Olah Ikan Afkir Menjadi Makanan Bernilai Ekonomis Tinggi

Ditulis 18 Mar 2014 - 20:24 oleh Nanang BNC
IKAN : Nyi Suraji menunjukan hasil produksinya yang memanfaatkan ikan afkir kepada Kabid Perikanan Totok Setyo Winarno. (foto Ruhito)

IKAN : Nyi Suraji menunjukan hasil produksinya
yang memanfaatkan ikan afkir kepada Kabid Perikanan Totok Setyo
Winarno. (foto Ruhito)

BANJARNEGARA (BanyumasNews.Com) – Potensi pengembangan bisnis dari bahan dasar ‘limbah’ hasil perikanan di Kabupaten Banjarnegara sebenarnya cukup bagus. Ini mengingat, Banjarnegara merupakan salah satu sentra budidaya ikan di Jawa Tengah, bahkan oleh pemerintah pusat akan dijadikan sebagai daerah minapolitan air tawar.

Sebagian besar pembudidaya ikan memilih langsung menjual hasil panen daripada mengolah menjadi makanan untuk dilempar ke pasar.Padahal, jika ini dilakukan tentu bisa memberi nilai tambah, seperti yang dilakukan Nyi Suraji, warga Desa Blambangan (depan patung guremeh), Kecamatan Bawang.

Sejak beberapa bulan lalu, ia tengah merintis usaha membuat aneka makanan seperti keripik sirip, keripik kulit, abon dan dendeng dengan memanfaatkan ikan afkir. Al hasil, berkat jerih payahnya ikan yang nilai jualnya rendah menjadi berlipat-lipat. Ikan afkir yang hanya laku sekitar Rp 10 ribu per kilogram jika dijual. Adapun harga abon, seriping dan dendeng ikan laku antara Rp 80 ribu hingga Rp 100 ribu perkilogram.

Ikan afkir yang dimaksud adalah ikan yang sudah tidak laku dijual untuk konsumsi pecel lele. Ikan ini biasanya adalah jenis indukan yang sudah tak produktif lagi. ”Dari ikan ternyata bisa dioleh menjadi beragam makanan. Dagingnya bisa dibuat abon, sementara kulit dan sirip jadi seriping. Hingga kini, saya belum bisa memanfaatkan bagian duri dan kepala ikan, padahal duri ikan sebenarnya bisa dibuat tepung ikan,” ungkap Suraji.

Menurut dia, meski usaha yang tengah dirintis omzetnya masih sekitar 10 kilogram tiap minggu, namun ia yakin akan berkembang. Karena, makanan berbahan baku ikan memiliki beberapa keunggulannya. iantaranya, rendah kolesterol dan dapat meningkatkan kecerdasan, sehingga bisa dikonsumsi oleh semua usia, baik balita maupun lansia.

”Masih banyak orang yang belum tahu dengan produk kami. Orang lebih mengenal abon sapi dibandingkan ikan. Saat ini, kebanyakan pembeli adalah mereka yang sudag tahu akan manfaatnya. Selain menerima pesanan, kami mencoba menitipkan kepada warung, pasar swalayan untuk pemasaranya,” kata dia.

Kepala Bidang Perikanan pada Dinas Pertanian, Peternakan dan Perikanan (Dintankanak) Banjarnegara, Totok Setyo Winarno mengatakan, apa yang dilakukan Nyi Suraji merupakan salah bentuk industrilisasi di bidang perikanan. Pihaknya mengaku akan berupaya mengembangkan usaha seperti itu.

”Kami mencoba memfasilitasi agar ini bisa berkembang di Banjarnegara. Selain memberikan pelatihan produksi, pemasarannya juga kami bantu. Setidaknya ada lima usaha serupa di Banjarnegara, yakni di Kecamatan Rakit, Wanadadi, Banjarnegara dan Bawang,” ungkap dia.

Tentang Penulis

Leave A Response