Petani Kentang Banjarnegara Beralih Menjadi Penangkar Benih

Ditulis 14 Mar 2014 - 23:20 oleh Nanang BNC
PETANI PEREMPUAN: Kaum perempuan yang menjadi buruh pertanian kentang di dataran Tinggi Dieng tengah istirahat. Mereka kebanyak berasal dari luar Kecamatan Batur. (foto Ruhito)

PETANI PEREMPUAN: Kaum perempuan yang menjadi buruh pertanian kentang di
dataran Tinggi Dieng tengah istirahat. Mereka kebanyak berasal dari
luar Kecamatan Batur. (foto Ruhito)

BANJARNEGARA (BanyumasNews.Com) – Sejumlah petani kentang di wilayah Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara mulai beralih ke penangkaran benih. Hal ini dilakukan karena terus merosotnya hasil panen akibat menurunnya kualitas tanah.

”Akibat menurunnya kualitas tanah membuat biaya tanam kentang yang semakin hari semakin mahal. Intensitas perawatan, baik pemupukan dan obat-obatan terus naik karena munculnya hama,” ungkap tokoh masyarakat Desa Sumberrejo, Kecamatan Batur, Ibrohim.

Disebutkan olehnya, saat ini ada pesanan benih kentang dari petani Brebes dan Tegal. Pada bulan Februari kemarin, diperkirakan sudah terjual lebih dari 20 ton bibit kentang. ”Itu belum yang sudah pesan namun bibitnya masih menunggu tumbuh dulu,” kata Ibrohim yang juga

BURUH KENTANG: Para buruh pertanian kentang tengah menaruh benih kentang pada lahan. Kaum perempuan banyak yang terjun menjadi buruh pertanian. (foto Ruhito)

BURUH KENTANG: Para buruh pertanian kentang tengah menaruh benih
kentang pada lahan. Kaum perempuan banyak yang terjun menjadi buruh
pertanian. (foto Ruhito)

Kades Sumberejo. Harga jual bibit kentang itu sendiri sangat menggiurkan dan tak kalah menguntungkan. Untuk 1 kg bibit kentang generasi 5 atau G5, dijual dengan Rp 12 ribu, sedangkan untuk G4, dijual dengan harga Rp 15 ribu per kilogramnya.

Selain itu, petani juga mulai melakukan pergiliran tanaman. Biasanya, variasi tanaman dilakukan oleh petani yang memiliki lahan lebih dari satu petak. ”Banyak petani sudah melakukannya. Terkadang, petani melakukan giliran jenis tanaman yang ditanam dengan harapan agar kondisi tanah atau unsur hara pada tanah kembali normal setelah dihujani obat kimia tanaman,” katanya.

Menurut dia, jika memiliki modal, beberapa petani yang mengistirahatkan lahannya memilih menjadi penagkar bibit kentang. Jika tidak memiliki modal, mereka menjadi buruh penangkar bibit sehingga tetap tidak ada waktu ‘nganggur’ bagi warga.

Ahmad Waluyo, salah seorang petani mengatakan, beberapa jenis tanaman selain kentang yang ditanam diantaranya wortel, seledri, muncang. ”Dulu petani lebih memilih kentang karena nilai ekonomis lebih tinggi.

”Saya sudah melakukan rotasi jenis tanaman kentang dengan wortel dengan harapan ada jeda waktu istirahat bagi tanah. Wortel,seledri, muncang yang harganya juga lumayan ketimbang selalu menanam kentang namun harganya naik turun dan di sisi lainnya harga obat semakin mahal,” katanya. (Ruhito)

Tentang Penulis

Leave A Response