orang.

Apalagi, semenjak keberadaan dokar tersisih oleh alat transportasi modern yang berbahan bakar BBM, permintaan order servis sepatu dari kusir dokar menurun tajan. Para kusir dokar yang semula memakai jasanya, kini banyak yang memasang sepatu kuda sendiri. ”Maraknya sepeda motor dan HP membuat angkutan umum seperti dokar makin terpinggirkan karena jumlah penumpang sepi. Turunnya penghasilan dokar berimbas pula kepada saya,” ungkap Karso.

TERPINGGIRKAN: Beberapa dokar atau andong tengah menunggu penumpang di Pasar Perja, Purworejo Klampok, Banjarnegara.  (foto ruhito).

TERPINGGIRKAN: Beberapa dokar atau andong tengah menunggu penumpang di Pasar Perja, Purworejo Klampok, Banjarnegara. (foto ruhito).

Bagi kalangan kusir dokar yang biasa mangkal di Pasar Perja,Purworejo Klampok, Banjarnegara, profesi yang dijalani Karso sudah tidak asing lagi. Selama 10 tahun lebih, Karso telah akrab dengan keseharian kusir dokar. Dengan membawa peralatan seperti tang atau catut, paku dan kikir, Karso nongkrong di pangkalan dokar menunggu orang yang membutuhkan. Kerusakan yang diperbaiki diantaranya sepatu kuda yang lepas, tipis ataupun pakunya hilang. ”Layaknya sebuah ban mobil, sepatu kudapun bisa tipis dan rusak saat dipakai terus menerus,” jelas Karso.

Menjalani profesi ini tidak semua orang bisa dan mau. Di samping diperlukan ketelitian dan kecermatan agar sepatu terpasang dengan baik, juga diperlukan keberanian dan memahani sikap/perilaku/kebiasaan kuda. Layaknya orang, sifat dan tabiat kuda satu dengan yang lain berbeda-beda. Ada kuda penurut, ada juga pemarah dan sering ‘nyepak’

ketika dipasangi sepatu. ”Terkena ‘sepakan’ kuda sudah tak asing lagi. Tangan saya pernah kena paku cukup dalam akibat disepak kuda,” ungkap dia sembari menunjukan bekas goresan luka di tanganya yang panjang lebih dari 10 cm.

Ketelitian dan kecermatan juga diperlukan dalam menjalni profesi ini karena menyangkut keselamatan orang, terutama penumpang dokar. Jika sepatu kuda yang terbuat dari besi tidak terpasang tepat dikaki kuda membuat hewan ini terpeleset dan menyebabkan celaka bagi penumpang dokar.

Naiknya harga BBM yang berdampak pada naiknya kebutuhan pokok sekarang ini sangat dirasakan oleh Karso. Apalagi, penghasilan yang didapat justru berkurang seiring dengan terpinggirkannya delam oleh jenis angkutan yang berbahan bakar bensin dan solar. Namun demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, Karso bertekad tetap menjalni tukang servis sepatu kuda. Ketrampilannya itu hanya satu-satunya modal keahliannya yang ia miliki (ruhito)

 

Tentang Penulis

Leave A Response