PMTAS Fokus Bagi Siswa dari Keluarga Miskin dan Kurang Gizi

Ditulis 12 Mar 2014 - 18:09 oleh Yit BNC

PURBALINGGA (BanyumasNews.Com) – Selain memenuhi nilai gizi, Penyediaan Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMTAS) juga harus memperhatikan penyajian, pengemasan dan kelezatan rasa. Sebab, jika anak-anak tidak suka, PMTAS ini akan sia-sia baik dari sisi manfaat maupun dana yang telah dikeluarkan.

“Pernah suatu ketika di sebuah SD di perkotaan, makanan tambahan itu malah buat balang-balangan (lempar-lemparan) karena tidak menarik bagi anak. Ini kan ironis,” ujar Staf Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (Bapermasdes) Provinsi Jawa Tengah, Giyono, saat memberikan sambutannya dalam Sosialisasi Pemberdayaan Masyarakat Pemberian Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMTAS) di Graha Srikandi, belum lama ini.

Program PMTAS ini pernah dilaksanakan pada jaman Orde Baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto. Sasaran PMTAS saat itu, para siswa miskin di daerah terpencil atau tertinggal. Sumber dana berasal dari APBN yang langsung masuk ke rekening sekolah.

Kurang Gizi

            “Sekarang, peserta PMTAS lebih fokus pada siswa dari keluarga miskin yang kurang gizi. Tak hanya di pelosok tapi juga di perkotaan. Sumber dana tak hanya dari APBN, tapi juga APBD dan bahkan terbuka untuk CSR perusahaan swasta/BUMN/BUMD maupun perseorangan atau yayasan,” jelas Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial Budaya pada Bapermasdes Kabupaten Purbalingga, Eko Sugeng Meiyono.

Karena sumber dana lebih luas, kegiatan PMTAS kali ini ditambah kata Pemberdayaan Masyarakat di depannya. Program ini dilaksanakan oleh tim terpadu yang terdiri dari Bapermasdes, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan (termasuk UPT Kecamatan dan sekolah-sekolah), serta pihak pemerintahan kecamatan dan desa. TP PKK dari tingkat Kabupaten hingga desa juga masuk dalam tim ini. Pengemasan, penyajian dan rasa makanan tambahan ini menjadi tantangan bagi TP PKK.

“PMTAS ini untuk mengatasi anak-anak usia sekolah terutama SD / MI yang kurang gizi karena faktor kemiskinan. Disamping itu juga anak-anak ini sering mengalami kecacingan. Kurang gizi dan kecacingan ini sangat menghambat anak-anak untuk maju baik dari sisi kesehatan maupun kecerdasan,” jelasnya.

Selain itu, Program PMTAS yang mulai dilaksanakan lagi di Purbalingga sejak tahun 2012, juga dimaksudkan untuk mendidik anak berakhlak baik, mulai dengan melakasanakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) seperti cuci tangan sebelum makan, membiasakan makan-makanan yang halal, berdoa sebelum makan, sekaligus mengenal dan mencintai makanan lokal tradisional. Memang, tantangan terberat, seringkali manakan lokal tradisional yang relatif sehat, buatan tangan dan bebas zat-zat aditif berbahaya, seringkali kurang diminati anak-anak karena faktor kemasan, penyajian dan rasa.

“Sebenarnya, seringkali anak-anak ini bukan kurang gizi tapi kurang seimbang gizinya, meskipun mereka dari keluarga mampu. Misal, suka makan mie instant, jajanan-jajanan yang mengandung banyak pengawet, msg, pewarna dan sebagainya,” jelasnya.

Partisipasi Masyarakat

Meski ada indikasi anak-anak dari keluarga mampu juga kurang gizi, namun program PM PMTAS diprioritaskan untuk anak-anak dari keluarga miskin. Faktor utama karena program ini membutuhkan dana yang sangat besar, sementara dana yang tersedia terbatas. Karena itulah, CSR, yayasan dan perseorang didorong untuk ikut berpartisipasi.

Sementara itu, Kepala Seksi Kesiswaan Dinas Pendidikan Kabupaten Purbalingga, Kasir, mengatakan tahun 2014 ini, program PM PMTAS dijatah anggaran sebesar Rp 40 juta untuk satu unit sekolahan di Desa Sirau Kecamatan Karangmoncol. Sebelumnya, tahun 2012 ada enam desa, tahun 2013 ada dua desa. Semakin sedikitnya desa, bukan berarti terjadi penurunan, hanya saja dipilih desa dengan sekolahan yang paling banyak memiliki anak-anak dari keluarga tidak mampu agar lebih fokus dari sisi manfaat dan pelaksanaannya. (BNC)

Tentang Penulis

Leave A Response