Padi Gogo Aromatik UNSOED,Dijamin Tahan Wereng

Ditulis 13 Mar 2014 - 13:44 oleh Nanang BNC
TAHAN WERENG: Pencipta padi aromatik berfoto bersama, sambil pamer hasil karyanya (foto;ein)

TAHAN WERENG: Pencipta padi aromatik berfoto bersama, sambil pamer hasil karyanya (foto;ein)

PURWOKERTO (BanyumasNews.Com) – Dua Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) Purwokerto Jawa Tengah,Prof.Dr.Ir.Suwarto,MS. dan Prof.Ir.Totok Agung Dwi Haryanto, M.P.Ph.D  berhasil menciptakan padi rakitan yang merupakan sister line Inpago JSPGA 19, (kerabat dekat atau galur sekerabat atau saudara) dari Inpago Unsoed 1 yang telah dilepas sebagai varietas unggul nasional beberapa waktu lalu. Selain memiliki keunggulan dalam hal kualitas hasil berupa tekstur nasi sangat pulen, beraroma wangi, dan berasa enak.

Inpago JSPGA 19 yang telah mendapatkan hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) ini juga cukup toleran terhadap serangan hama wereng pada musim ini.
Kemampuan bertahan ini juga dipengaruhi oleh intensifnya pemeliharaan petani yang mau menerapkan berbagai teknologi pengendalian hama-penyakit dan kemauan mengakses  informasi dari berbagai sumber.
Menurut Tim Ipteks bagi Masyarakat (IBM) Produksi Beras Aromatik UNSOED yang terdiri dari Totok Agung Dwi Haryanto, Ir.Ponendi Hidayat, Dyah Susanti,SP.M.P, dan Agus Riyanto, SP.M.Si,memadukan penggunaan varietas unggul, aplikasi pestisida organiknon-pabrikan, dan pestisida kimia, serta memperhatikan siklus hidup wereng, menjadi kunci bagi keberhasilan dalam mempertahankan tanaman padinya dari kehilangan hasil akibat serangan wereng.
 Aplikasi pestisida organik yang bersifat melekat pada saat telur dan pestisida kimia pada fase serangga dewasa (imago) cukup ampuh menghambat perkembangan populasi wereng (Nilaparvata lugens) di tiap-tiap pangkal rumpun padi Inpago JSPGA 19.
Seperti yang diakui seorang petani bernama Kusmono,meski prihatin dengan nasib tetangga-tetangga sawahnya yang hanya dapat memanen 30-50% hasil tanaman padinya, Kusmono masih bisa tersenyum lega.
Petani dari Desa Dawuhan Kecamatan Padamara Kabupaten
Purbalingga Jawa Tengah ini masih bisa memanen hampir 100% hasil jerih payahnya selama 94 hari setelah tanam.  Inpago JSPGA 19, padi aromatik yang ditanam Pak Kusmono sejak Desember 2013 lalu masih dapat bertahan dari ganasnya serangan wereng batang coklat yang merata di seluruh areal tanam padi di wilayah Jawa.
Buah keuletan Pak Kusmono, menghasilkan gabah kering panen setara 5,9 ton per hektar pada musim tanam kali ini, yang rata-rata petani di sekitarnya hanya dapat memanen setara 2 -3 ton per ha akibat berbagai kondisi alam yang
tak menguntungkan.
Keterbatasan air, keterlambatan ketersediaan pupuk, serangan berbagai macam hama dan penyakit di antaranya wereng batang coklat, sundep, walang sangit, burung, blas, dan hawar daun bakteri (penyakit pada daun padi yang disebabkan oleh bakteri) terus hadir selama fase pertumbuhan dan pembentukan hasil padinya.
Program Ipteks bagi Masyarakat (IbM) Produksi Beras Aromatik yang diketuai oleh Prof. Ir.Totok Agung Dwi Haryanto,M.P.,Ph.D ini merupakan salah satu judul IbM yang memenangkan kompetisi program Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2013.
Pengenalan tiga varietas padi gogo aromatik yaitu Inpago Unsoed 1, Inpago JSPGA 136, dan Inpago JSPGA 19 dan pelatihan teknologi produksi beras aromatik pada
lahan percontohan telah mendorong petani yang tergabung pada empat kelompok tani (Karya Utama I – IV) dalam Gapoktan Karya Utama di Desa Dawuhan Kecamatan Padamara Kabupaten Purbalingga Jawa Tengah untuk menanam di lahan
masing-masing pada musim tanam berikutnya.
Tentang Penulis

Leave A Response