Melihat Dieng Melalui Museum Kaliasa

Ditulis 16 Mar 2014 - 20:09 oleh Nanang BNC
MUSEUM:Pengunjung tengah memperhatian bebatuan jaman purba yang dipajang di Museum Kaliasa. Batu-batu itu merupakan (foto:ruhito)

MUSEUM:Pengunjung tengah memperhatian bebatuan jaman purba yang
dipajang di Museum Kaliasa. Batu-batu itu merupakan (foto:ruhito)

BANJARNEGARA (BanyumasNews.Com) – Kawasan wisata dataran tinggi Dieng yang menyimpan tidak kurang dari 21 objek wisata alam masih menjadi wisata andalan bagi daerah propinsi Jateng pada umumnya, ataupun dua Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo pada khususnya. Objek wisata alam kawasan Dieng yang masuk Banjarnegara.

sekitar sembilan objek meliputi Curug Sirawe, Kawah Sikidang, Telaga Balekambang, Telaga Merdada, Telaga Dringo, Kawah Sileri, Kawah Candradimuka, Sumur Jalatunda dan Gua Jimat. Adapun, objek wisata alam yang ada di Kabupaten Wonosobo ada sekitar 12 objek, meliputi telaga warna, telaga pengilon, gua Semar, gua sumur, gua jaran, batu tulis/batu Semar, kawah sikendang, telaga cebong, air terjun sikarim,air terjun seloka, Gunung Sikunir dan telaga menjer.

VULKANOLOGI: Sejumlah bebatuan vulkoanologi banyak dipajang di Museum Kalaiasa. (foto ruhito)

VULKANOLOGI: Sejumlah bebatuan vulkoanologi banyak dipajang di Museum
Kalaiasa. (foto ruhito)

Dingin, tenang, dan sejuk merupakan gambaran yang pas untuk Dieng. Berada pada ketinggian 2000 meter dari permukaan laut. Dataran tinggi Dieng yang masuk dalam wilayah Kabupaten Banjarnegara ini menawarkan suasana untuk berlibur yang berbeda. Memiliki udara sejuk dengan suhu terendah minus 30 derajat, membuat wilayah ini senantiasa memberikan kesejukan dan kesegaran udara.

Selain itu, obyek wisata Dieng telah bertambah dengan adanya Museum Dieng Kaliasa yang diresmikan oleh Mentri Budaya dan Pariwisata (Budpar), Jero Wacik, pada akhir Juli 2008 silam. Jika mengunjungi museum tersebut kita bisa melihat gambaran tentang Dieng, baik sejarah maupun budaya yang dilukiskan dalam patung peninggalan purba ataupun gambar-gambar. Diantaranya, sejarah Dieng,kehidupan masyarakat sehari-hari, hewan khas dieng, kesenian tradisional maupun etnografi tentang percandian.

Dalam Prasasti Kuti yang berangka tahun 809 Masehi disebutkan bahwa Dieng merupakan pusat kegiatan religi dan spiritual umat Hindu. Dieng sendiri berasal dari kata Di Hyang. Yang memiliki arti dataran tinggi tempat tinggal para dewa atau leluhur. Karena itu di kawasan

ini banyak sekali ditemukan cand-candi yang menjadi simbol tempat pemujaan. Ada tiga dewa yang dipuja oleh masyarakat Hindu di Dieng.Mereka adalah dewa-dewa yang disebut Trimurti. Yaitu Brahma sebagai pencipta alam semesta, Wisnu sebagai pengatur alam semesta, dan Siwa sebagai pengatur kembalinya isi dan alam semesta kepada alam keabadian. Saya melihat dewa-dewa tersebut disimbolkan pada berbagaiukiran yang terpahat pada candi-candi yang ada di Dieng dan arca-arca.

Salah satunya adalah Kompleks Candi Arjuna. Dalam kompleks ini terdapat lima candi. Antara lain Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, Candi Sembadra, dan Candi Semar.

Misalnya, Siwa yang diwujudkan dalam bentuk Nandi (kerbau), Trisirah (dewa berkepala tiga), atau Siwanandisawahanamurti (dewa yang duduk di atas Nandi). Arca-arca tersebut bisa ditemui di dalam Museum Dieng Kaliasa.

Lelah usai mengelilingi museum, pengunjung langsung bisa beristirahat di kafe Kaliasa yang terletak di bagian atas kompleks museum. Di sana kita bisa menikmati minumah khas Dieng, Purwaceng. Selain bisa menghangatkan badan, Purwaceng konon dipercaya dapat meningkatkan vitalistas kaum pria.

KOMPLEK CANDI: Kompleks candi Arjuna terlihat jelas dari kafe Kaliasa di kompleks Museum Kaliasa Dieng. Pemandangan tersebut menambah pengunjung kerasan istirahat. (foto ruhito)

KOMPLEK CANDI: Kompleks candi Arjuna terlihat jelas dari kafe Kaliasa di
kompleks Museum Kaliasa Dieng. Pemandangan tersebut menambah
pengunjung kerasan istirahat. (foto ruhito)

Dari tempat ini juga yang berada di sebuah bangunan tinggi yang ada di komplek museum kita bisa melihat hamparan tanaman sayuran kentang nan hijau dan luas. Semilir angin memanjakan seiring langkah kaki petani sayur mayur. Kehidupan di Dieng terasa damai dan masyarakat yang saya temui begitu ramah dan bersahaja. Andapun bisa merasakannya jika mau mengunjungi tanah para dewa tersebut.

Apalagi, kawasan Dieng juga memiliki atraksi budaya berupahasil olah budi manusia, misalnya seni pertunjukan tari Angguk, tari angguk dan tradisi cukur rambut gembel serta beraneka ragam seni kerajinan. Tari topeng yang dipentaskan pada pentas ataupun ritual tertentu. Dengan mengenakan topeng para pemain membawakan cerita

Panji. Cerita Panji berisi tentang pengembaraan Panji Asmarabangun atau Inukertapati dari kerajaan Kuripan yang harus berkelana dan menyamar menceritakan dambaan hatinya.

Cerita panji merupakan cerita asli jawa bercerita seputarkerajaan Kediri, Daha, Kuripan dan Panjalu populer sejak sekitar zaman Majapahit (abad 13-15). Cerita ini banyak terdapat ragamnya dan berkembang diseluruh nusantara hingga Kamboja.

Barongan macam ini ada di dalam tari lengger. Daya tariknya adalah keuatan maguis yang dipercaya dapat merasuki pemainnya. Waku membauatnya, kepala barongan disemayamkan dahulu di tempat wingit untuk mendapatkan kekuatan magiz. Sedangkan peninggalan bersejarahmeliputi kelompok Candi Arjuna. Harga tiket masuk museum Rp 4 ribu (Ruhito)

 

Tentang Penulis

Leave A Response