Budidaya Kopi Robusta di Lahan Rawan Longsor

Ditulis 11 Mar 2014 - 11:49 oleh Nanang BNC
KOPI : Bupati Banjarnegara Sutedjo Slamet Utomo didampingi GM Indonesia Power UBP Mrica Del Eviandra melihat tanaman kopi hasil penghijauan lahan kritis di DAS Serayu. (foto Ruhito)

KOPI : Bupati Banjarnegara Sutedjo Slamet Utomo didampingi GM Indonesia Power UBP Mrica Del Eviandra melihat tanaman kopi hasil penghijauan lahan kritis di DAS Serayu. (foto Ruhito)

BANJARNEGARA (BanyumasNews.Com) – Sejumlah warga di beberapa desa di Banjarnegara yang membudidayakan kopi robusta kini mulai merasakan hasilnya. Semula, lahan mereka yang dibirkan kosong akibat rawan bencana longsor kini sudah memberikan hasil tiap bulannya.

”Setelah 2,5 tahun, kami baru bisa menikmati hasilnya. Ternyata lahan yang tadinya kurang bermanfaat, mampu memberikan penghasilan bagi kami. Ada dua fungsi dari penanaman ini, yakni untuk menahan longsor dan peningkatan ekonomi,”ungkap Ketua Kelompok Tani Sidomulyo, Dusun Kecepit, Desa Kubang, Kecamatan Wanayasa, selaku penglola perkebunan kopi warga, Ali Mustofa.

Bahkan, lanjut dia, berkat pengembangan kopi ini warga masyarakat desa setempat kini mampu memberikan pendidikan yang lebih tinggi, bahkan anggota kelompok tani ini mampu menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi. ”Sebelumnya, sangat jarang orang desa mau kuliah, kalau bukan orang kaya yang nggak bisa kuliah. Tetapi sekarang sudah banyak yang mampu untuk membiayai kuliah anaknya,” ujar dia.

Menurut dia, kelompoknya sudah memiliki 25 anggota, mereka membagi lahannya menjadi beberapa bidang , setiap bidangnya sudah mampu menghasilkan kopi kering sekitar 30 kilogram per bulan. Saat panen raya, kelompoknya mampu menghasilkan hingga enam kuintal kopi kering. ”Harga jualnya bervariasi, kalau basah sekitar Rp 4 ribu per kilogram, tetapi jika sudah kering mencapai Rp 18 ribu per kilogram,” katanya.

Petani setempat berharap ada bantuan pelatihan pengolahan pasca panen hingga pengepakan atau pengemasan. Sehingga selain mampu menjaga kualitas rasa, mereka juga akan memiliki nilai jual yang lebih baik. ”Kita harapkan ada pelatihan lanjutan, sehingga ekonomi kami lebih baik. Produk kami juga bisa terjual ke luar daerah dengan kemasan yang menarik, tidak seperti saat ini,”ujarnya.

Bupati Banjarnegara Sutedjo Slamet Utomo saat berkunjung ke perkebunan kopi mengatakan, tanaman kopi dinilai sangat tepat sebagai tanaman konservasi di lokasi rawan bencana. Selain dapat menahan longsor, juga memberikan nilai tambah secara perekonomian. (Ruhito)
Tentang Penulis

Leave A Response